BAB II (Fix).docx - BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Enhanced Oil Recovery Minyak dan gas bumi dapat mengalir ke sumur-sumur produksi karena tenaga pendorong

BAB II (Fix).docx - BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Enhanced...

This preview shows page 1 - 4 out of 25 pages.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Enhanced Oil Recovery Minyak dan gas bumi dapat mengalir ke sumur-sumur produksi karena tenaga pendorong alami atau drive mechanism yang berada di reservoir. Seiring berjalannya waktu, kemampuan minyak untuk mengalir secara alamiah akan menurun karena keterbatasan energi dan sebagian tenaga pendorong hilang selama proses produksi berlangsung sehingga laju perolehan minyak akan berkurang. Setelah primary recovery berakhir, dilanjutkan dengan penerapan secondary recovery melalui injeksi air ke reservoir untuk meningkatkan perolehan minyak, namun masih terdapat sisa- sisa minyak yang tertinggal di reservoir yang tidak dapat didorong lagi. Untuk dapat memperoleh minyak yang tersisa tersebut maka dapat digunakan metode Enhanced Oil Recovery (EOR). EOR merupakan usaha untuk meningkatkan perolehan minyak tahap ketiga ( tertiary recovery) dengan teknik-teknik EOR tertentu. Penurunan produksi minyak dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti tegangan antar muka ( Interfacial Tension / IFT) minyak air, sempitnya pori-pori batuan dan mobilitas minyak yang rendah. Pada tahap EOR, injeksi kimia dengan menggunakan kombinasi surfaktan dan polimer digunakan untuk menurunkan IFT dan memperbaiki mobilitas minyak - air didalam reservoir sehingga meningkatkan efisiensi penyapuan dan efisiensi pendesakan minyak yang berdampak pada meningkatnya perolehan minyak di sumur produksi. 6
Image of page 1
7 2.2 Injeksi Kimia Penambahan atau menginjeksikan zat kimia ke dalam batuan reservoir dengan demikian perubahan terhadap sifat fisik fluida dan batuan reservoir merupakan salah satu metode peningkatan perolehan minyak yaitu injeksi kimia.Hasil yang di harapakan dari injeksi kimia adalah meningkatkan efisiensi penyapuan atau pendesakan terhadap hidrokarbon di dalam reservoir. 2.2.1.1 Surfaktan Surfaktan merupakan senyawa aktif untuk menurunkan tegangan permukaan yang mempunyai struktur bipolar. Senyawa organik yang di dalam molekulnya (Gambar 2.1) memiliki sedikitnya satu gugus hidrofilik (suka air) atau satu gugus hidrofobik (tidak suka air). Jika surfaktan di tambahkan ke suatu cairan pada konsentrasi rendah, maka dapat mengubah karakteristik tegangan permuakaan dan antarmuka cairan tersebut. Gambar 2.1 Molekul Surfaktan 2.2.2 Jenis Surfaktan Berdasarkan muatannya surfaktan dapat digolongkan menjadi empat jenis sebagai berikut : Hidroflik Hidrofobik (Grup
Image of page 2
8 1. Surfaktan anionic yaitu surfaktan yang bagian akilnya terikat pada suatu anion. Karakteristiknya yang hidrofilik di sebabkan karena gugus ionic yang cukup besar, yang biasanya berupa gugu sulft atau sulfonat (LAS), Alkohol Sulfat (AS), Alkohol Ester Sulfat (AES), Alfa Olein Sulfonate (AOS), Parafin ( Secondary Alkane Sulfonate , SAS) dan Etil Ester Sulfonat (MES). 2. Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation. Surfaktan jenis ini memecah dalam media cair, dengan bagian kepala surfaktan kationik bertindak sebagai pembawa sifat aktif permukaan. Contonya garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil dimethil ammonium dan alkil dimetil benzyl ammonium.
Image of page 3
Image of page 4

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 25 pages?

  • Spring '10
  • johor

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture