This preview has intentionally blurred parts. Sign up to view the full document

View Full Document

Unformatted Document Excerpt

227 SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI VI Surabaya, 16 – 17 Oktober 2003 PENGARUH PERILAKU RISIKO DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP KEBANGKRUTAN BANK DI INDONESIA : KASUS KRISIS EKONOMI TAHUN 1997 FIFI SWANDARI STIE Kerjasama Yogyakarta Abstract I examines the impact of risk taking behavior and ownership structure (concentrated and institution) on bank failure. I predict that risk-taking behavior and ownership structure has positive impact on bank failure. Result shows that risk taking behavior and concentrated ownership give little support to hypothesis. I finds inverse relationship between institution ownership and bank failure. This result suggest that institution ownership give good impact on banking industries. A. Pendahuluan Krisis ekonomi yang diawali dengan dilikuidasinya 16 bank pada bulan November 1997 menyebabkan bangsa Indonesia terjerumus dalam jurang kemiskinan. Data dari BPS (2000) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia meningkat secara drastis sejak terjadinya krisis yaitu mencapai 49,5 juta orang pada tahun 1998. Tahun 1999 walau tingkat kemiskinan mengalami penurunan namun tingkat keparahannya lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Kemiskinan di Indonesia terlihat dari meningkatnya jumlah pengangguran, meningkatnya anak usia sekolah yang putus sekolah dan turunnya kualitas kesehatan masyarakat. Besarnya dampak krisis menyebabkan banyak peneliti yang mencoba mencari penyebabnya. Beberapa peneliti berbeda pendapat mengenai penyebab krisis. Peneliti ekonomi makro berpendapat bahwa penyebab krisis adalah faktor makro yaitu turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, sedangkan peneliti mikro berpendapat bahwa industri perbankan memiliki peran besar untuk terjadinya krisis. Menurut pendapat kedua saat sebelum krisis faktor-makro belum mampu menunjukkan prediksi adanya krisis. Hal itu ditandai dengan masih bagusnya fundamental ekonomi. Sebaliknya aspek mikro, industri perbankan menunjukkan pemburukan dari tahun ke tahun. Hal tersebut terlihat dari peningkatan hutang industri perbankan pada tahun-tahun sebelum krisis (Hesse dan Auria, 1998). Akibatnya saat terjadi krisis, sebagian bank mengalami kesulitan keuangan yang berlanjut menjadi kebangkrutan. Peneliti berpendapat bahwa kebangkrutan sebagian bank di Indonesia memiliki kontribusi yang signifikan terhadap krisis. Beberapa tahun sebelum krisis, hutang bank yang berasal dari dana nasabah dan pinjaman luar negeri menimbulkan moral hazard dari pemegang saham mayoritas/pengendali. Pemegang saham pengendali menanamkan dana pada investasi berrisiko atas beban debtholder . Salah satu bentuk perilaku yang berresiko adalah pelampauan batas pemberian kredit ke dalam perusahaan dalam satu kelompok usaha. Selain itu mereka juga berinvestasi pada industri properti yang sudah jenuh dan industri manufaktur yang tidak berbasis ekspor. Perilaku berrisiko sangat potensial menimbulkan kerugian dan kebangkrutan bank. ... View Full Document

End of Preview

Sign up now to access the rest of the document