Bab 11 Manajemen Persediaan
11 Pages

Bab 11 Manajemen Persediaan

Course: MGMT 12085, Spring 2010

School: Universitas Indonesia

Word Count: 2880

Rating:

Document Preview

BAB 11 MANAJEMEN PERSEDIAAN Kegiatan bisnis yang memerlukan manajemen persediaan adalah bidang industri manufaktur dan perdagangan. Dalam industri manufaktur, persediaan terdiri dari: (1)persediaan bahan baku, (2)persediaan barang dalam proses, (3)persediaan barang jadi, dan (4)persediaan bahan pembantu. Sedangkan dalam perusahaan dagang yang dimaksud persediaan adalah persediaan barang dagangan. Dalam perusahaan...

Unformatted Document Excerpt
Coursehero >> Indonesia >> Universitas Indonesia >> MGMT 12085

Course Hero has millions of student submitted documents similar to the one
below including study guides, practice problems, reference materials, practice exams, textbook help and tutor support.

Course Hero has millions of student submitted documents similar to the one below including study guides, practice problems, reference materials, practice exams, textbook help and tutor support.

11 BAB MANAJEMEN PERSEDIAAN Kegiatan bisnis yang memerlukan manajemen persediaan adalah bidang industri manufaktur dan perdagangan. Dalam industri manufaktur, persediaan terdiri dari: (1)persediaan bahan baku, (2)persediaan barang dalam proses, (3)persediaan barang jadi, dan (4)persediaan bahan pembantu. Sedangkan dalam perusahaan dagang yang dimaksud persediaan adalah persediaan barang dagangan. Dalam perusahaan industri manufaktur, bahan baku diproses menjadi barang jadi, kemudian dijual. Proses ini memerlukan waktu panjang sehingga modal yang diinvestasikan dalam persediaan cukup besar dan perputarannya relatif lambat. Kondisi yang demikian manajemen persediaan harus mendapatkan perhatian manajemen yang sangat serius. Kelebihan persediaan akan mengakibatkan pemborosan penggunaan modal, sedangkan kekurangan persediaan proses produksi bisa terganggu. Mengelola persediaan dalam perusahaan industri manufaktur relatif lebih sulit dibanding dengan mengelola persediaan dalam perusahaan dagang. Dalam perusahaan dagang, persediaan barang dagangan dibeli untuk dijual; waktu yang dibutuhkan relatif pendek, sehingga modal yang digunakan berputar relatif cepat. Manajemen persediaan dalam perusahaan industri manufaktur dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu model Economic Order Quantity atau EOQ dan Tepat Waktu atau Just in Time (JIT). Penggunaan model tersebut tergantung pada kebijakan manajemen terhadap pemasok. Jika pemasok diperlukan sebagai pesaing, yaitu mencari pemasok yang paling murah dapat menyediakan bahan baku, maka model EOQ lazim digunakan. Tetapi jika pemasok diperlakukan sebagai partner bisnis yang setia dan dinyatakan satu kesatuan dalam proses produksi, maka model JIT lazim digunakan. 1. (EOQ) Model Economic Order Quantity Pada umumnya perusahaan menggunakan cara tradisional dalam mengelola persediaan, yaitu dengan cara memiliki persediaan minimal untuk mendukung kelancaran proses produksi. Di samping itu, perusahaan juga memperhitungkan biaya persediaan yang paling ekonomis yang dikenal dengan istilah Economic Order Quantity atau EOQ. EOQ akan menjawab pertanyaan berapa banyak kualitas bahan baku yang harus dipesan dan berapa biayanya yang paling murah atau paling ekonomis. Perusahaan manufaktur pada umumnya memperhitungkan empat macam persediaan, yaitu persediaan bahan baku, persediaan bahan pembantu, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Pada umumnya persediaan bahan pembantu jumlahnya relatif kecil, maka tidak dibahas dalam kajian ini. Persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan persediaan barang jadi harus dihitung tingkat perputarannya (turn overnya) tujuannya adalah untuk pengendalian. Teknik perhitungan perputaran bahan sebagai berikut: Bahan Baku digunakan dalam proses produksi Perputaran Persediaan = Bahan Baku Rata-rata persediaan bahan baku Harga Pokok Produksi Perputaran Persediaan = Barang dalam Proses Rata-rata persediaan barang dalam proses Harga pokok penjualan atau penjualan Perputaran Persediaan = Barang Jadi Rata-rata persediaan barang jadi Harga Pokok penjualan atau Penjualan Perputaran Persediaan = Barang Dagangan Rata-rata persediaan barang dagangan Dalam kegiatan manufaktur, pengelolaan bahan baku merupakan unsur penting manajemen yang harus dikelola secara profesional. Besar kecilnya persediaan bahan baku berhubungan langsung dengan modal yang diinvestasikan ke dalamnya; makin besar persediaan bahan baku, makin besar investasi dan makin besar beban biaya modal, dan sebaliknya. Besar kecilnya nilai persediaan bahan baku dipengaruhi oleh: 1) Estimasi dan perencanaan volume penjualan 2) Estimasi dan perencanaan volume produksi 3) Estimasi dan perencanaan kebutuhan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi 4) Biaya order pembelian 5) Biaya penyimpanan 6) Harga bahan baku Dalam mengelola bahan baku dibutuhkan dua unsur biaya variabel utama, yaitu biaya pesanan (procurement cost atau set up cost) dan biaya penyimpanan (storage cost atau carrying cost). Yang termasuk biaya pesanan antara lain adalah: 1) Biaya proses pemesanan bahan baku 2) Biaya pengiriman pesanan 3) Biaya penerimaan bahan baku yang dipesan 4) Biaya untuk memproses pembayaran bahan baku yang dibeli Biaya-biaya tersebut makin besar jika jumlah tiap-tiap pesanan kecil, atau makin kecil jumlah bahan baku tiap-tiap pesanan, makin besar jumlah biaya pesanan dalam suatu periode tertentu, misalnya dalam satu tahun. Sedangkan yang termasuk biaya penyimpanan (penggudangan) adalah: 1) Biaya untuk mengelola bahan baku (biaya menimbang dan menghitung) 2) Biaya sewa gudang atau penyusutan gudang 3) Biaya pemeliharaan dan penyelamatan bahan baku 4) Biaya asuransi 5) Biaya pajak 6) Biaya modal Manajemen harus menghitung biaya yang paling ekonomis pada setiap jumlah barang yang dibeli (dipesan). Biaya tersebut adalah saling hubungan antara harga bahan baku, biaya penyimpanan yang umumnya dihitung berdasar persentase tertentu dari nilai persediaan rata-rata, jumlah bahan baku yang dibutuhkan dalam satu periode misalnya dalam satu tahun, dan biaya pesanan. Teknik perhitungan ini lazim disebut Economic Order Quantity atau EOQ dengan rumus: EOQ = 2XRXS PXI Di mana: R = Requirement of raw material, atau jumlah bahan baku yang dibutuhkan selama satu tahun periode, misalnya 1.200 unit S = Set up cost, atau biaya pesanan setiap kali pemesanan, misalnya Rp 15 P = Price, atau harga bahan baku per satuan, misalnya Rp 1 per unit I = Inventory, atau biaya memiliki persediaan yang terdiri dari: biaya keuangan 10%, biaya penyusutan fisik 10%, biaya modal atau biaya bunga pinjaman 10%, biaya penanganan bahan 2%, biaya pajak kekayaan 2%, biaya asuransi 2%, dan biaya penggudangan 3%, biaya lain-lain 1% (atau total biaya memiliki persediaan 40% dan biaya diperhitungkan dari nilai persediaan rata-rata). EOQ = 2 X 1.200 X 15 = 36.000 = 90.000 = 300 unit = 0,40 X 1 = 0,40 Dengan diketahui angka 300 unit setiap pesanan, berarti dalam satu tahun dapat dilakukan 4 kali pesanan. Dalam 4 kali pesanan itu biaya persediaan bahan baku adalah yang paling rendah atau paling ekonomis. Rincian perhitungan biaya persediaan dapat disajikan dalam tabel 12.1 Tabel 11.1 Perhitungan Biaya Persediaan yang paling Ekonomis Frekwensi pemesanan bahan baku Jumlah bahan baku yang dipesan Rata-rata persediaan dalam unit Nilai persediaan rata-rata 3X 400 unit #20 0 *Rp 200 4X 300 unit 150 Rp 150 Rp 60 Rp 60 5 X 240 unit 120 Rp 120 Rp 75 Rp 48 Biaya pesanan Biaya penyimpanan Jumlah Biaya persediaan **Rp 45 ***Rp 80 Rp 125 Rp 120 Rp 123 Keterangan: Teknik perhitungan 3X pesan #200 unit = (400unit / 2) * Rp 200 = 200 unit x Rp 1 ** Rp 45 = 3 kali pesan @ Rp 15 per sekali pesan *** Rp 80 = 40% X Rp Rp 200 nilai persediaan rata rata Teknik perhitungan untuk 4X pesan dan 5X pesan seperti pada 3X pesan. Jika biaya penyimpanan dinyatakan dalam Rupiah per unit (missal Rp 0,4), maka EOQ dapat dihitung sebagai berikut. = = = = 2 X 1.200 X 15 36.000 300 unit 0,4 Dalam satu tahun mengadakan pesanan 4X yaitu kebutuhan satu tahun 1.200 unit dibagi 300 unit, atau besarnya penggunaan bahan per bulan sebesar 100 unit atau setiap minggu sebesar 25 unit. Dengan demikian, pesanan dilakukan setiap12 minggu atau 3 bulan sekali. Jika EOQ 300 unit dan kebutuhan bahan baku selama satu periode (satu tahun) 1.200 unit, maka jumlah pesanan adalah 4X pesanan. Pada 4X pesanan biaya persediaan yang paling ekonomis dapat disajikan dalam tabel 12.1 Berdasarkan perhitungan dalam tabel 12.1 tersebut, maka biaya persediaan yang paling ekonomis adalah Rp 120, yaitu pada tingkat pesanan 400 unit sekali pesan, dan perusahaan hanya memesan 4X. Pada 3X kali pesanan biaya persediaan sebesar Rp 125, dan pada 5X pesanan, biaya persediaan sebesar Rp 123. 2. Titik (Recorder Point) Pemesanan Kembali Dalam pengelolaan persediaan bahan baku, perusahaan harus mempunyai persediaan besi (safety stock), yaitu suatu jumlah persediaan bahan baku yang harus selalu ada dalam gudang untuk menjaga kemungkinan terlambatnya bahan baku yang di pesan. Di samping itu, perusahaan juga harus memperhitungkan penggunaan bahan baku selama waktu menunggu datangnya bahan baku yang di pesan (lead time). Titik pemesanan kembali adalah titik dimana pesanan bahan baku harus dilakukan. Hal ini merupakan fungsi dari EOQ, waktu tunggu pesanan dating atau tenggang waktu, dan persediaan besi atau persediaan pengaman (safety stock). Ketiga unsure tersebut dapat di sajikan rumus sebagai berikut: Rumus titik pemesanan kembali: (Tingkat penggunaan bahan selama tenggang waktu + besi) Misalnya lead time 6 minggu, dan kebutuhan bahan baku tiap minggu 25 unit, dan safety stock ditentukan 40% dari kebutuhan selama lead time, reorder point adalah sebagai berikut: Re-order point (ROP) = (6 X 25) + 40%(6 X 25) = 150 + 60 = 210 unit Safety stock juga dapat ditentukan berdasr kebutuhan bahan baku dalam beberapa minggu, misalnya dalam 5 minggu, kebutuhan bahan baku tiap minggu 25 unit, maka: Re-order point (ROP) = (6 X 25) + (5 X25) = 150 + 125 = 275 unit Yang berhak menentukan besarnya safety stock dan lead time adalah manajer pabrik berdasar pengalaman dari waktu ke waktu dan pengetrapan teori dalam praktik produksi. Pada hakikatnya praktik produksi menentukan teori produksi. Oleh sebab itu, walau jenis produksinya sama, praktiknya belum tentu sama, dan teori untuk memecahkan masalah juga tiadak sama. Secara grafis, penentuan jumlah pesanan dengan biaya yang paling ekonomis pada tabel 12.1 dapat disajikan dalam gambar 12.1. Gambar 11.1 Jumlah pesanan yang paling ekonomis Rp Total biaya persediaan Biaya Pengudangan (carrying cost) 60 Biaya Pesanan 240 5X 300 4X 400 3X pesan Unit Keterangan: Makin sering melakukan pesanan makin besar biaya pemesanan Makin sering melakukan pemesanan, makin kecil biaya penyimpanan Titik pemesanan kembali (reorder point), jika safety stock dinyatakan 5 minggu kali kebutuhan per minggu atau sebesar 125 unit, dan tenggang waktu pemesanan diterima 6 minggu kali kebutuhan per minggu sebesar 150 minggu, maka titik pemesanan kembali sebesar 275 unit. Jumlah pesanan yang paling ekonomis adalah sebesar 725 unit yaitu dari perhitungan EOQ 600 unit ditambah 125 persediaan besi (safety stock). Hubungan titik pemesanan kembali, persediaan besi dan persediaan maksimum dapat disajikan dalam gambar 12.2. Gambar 11.2 Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) Unit 575 Titik 275 pesan 125 Persediaan maksimum = 300 + 275 1 Persediaan besi Waktu tunggu 2 3 4 Waktu Pesan (Minggu) 3. Biaya Kehabisan Persediaan Perusahaan takut bila terjadi kehabisan persediaan,. Bila perusahaan kehabisan persediaan maka akan melibatkan analisis empat faktor yaitu: (1) siklus persediaan per tahun, (2) unit kehabisan persediaan, (3) kemungkinan kehabisan persediaan, dan (4) biaya kehabisan persediaan per unit. Multiplier dari keempat faktor tersebut disebut biaya kehabisan persediaan. Dengan demikian, biaya kehabisan persediaan dapat disajikan dengan perhitungan: Biaya kehabisan = (siklus persediaan per tahun unit x kehabisan persediaan x kemungkinan kehabisan persediaan x biaya kehabisan persediaan per unit) Siklus persediaan per tahun = (kebutuhan bahan baku per tahun / EOQ) Unit kehabisan persediaan = (pemakaian bahan baku harian atau mingguan unit bahan baku tenggang waktu atau lead time) Kemungkinan kehabisan persediaan adalah probabilitas atas pemakain bahan baku harian Biaya kehabisan persediaan ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan manajer pembelian Pada tabel ilustrasi diatas menunjukkan bahwa kebutuhan bahan selama satu tahun 1.200 unit, EOQ 300 unit, selama satu tahun dilakukan pesanan 4X atau setiap 3 bulan atau 12 minggu; kebutuhan bahan per minggu (300 unit / 12 minggu) = 25 unit. Waktu tunggu datangnya pesanan 6 minggu atau (6 x 25 unit) = 150 unit, dan penggunaan maksimum per minggu 30 unit atau (6 x 30 unit) = 180 unit, maka kehabisan persediaan dalam unit adalah 180 unit dikurangi 150 unit sama dengan 30 unit. Jika diketahui bahwa kemungkinan distribusi pemakaian mingguan adalah: Pemakaian Mingguan 30 25 20 10 Kemungkinan 0,2 0,5 0,2 0,1 Manajer produksi menetapkan kemungkinan pemakaian harian 0,2 dan biaya kehabisan persediaan per unit Rp 2,083. Berdasarkan informasi yang tersedia itu dapat dihitung biaya kehabisan persediaan: (4 x 30 x 0,2 x Rp2,083) = Rp 50. Kemudian dapat dihitung besarnya persediaan pengaman dalam unit dengan rumus: (biaya kehabisan persediaan = biaya memiliki persediaanpersediaan pengaman). Biaya memiliki persediaan pengaman adalah biaya penyimpangan (carrying costs) kali harga bahan kali unit persediaan pengaman: (40% x Rp 1 x X) = Rp 0,4X. Besarnya unit persediaan pengaman: (Rp 50 = Rp 0,4X), jadi X atau unit persediaan pengaman = 125 unit. Keunggulan Model EOQ: 1) Dapat dijadikan dasar penukaran (trade off) antara biaya penyimpanan dengan biaya persiapan atau biaya pemesanan (setup cost). 2) Dapat mengatasi ketidakpastian penggunaan persediaan pengaman atau persediaan besi (safety stock). 3) Mudah diaplikasikan pada proses produksi yang outputnya telah memiliki standar tertentu dan diproduksi secara massal. 4) Lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat. Jika ada pasien yang sakit mendadak dan perlu obat segera, apotek rumah sakit dapat melayani dengan cepat. Kelemahan Model EOQ: Hakikatnya model EOQ adalah model yang menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan pada mereka, sehingga penggunaan model ini terjadi berganti-ganti pemasok, dan hal ini dapat mengganggu proses produksi. 4. Pengawasan Persediaan Hakikat dari pengawasan persediaan barang adalah mulai bahan baku dipesan sampai produk jadi digunakan oleh konsumen, yang terdiri dari pengawasan fisik, nilai, dan biaya. Pengawasan barang meliputi pengawasan bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, dan pengawasan barang jadi. Pengawasan bahan baku dan bahan pembantu dimulai dari bahan dipesan sampai dengan permintaan pemakaian bahan dalam proses produksi; pengawasan itu meliputi fisik (jumlah unit, kerusakan, keuangan, kehilangan, dan tingkat perputaran), biayanya, dan nilainya dala bentuk satuan uang. Pengawasan barang dalam proses meliputi produk cacat, produk rusak, produk hilang dalam proses produksi. Sedangkan pengawasan barang jadi meliputi rencana penjualan, jadwal pengiriman, dan pelayanan purna jual. Keempat jenis barang itu (bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, dan barang jadi) jumlah persediaannya secara fisik harus dikendalikan, agar tidak terjadi kekurangan dan kelebihan. Kekurangan persediaan bahan baku dan bahan pemabantu dapat mengakibatkan proses produksi terganggu, dan kekurangan persediaan barang jadi akan mengakibatkan kesulitan memenuhi permintaan konsumen. Sebaliknya jika terjadi kelebihan persediaan, dapat mengakibatkan modal yang ditanamkan dalam persediaan tersebut besar, dan biaya modalnya besar. 5. Atau JIT) Model Tepat Pada Waktu (Just In Time Model JIT adalah model yang menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sejati; mereka dididik, dibina, dan diperlakukan sebagai bagian dari perusahaan yang dipasok bahan bakunya. Pengertian JIT adalah persediaan dengan nilai nol atau mendekati nol, artinya perusahaan tidak menanggung biaya persediaan. Bahan baku akan tepat datang pada saat dibutuhakan. Model yang demikian tentu saja pemasoknya adalah pemasok yang setia dan profesional. Dengan model ini terjadi efisiensi biaya persediaan bahan baku. Dalam hubungannya dengan barang jadi (finished goods) model JIT juga diterapkan, dimana perusahaan hanya memproduksi sesuai dengan pesanan sehingga ia tidak mempnyai persediaan barang jadi. Dampaknya adalah penghematan biaya persediaan barang jadi. Model ini dapat diterapkan jika semua pihak yang terlibat dalam proses produk mulai dari pemasok sampai ke pelanggan memiliki motivasi kuat dalam pengendalian dan peningkatan kualitas berkelanjutan. JIT bertujuan mengubah budaya perusahaan, yaitu usaha menjadi organisasi terbaik dari atas ke bawah; setiap orang adalah pakar bagi pekerjaannya sendiri dengan mengendalikan berpikir kolektif dan kreatif. Hakikatnya, JIT adalah peningkatan proses untuk menghindari masalah kronis, yaitu masalah yang ditimbulkan dari pemasok bahan baku yang mengakibatkan kerugian; masalah ini sulit diidentifikasi dan umunya dibiarkan, maka menjadi penyakit kronis yang sulit diobati. Hubungan kerja sama jangka panjang dengan pemasok harus dibina, pemasok tidak boleh dieksploitir demi keuntungan sesaat. Prinsip dasar JIT adalah bahwa perusahaan tidak memiliki persediaan besi (safety stock). Dengan tidak memiliki safety stock, perusahaan dapat menghemat biaya persediaan. Dalam model ini pemasok menjadi mitra sejati yang loyal dan profesional karena setiap saat bahan baku diperlukan untuk proses produksi, pada saat itu pula bahan baku harus sudah ada di tempat proses produksi. Motivasi semua pihak yang demikian itu hanya bisa terjadi bila mereka berpikir kritis dialektik, artinya setiap akibat harus dicari sebabnya, dan setiap obyek dicari saling hubungannya dengan obyek yang lainnya. Ishikawa menemukan teori untuk menelusuri sebab yang dapat menggunakan Ishikawa Tulang Ikan. Ia menjelaskan bahwa setiap kegagalan pasti ada sebabnya, dan penyebab itu dapat ditelusuri dari tujuh aspek yaitu aspek: Tenaga manusia, kurang latihan, kurang pengetahuan, dan ketrampilan sehingga produktifitas rendah dan kualitas output rendah. Metode kerja, tanpa petunjuk kerja yang jelas sehingga pekerja (buruh) bekerja tidak mengikuti aturan. Peralatan, kurang perawatan, aus, dan teknologi sudah usang. Material, salah menentukan spesifikasi: kualitas dan jenis Lingkungan, kondisi kerja yang kurang menyenangkan atau kondisi kerja yang buruk yang mengakibatkan pekerja (buruh) tidak memiliki motivasi kerja. Pengukuran, kurang tepat mengadakan pengukuran hasil kerja. Kepemimpinan, gaya yang otokratik sehingga pekerja (buruh) tidak menghargai pemimpinnya (manajernya). Jika salah satu dari tujuh aspek rusak, maka outputnya rusak, apalagi ketujuh aspek tersebut rusak semua. Setiap kesalahan atau kegagalan harus diperbaikki secara terus menerus agar produktifitas kerja dapat ditingkatkan, mutu dapat ditingkatkan, dan nilai persediaan dapat dikurangi. Di samping itu, perbaikan secara terus menerus juga dapat meningkatkan rancangan produk, perbaikan proses produksi, perbaikan distribusi, perbaikan promosi, perbaikan harga, dan perbaikan layanan purna jual. Hubungan input dengan output berdasarkan gambar Ishikawa Tulang Ikan disajikan dalam gambar 12.3. Gambar 12.3. Ishikawa Tulang Ikan (dilengkapi) Pengukuran Kepemimpinan Lingkungan Metode Manusia Output Bahan baku Peralatan Keunggulan JIT Keunggulan JIT antara lain adalah: Menghilangkan pemborosan dengan cara memproduksi suatu produk hanya dalam kuantitas yang diminta pelanggan. Dampak persediaan, persediaan kecil, mungkin nol. Tata letak pabrik, dikelompokkan satu macam produk, atau sistem sel. Pengelompokkan karyawan, dalam satu jenis produk. Pemberdayaan karyawan, dilatih dan dididik terus menerus menyesuaikan dengan perubahan alat kerja dan metode kerja. Pengendalian mutu total, semua orang bertanggung jawab terhadap mutu produk. Kritik terhadap JIT Kritik terhadap JIT anatara lain: Sulit suatu perusahaan yang memproduksi secara massal hanya melayani pesanan pelanggan saja, misalnya pabrik gula, kopi, sabun dan sebagainya, dan hanya memproduksi satu jenis produk. Dalam industri sulit sekali suatu tidak memiliki persediaan, khususnya yang bahan bakunya impor. Sulit dilakukan oleh pabrik-pabrik pada umumnya yang hanya memproduksi satu macam komoditi dengan teknologi khusus. Menempatkan karyawan pada keahlian khusus pada satu jenis produk tidak mudah, dan mungkin biayanya mahal. Pada umumnya perusahaan disibukkan oleh kegiatan rutin memproduksi komoditi terus menerus tanpa menghiraukan peningkatan ketrampilan dan pengetahuan karyawan; mereka lebih suka membajak karyawan lain yang sudah ahli sehingga tidak perlu mendidik dan melatih; teknologi dan metode kerja tidak begitu mudah diganti. Karyawan pada umumnya bekerja atas dasar upah; mereka bekerja bukan ingin merealisasikan bakat dan pengetahuannya tetapi mencari upah, jadi mereka pada umumnya kurang peduli terhadap mutu produk. Biaya Tahunan 56.000 37.000 33.000 126.00 0 Item Bagian pembelian Bagian administrasi Bagian gudang Jumlah Agustus 5.000 4.000 3.000 12.000 Desember 4.500 3.000 2.500 10.000 Yang termasuk biaya bagian pembelian adalah gaji manajer dan pegawai, biaya order, dan biaya peralatan kantor. Yang termasuk biaya bagian administrasi pembelian adalah gaji manajer dan pegawai dan biaya peralatan kantor, dan yang termasuk biaya gudang adalah gaji manajer, pengawas, pegawai penerima, pegawai pengirim, biaya angkutan, biaya peralatan. Bagian pembelian bertanggung jawab semua pemesanan barang, bagian administrasi bertanggung jawab atas pembayaran utang dagan, dan bagian gudang bertanggung jawab kelancaran penerimaan dan pengiriman barang. Kantor dan gudang disewa dengan harga Rp 20.000 per tahun, biaya asuransi Rp 2.000 per tahun, dan pajak bumi dan bangunan Rp 3.000 per tahun. Pajak perseroan 50% per tahun, bunga jangka pendek 18% per tahun, dan bunga jangka panjang 16% per tahun. Data mengenai persediaan dalam tahun yang bersangkutan adalah: persediaan awal per 1 Januari Rp 50.000, persediaan akhir per 31 Desember Rp 30.000, saldo persediaan tertinggi bulan Agustus Rp 60.000, dan saldo terendah bulan Desember Rp 40.000, Persediaan rata-rata setiap bulan Rp 55.000, Saudara diminta untuk: 1) Menghitung biaya per pesanan, biaya penyimpangan dan pemeliharaan, dan apa rekomendasi Anda? 2) Jika perusahaan menjualkan 300 unit per bulannya, dengan harga Rp 45 per unit, dan rata-rata persediaan 60 unit, biaya pesanan sekali pesan Rp 15, hari kerja dinyatakan 360 hari per tahun, biaya mengelola persediaan Rp 432 per tahun berapa hari setiap pesanan dilakukan dan berapa besarnya biaya penyimpanan dan pemeliharaan persediaan?

Find millions of documents on Course Hero - Study Guides, Lecture Notes, Reference Materials, Practice Exams and more. Course Hero has millions of course specific materials providing students with the best way to expand their education.

Below is a small sample set of documents:

Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB 12 MANAJEMEN MODAL KERJAModal kerja adalah investasi dalam harta jangka pendek atau investasi dalam harta lancar (current assets). Modal kerja dapat dikategorikan menjadi dua yaitu modal kerja kotor (gross working capital) dan modal kerja bersih (net
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB 13. MANAJEMEN HARTA KEUANGANPerusahaan besar pada umumnya memiliki investasi di beberapa perusahaan yang berupa surat-surat berharga saham dan obligasi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan deviden (saham) dan bunga (obligasi). Investasi yang dimiliki
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB I MERENCANAKAN BISNIS 1.1. Membangun Mindset berbisnis Di era globalisasi ini, sudah saatnya bangsa Indonesia memikirkan cara mencari terobosan dengan menanamkan sedini mungkin tentang nilai-nilai kewirausahaan terutama bagi kalangan terdidik, terlebi
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB II MENJALANKAN BISNIS Untuk memulai sebuah usaha memang harus didahului dengan taktik dan strategi. Membuat usaha yang besar tidak selalu membutuhkan modal yang besar. Mengawalinya dengan modal kecil pun sebuah usaha bisa tumbuh menjadi besar. Pengemb
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB III ASPEK Manajemen 3.1. Pengelolaan Manajemen Dalam Menjalankan sebuah bisnis, manajemen merupakan faktor yang paling penting karena tan pa manajemen perusahaan tidak akan terkelola dengan baik dan benar. dalam menjalankan perusahaan ada beberapa asp
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB IV Aspek Pasar Tantangan utama perusahaan- perusahaan adalah bagaimana membangun dan mempertahankan bisnis yang sehat dalam pasar dan lingkungan yang terus berubah. Agar perusahaan tetap dapat survive perusahaan harus mampu mengenali pelanggannya. Den
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB V ASPEK PEMASARAN 5.1. Pengertian Pemasaran Pemasaran (Marketing) : Adalah suatu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang ada melalui penciptaan proses pertukaran yang saling menguntungkan. Aktivitas pemasaran tersebut antara lain perenca
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB VI ASPEK SDM Revolusi teknologi komunikasi dan informasi membuat dunia yang luas ini semakin lama semakin kecil (Global Village). Konsukensinya skala kompetisipun meningkat dari local competitive menjadi global Dengan competitive. Bisnis baru akan ber
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB VII ASPEK PRODUKSI Schroeder (1993) memberikan penekanan terhadap definisikegiatan produksi dan operasi pada 3 hal yaitu: 1. Pengelolaan fungsi organisasi dalam menghasilkan barang dan jasa. 2. Adanya sistem transformasi yang menghasilkan barang dan
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB VIII ASPEK KEUANGAN Keuangan merupakan salah satu fungsi bisnis yang bertujuan untuk membuat keputusan keputusan investasi, pendanaan dan dividen. Keputusan investasi ditujukan untuk menghasilkan kebijakan yang berhubungan dengan (a) kebijakan pengalo
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB IX ASPEK TEKNOLOGI INFORMASI 9.1. Pengertian Teknologi Informasi Banyak istilah yang berhubungan dengan teknologi informasi karena banyaknya perubahan dan tidak adanya kesepakatan istilah yang digunakan. Beberapa istilah yang sering digunakan adalah y
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB X MEMAHAMI PERILAKU KONSUMEN Secara sederhana, perilaku konsumen mengacu kepada perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam membeli dan menggunakan barang dan jasa. Studi secara sistematis mengenai konsumen telah berkembang pesat sejak dekade 1950an
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XI ANALISIS INDUSTRI DAN PERSAINGAN11.1. Analisis Situasi Untuk Pembuatan Strategi Analisis situasi bertujuan untuk mempertimbangkan keadaan baik situasi internal perusahaan maupun lingkungan eksternal, yang langsung mempengaruhi peluang dan pilihan
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XII ANALISIS PROFIL PERUSAHAAN Seberapa baik strategi yang sedang dijalankan? Apa kekuatan,kelemahan, peluang dan tantangan perusahaan? Apakah perusahaan kompetitif dalam biaya? Bagaimana posisi perusahaan di pasar? Semua pertanyaan ini mencerminkan
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XIII ASPEK RESIKOIstilah resiko dalam manajemen mempunyai berbagai makna. Resiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu atau probabilitas sesuatu hasil/outcome yang ebrbeda dengan yang diharapkan. Resiko dapa
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XIV Menyusun Proposal Bisnis Dalam Menyusun Proposal bisnis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni 1. Menggambar keseluruhan (overview) rencana strategi perusahaan yang akan dijalankan. 2. memuat latar belakang usaha 3. Menggabungkan seluruh a
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XI ANALISIS INDUSTRI DAN PERSAINGANSYAFRIZAL HELMIAnalisis Situasi Pembuatan StrategiTiga peran utama dalam analisis lingkungan Policy-Oriented Role Peran analisis yang berorientasi pada kebijakan manajemen tingkatan atas dan bertujuan untuk memper
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XII ANALISIS PROFIL PERUSAHAANSYAFRIZAL HELMIANALISIS SWOT SWOT singkatan dari Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), Threat (Tantangan). Analisis SWOT berisi evaluasi faktor internal perusahaan beruapa kekuatan dan kelem
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB VIII ASPEK KEUANGANSYAFRIZAL HELMIKeputusan investasi Keputusan investasi ditujukan untuk menghasilkan kebijakan yang berhubungan dengan (a) kebijakan pengalokasian sumber dana secara optimal, (b) kebijakan modal kerja (c) kebijakan invesasi yang b
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB III ASPEK ManajemenSYAFRIZAL HELMIPengelolaan ManajemenAnnual Objectives & Policies Resources & Structures Productions & HRD Suportive culture Natural Environment Resistance to Change Restructuring Rewards/IncentivesManagement Issues Annual Objec
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB IV Aspek PasarSYAFRIZAL HELMIPengertian Pasar Pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk berbelanja, dan kemauan untuk membelanjakannya. Tiga unsur penting yang terdapat dalam pasar, yaitu: 1.Orang dengan segala keingi
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB V ASPEK PEMASARANSYAFRIZAL HELMIDEFENISIPemasaran (Marketing) : Adalah suatu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang ada melalui penciptaan proses pertukaran yang saling menguntungkan. Aktivitas pemasaran antara lain perencanaan produ
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB VII ASPEK PRODUKSISYAFRIZAL HELMISchroeder (1993) memberikan penekanan terhadap definisi kegiatan produksi dan operasi pada 3 hal yaitu: 1. Pengelolaan fungsi organisasi dalam menghasilkan barang dan jasa. 2. Adanya sistem transformasi yang menghasi
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB XIII ASPEK RESIKOSYAFRIZAL HELMI Resiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu atau probabilitas sesuatu hasil/outcome yang ebrbeda dengan yang diharapkan. Resiko dapat juga dikatakan ketidakpastian yang mun
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB VI ASPEK SDMSYAFRIZAL HELMI Keberhasilan sebuah perusahaan sangat ditentukan sejauhmana perusahaan mampu mengelola, mengembangkan dan memotivasi karyawan yang potensial. Ed Michaels, Helen Handfield-Jhons dan Axelrod (konsultan dari McKinsey & Compa
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB IX ASPEK TEKNOLOGI INFORMASISYAFRIZAL HELMIDefinisi teknologi informasi Menurut Haag dan Keen, teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugastugas yang berhubungan dengan pemrosesan infor
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB X MEMAHAMI PERILAKU KONSUMENSYAFRIZAL HELMILingkup studi perilaku konsumen Siapa yang membeli produk atau jasa ? ( WHO ) Apa yang dibeli ? ( WHAT ) Mengapa membeli produk atau jasa tersebut ? ( WHY ) Kapan membeli ? ( WHEN ) Di mana membelinya ? (
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB II MENJALANKAN BISNISSYAFRIZAL HELMI Untuk memulai sebuah usaha memang harus didahului dengan taktik dan strategi. Membuat usaha yang besar tidak selalu membutuhkan modal yang besar. Mengawalinya dengan modal kecil pun sebuah usaha bisa tumbuh menja
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAB I MERENCANAKAN BISNISSYAFRIZAL HELMIMembangun Mindset berbisnis Kampus sebagai tempat untuk Merubah Paradigma cara berfikir mahasiswa dari mencari pekerjaan menjadi pencipta lapangan pekerjaan Untuk itu diperlukan sebuah jiwa entrepreneurship (kewi
Universitas Indonesia - MGMT - 12085
BAHAN AJARKonten Mata Kuliah E-Learning USU INHERENT 2006 BUKU AJAR STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGUSULSYAFRIZALHELMIS,SE,M.Si DEPARTEMENMANAJEMEN FAKULTASEKONOMIUNIVERSITASSUMATERAUTARA 2006iDAFTAR ISI HalamanBAB I. Merencanakan bisnis. 1 1.1. Membang
Camosun College - ECON - e.g. 10
: - 80970 80972 - 99620 61959
Camosun College - LAW - 10
100 2008. : , , , , , . .:(495) 785-01-13, 775-77-65 () (812) 449-70-65, 449-70-55 (-)oblojka.indd 105.04.2007 13:29:46 ,
Camosun College - LAW - 205
. () 2006 ISBN 5466001309 , (). , , , , (, .
Camosun College - LAW - 402
" p " , 1930 . , . 1973 . . 1991 . . , ", " ", " ". : ".
Camosun College - LAW - 402
" " - .: , 1999. . " ". . 1 1999 . -
Camosun College - LAW - 402
" ( )" . . ., " ", 1999. - 248 . " ( )" - I. (. 1-7) 1. 2. , 3. , 4. 5. ,
Camosun College - LAW - 402
: . . , , , - , . 1 2 (. 1-15), . 4 (. 48-65), . 6 (. 128-141), . 9-12 (. 153-208); . . , , . 21-29 (. 307-453), " "; . . , - . 5 (. 1
Camosun College - LAW - 201
() ( . .) 01.09.97 . ., ( ) - .66 - 95 .4; ., . , , - .447 - 449 .28; ., , , - .5; .21; .309 - 316, 318 - 328 .22; .330 - 333, 359, 360 .23; .26; ., - .149 .7; ., , , - .2; . 2 III; .420, 421, 423 - 426, 428 .27; .445, 446 .28; ., , - .31 - 41,
Camosun College - LAW - 202
*(1) ( - ) . , 19
Camosun College - LAW - 203
. . . , . 3- , : ., , 1.9 . 1 . 1 . II; ., , 1.2 1.7 . 1 . 1 . II; 2.1.1 2.1.2, 2.2.1 2.2.3, 2.3 . 2 . 1 . II; 3.7 . 3 . 1 . II;
Camosun College - LAW - 15
, (1991 - 1996 .) . - , . . - , , . , (1991 - 1996 .) 1
Camosun College - LAW - 15
- , , , ,
Camosun College - LAW - 15
, , , XIX . " , , . .
Camosun College - LAW - 16
XX . - . , : , . , , ,
Camosun College - LAW - 16
Camosun College - LAW - 16
. A.S. Kartsov LEGAL IDEOLOGY OF RUSSIAN CONSERVATISM I. II. III. (1970 .) - - (
Camosun College - LAW - 16
Rar!# s# t [#0#1 #2l7a#,-#5;# # j ) 1864 l (W W).txt# #W# # E #^HN#NJ9#GZ]Hb r] 2s# 6# #SQ )&^ "W9'# lJ#V_#,#k #PTi#J:C#y#3O ;f#HMt1 #_#>#EK MK9 T@\#,X!#mI|#o wN \ 55 Q C LR#~# #8 [Vr30& ; >s W60#DQAk# ]c3'#h Q ;4hDf cfw_N#C4I39#C#,&YI t>#F 6 7 m #Ei#cf
Camosun College - LAW - 16
POSSESSIO (: .). [: . IVS ANTIQVVM. 2004. 1 (13). . 117128] > , . . ., . . () : 1) 2) .
Camosun College - LAW - 16
"p p p ." .: ", 1998 . ( )p p-pp p 1. 1. C : - - 2. - - - 2. 1917 . 1. 2. , - - - - . - . - - 3. 1917 . -
Camosun College - LAW - 108
., . , , , , . , , , .
Jadavpur University - ECONOMICS - 201
WHEN DOES MORE INFORMATION-GATHERING LEAD TO MORE PRODUCTION? THE CASE OF THE NEWSVENDOR Thomas Marschak , J. George Shanthikumar, and Junjie ZhouNovember, 2010ABSTRACT Empirical research has found that advances in Information Technology (IT), accompani
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101
Abilene Christian University - ACCOUNTING - 101