PAPER NIKE - MANAGING ETCHICAL MISSTEPS-SWEATSHOPS TO...

Info icon This preview shows pages 1–3. Sign up to view the full content.

View Full Document Right Arrow Icon
MANAGING ETCHICAL MISSTEPS-SWEATSHOPS TO LEADERSHIP IN EMPLOYMENT PRACTICES PRESENT BY : 1. SABDASYAH YANA (16911006) 2. GINDOSTAR PARLUHUTAN (16911010 3. ANGGUN ANGGITA KINASIH (16911017)
Image of page 1

Info icon This preview has intentionally blurred sections. Sign up to view the full version.

View Full Document Right Arrow Icon
LATAR BELAKANG SEJARAH NIKE Atlit Philips Knight dan Universitas of Oregon beserta pelatihnya Bill Bowerman mendirikan BRS (Blue Ribbon Sports). Kemudian berganti nama pada tahun 1964 menjadi NIKE (berbasis dari nama Dewi Yunani artinya “Kemenangan”). Mereka mengimport sepatu atletik dari Jepang ke AS. Untuk menyaingi pasar eropa yang di dominasi oleh pesaing Jerman Puma dan Adidas. Selain menjadi distributor sepatu dari Jepang, mereka juga mengembangkan sepatu atletik sendiri. Dia mulai menjual sepatu keliling dengan tujuan di stadion atletik, dimana penjualan secara pelan tapi pasti meningkat secara dramatis. Pada 1970-an, Knight dan perusahaan yang berkembang nya melihat awal revolusi jogging dan mulai mmasaran produk untuk pelari non-profesional juga. Ia lantas segera membuka pasar yang lebih luas dan mengubah image sepatu lari menjadi sepatu fashion dan menarik semua orang dari anak-anak sampai dewasa memakainya. Keberhasilan menguasai pasar persepatuan di Amerika Perkumpulan memungkinkan bagi Philip karena sepatu tersebut diimpor dari Jepang nan jauh lebih murah dibandingkan sepatu dari Jerman. Akibatnya, Phillip mendapatkan laba nan sangat besar. Laba tersebut bisa diperoleh karena harga jualnya tinggi, sedangkan harga beli murah. Kita perlu mengetahui bahwa harga tenaga kerja di Jepang tergolong murah. Awalnya, buat menjual sepatu tersebut, Phillip melakukannya door to door. Dia berkeliling buat menjajakan sepatunya. Loka nan paling diharapkan bisa menjadi loka jualan sepatu ialah stadion atletik. Keputusan ini sinkron dengan jenis sepatu nan dipasarkannya, yaitu sepatu lari. Keputusannya tersebut membawa akibat bahwa penjualan sepatunya secara dramatis mengalami peningkatan secara pasti. Pada 1970, Phillip dan perusahaannya melihat sebuah peluang nan sangat besar, yaitu mulai berkembangnya revolusi jogging . Pada saat itulah, Phillip mulai memasarkan produk sepatu nan tak hanya buat para profesional, pelari profesional, tetapi juga buat pelari non profesional. Pada saat itulah, Phillip mengembangkan pasar usahanya menjadi lebih luas. Hubungan relationship dengan perusahaan jepang berakhir pada tahun 1971. Dan pada tahun 1972 perusahaan ini berganti nama menjadi NIKE. Pada 1979 Nike telah menguasai setengah pasar di AS dan dengan pendapatan mencapai US $ 149 juta. Pada pertengahan tahun 1980-an posisi perusahaan tampaknya tak tergoyahkan, namun secara mendadak muncul serangan dari pihak saingan yaitu Reebok. Tapi pada tahun 1990 Nike kembali memimpin perusahaan, terutama karena pengenalan dari sepatu “Air Jordan” yang didukung dan dipromosikan oleh bintang basket Michael Jordan.
Image of page 2
Image of page 3
This is the end of the preview. Sign up to access the rest of the document.

{[ snackBarMessage ]}

What students are saying

  • Left Quote Icon

    As a current student on this bumpy collegiate pathway, I stumbled upon Course Hero, where I can find study resources for nearly all my courses, get online help from tutors 24/7, and even share my old projects, papers, and lecture notes with other students.

    Student Picture

    Kiran Temple University Fox School of Business ‘17, Course Hero Intern

  • Left Quote Icon

    I cannot even describe how much Course Hero helped me this summer. It’s truly become something I can always rely on and help me. In the end, I was not only able to survive summer classes, but I was able to thrive thanks to Course Hero.

    Student Picture

    Dana University of Pennsylvania ‘17, Course Hero Intern

  • Left Quote Icon

    The ability to access any university’s resources through Course Hero proved invaluable in my case. I was behind on Tulane coursework and actually used UCLA’s materials to help me move forward and get everything together on time.

    Student Picture

    Jill Tulane University ‘16, Course Hero Intern