UGM
Akuntansi Manajemen Lanjutan.pdf

Akuntansi Manajemen Lanjutan.pdf - SAMBUTAN KETUA DEWAN...

Info icon This preview shows page 1. Sign up to view the full content.

This is the end of the preview. Sign up to access the rest of the document.

Unformatted text preview: SAMBUTAN KETUA DEWAN PENGURUS NASIONAL IKATAN AKUNTAN INDONESIA Ikatan Akuntan Indonesia ( l A I ) telah menetapkan sebutan Chartered Accountant Indonesia ( C A ) sebagai kualifikasi akuntan profesional Indonesia sesuai panduan standar internasional. Penetapan sebutan C A dilaksanakan dalam rangka melaksanakan tujuan pendirian LAI yaitu untuk membimbing perkembangan akuntansi serta mempertinggi mutu pendidikan akuntan; dan mempertinggi mutu pekerjaan akuntan. Kualifikasi i n i juga ditetapkan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada profesi akuntan, memberikan perlindungan terbadap pengguna jasa akuntan, serta mempersiapkan akuntan Indonesia mengbadapai tantangan profesi dalam perekonomian global. Sebagai anggota International Federation of (IFAC), L A I telab Obligations (SMO) & Accountants meluncurkan C A untuk menaati Statement Membership Guidelines I F A C . I F A C telab menetapkan International Education Standards (IBS) 7 yang memuat kerangka dasar dan persyaratan minimal untuk memperoleh kualifikasi sebagai seorang akuntan profesional. l A I berkewajiban untuk mematubi IBS 7 tersebut sebagai panduan utama pengembangan akuntan profesional di Indonesia. Adanya kualifikasi akuntan profesional dengan sebutan C A , dibarapkan dapat menjamin dan meningkatkan mutu pekerjaan akuntan yang profesional dan memiliki daya saing di tingkat global. Sejalan dengan tujuan tersebut Menteri Keuangan telab mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan ( P M K ) Nomor 25/PMK.0I/2014 tentang Akuntan Beregister Negara yang telab disabkan pada tanggal 3 Februari 2015. P M K tersebut merupakan amanat dari U U Nomor 34 Tabun 1954 Pasal 6 yang mengamanabkan kepada Menteri Keuangan untuk mengatur lebib lanjut mengenai kebijakan pelaksanaan untuk pemakaian gelar Akuntan. Sesuai ketentuan P M K Nomor 25/PMK.01/2014, salab satu persyaratan untuk menyandang gelar Akuntan seseorang barus lulus pendidikan profesi akuntan atau lulus ujian sertifikasi akuntan profesional. P M K juga menyatakan babwa pendidikan profesi akuntansi mencakup perkuliaban dan ujian sertifikasi akuntan profesional. Selain itu, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R I Nomor 153 tabun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Program Profesi Akuntan mengatur babwa pendidikan program profesi akuntan (PPAk) diselenggarakan oleb perguruan tinggi bekerjasama dengan l A I . Permendikbud tersebut juga menyatakan mabasiwa yang dinyatakan lulus P P A k berbak menggunakan gelar profesi dibidang akuntansi dan memperoleh sertifikat profesi akuntansi setelah dinyatakan lulus selurub uji kompetensi akuntan. U j i kompetensi akuntan merupakan ujian sertifikasi akuntan profesional yang diselenggarakan oleh l A I . Ikatan Akuntan Indonesia AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN Sebagai organisasi yang mewadabi selurub Akuntan Indonesia, LAI bertekad memberikan kontribusi optimal bagi profesi, masyarakat, dan bangsa i n i . Melalui pengelolaan keprofesian yang maksimal dan berkelanjutan, penataan aktivitas keprofesian dan pengembangan kompetensi akuntan profesional, l A I barus menjadi sandaran profesionalisme para Akuntan Profesional, agar mereka bisa berkarya secara maksimal bagi negeri i n i . Indonesia yang k i n i menjadi anggota G-20, memiliki ukuran ekonomi yang sangat besar, yang barus dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Kebutuban akan Akuntan Profesional diyakini akan terus meningkat seiring cepatnya pertumbuban perekonomian Indonesia dewasa i n i . Karena itulab, LAI, bersama-sama pemerintab dan staiceboJders lainnya, berkewajiban memastikan proses regenerasi dan kaderisasi Akuntan Profesional berjalan dengan baik. Apalagi di tingkat regional, berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean ( M E A ) membutubkan antisipasi yang tepat dari profesi akuntan Indonesia. D i tingkat global, pergeseran peta kekuatan ekonomi global pastinya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Akuntan Profesional Indonesia. C A yang diluncurkan LAI pada 19 Desember 2012, telab menjadi identitas Akuntan Profesional Indonesia yang akan menjaga profesionalisme akuntan Indonesia untuk bersaing di kancab regional. C A menjadi tonggak bersejarab bagi profesi akuntan Indonesia pada umumnya, dan LAI pada kbususnya. Modul C A i n i disusun oleb LAI mengacu pada standar kompetensi dan silabus ujian C A . LAI juga berkomitmen untuk selalu meng- update modul i n i dari waktu ke waktu, sesuai dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi. Modul i n i merupakan salah satu referensi bagi calon peserta ujian sertifikasi C A . Para peserta ujian C A tentu barus melengkapi dengan materi lainnya agar pemabamannya lebib komprebensif. Para peserta wajib memperkaya diri dengan studi kasus yang pastinya akan sangat bermanfaat bagi pengembangan diri para calon Akuntan Profesional. Ucapan terima kasib kami sampaikan kepada semua pibak yang telab membantu terbitnya modul C A i n i . Harapan kami, modul i n i akan menjadi referensi berbarga bagi para peserta dalam mengbadapi ujian sertifikasi C A . Jakarta, Mei 2015 Prof. Mardiasmo, A k . , C A Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia AKUNTANSI M DAFTAR ISI BAB I SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN 1 1.1 Latar belakang 2 1.2 Sistem Informasi Akuntansi Keuangan 2 1.3 Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen 2 1.4 Tahap Pengembangan Sistem Akuntansi Perusahaan 5 1.5 Akuntansi Biaya (Cost Accountm^) 6 1.6 Pembahasan Topik dalam Akuntansi Biaya 7 1.6.1 Sistem Biaya Pesanan (Job Order Costing) 7 1.6.2 Sistem Biaya Proses [Proses Costing System) 8 1.6.3 Joint Cost 8 1.6.4 Alokasi Biaya Departemen Penunjang [Support Department Cost Allocation) 1.6.5 Perlakuan Akuntansi untuk Barang Cacat 10 BAB II PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN BIAYA 2.1 2.2 13 Latar Belakang 14 Perbedaan Tradisional dengan Activity Based Costing 14 2.2.1 Ilustrasi Pembebanan Biaya Berdasarkan Activity Based Costing 15 2.2.2 2.3 9 Ilustrasi Pembenan Biaya Secara Tradisional 17 Alasan Perbedaan Hasil Alokasi Tradisional dengan Activity Based Costing 18 2.4 Langkah-Langkah Perbaikkan Profitabilitas Produk 19 2.5 Actiivity Based Costing dengan Idle Capacity [Time Driven Activity Based Costing) 20 2.6 Activity Based Costing dengan Persamaan Waktu (Time Equation) 23 2.7 Activity Based Costing untuk Perusahaan Jasa 24 BAB III PENGGUNAAN SITEM MANAJEMEN BIAYA UNTUK EFFISIANSI 27 3.1' Latar Belakang 28 3.2 Operating Activity Based Management 28 3.3 Effisiensi Biaya dalam Operating Activity Based Management 30 3.4 Biaya Kualitas [Cost of Quality) 31 3.5 Biaya Kualitas Tersembunyi (Hidden QwaZity Costs) 33 3.6 Lean Production 33 BAB IV PENGGUNAAN SISTEM MANAJEMEN BIAYA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEJIK-PELANGGAN 37 4.1 Latar Belakang 38 4.2 Permasalahan dalam Perhitungan Profitabilitas Pelanggan 38 4.3 Analisis Profitabilitas Pelanggan dengan Activity Based Costing 39 4.4 Meningkatkan Profitabilitas Pelanggan 40 4.5 Menghubungkan Profitabilitas dan Loyalitas Pelanggan 41 4.6 Customer Lifetime Value 42 Ikatan Akuntan Indonesia MUMNSIMNAIEILN LANJUTAN BAB XI SISTEM PENGENDALIAN STRATEJIK - PENEKANAN PADA PENGENDALIAN KEUANGAN 11.1 Latar Belakang 106 11.2 Jenis-Jenis Pusat Pertanggungjawaban {Responsibility Center) 106 11.2.1 Cost center (Pusat Biaya) 106 11.2.2 Analisis Varians untuk Pusat Pendapatan (Revenue Center) 110 11.2.3 Analisis Pertanggungjawaban Profit Center 116 11.3 11.2.4 Analisis Pertanggungjawaban Investment Center 117 Transfer Pricing 121 BAB XII SISTEM PENGENDALIAN STRATEJIK TERINTEGRASI 125 12.1 Latar Belakang 126 12.2 Alasan Pentingnya Balanced Scorecard bagi Perusahaan 126 12.3 Perspektif Keuangan 128 12.4 Perspektif Pelanggan 128 12.5 Perspektif Proses Internal Bisnis (Internal Business Process) 130 12.6 Proses Pengelolaan Operasi (Operation Management Process) 130 12.7 Proses Penelolaan Pelanggan (Customer Management Process) 130 12.8 Proses Inovasi (Innovation Process) 131 12.9 Proses yang Terkait dengan Hukum dan Lingkungan Sosial 131 12.10 Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuban 132 12.11 Balanced Scorecard 133 BAB XIII SISTEM PENGENDALIAN STRATEJIK - PROSES PEMBANGUNAN AWARENESS DAN KESELARASAN (ALIGNMENT) 137 13.1 Latar Belakang 138 13.2 Membangun Keselarasan (A%nme«t) 138 13.2.1 Vertical Alignment 139 13.2.2 Horizontal Alignment 140 13.3 Membangun Awaruess 140 13.4 Penyebab Kegagalan BaZflMced Scorecard 141 BAB XIV PENILAIAN KINERJA vi 105 143 14.1 Latar Belakang 144 14.2 Instrinsic Reward dan Extrinsic Reward 144 14.3 Pay for Performance System 144 14.4 Bentuk-Bentuk Sistem Kompensasi Perusahaan 146 14.5 Penentuan Bonus Pool 147 14.6 Formula Alokasi 148 14.7 Penggunaan Balance Scorecard untuk Penilaian Kinerja 148 14.8 Kondisi yang Mempengaruhi Penggunaan Sistem Kompensasi 149 Ikatan Akuntan Indonesia CA Chartered Accountant e IKATAN AKUNTAN INDONESIA INDONESIA Bab I SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN MODUL AKUNIANSIMNAJmEN^L^^^^ SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN 1.1 BAB I Latar Belakang Akuntansi manajemen sering merupakan ilmu yang merupakan "anak t i r i " dibandingkan dengan akuntansi keuangan, sebingga banyak perusahaan mengbasilkan informasi akuntansi manajemen yang berasal dari sistem akuntansi keuangan perusabaan. Padabal karakteristik informasi yang dikebendaki dalam akuntansi manajemen amat berbeda dengan karakteristik yang dibasilkan oleb sistem akuntansi keuangan. Akibatnya banyak sekali kesalahan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan perusabaan karena menggunakan informasi yang sebenarnya tidak ditujukan untuk kebutuban tersebut. Salab satu kesalahan yang sering dibuat adalab menggunakan informasi biaya produksi yang dibasilkan dari cost accounting system untuk melakukan pengambilan keputusan. 1.2 Sistem I n f o r m a s i A k u n t a n s i K e u a n g a n Pada dasarnya sisem akuntansi perusabaan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi manajemen. Sistem akuntansi keuangan merupakan sistem yang dirancang untuk mengbasilkan laporan keuangan pada pibak-pibak diluar pengelola perusabaan, seperti pemegang sabam, kreditur, pajak, dan Iain-lain. Laporan keuangan i n i barus disusun berdasarkan aturan-aturan tertentu seperti yang ditetapkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ( P S A K ) , dan apabila perusabaan sudab terdaftar sebagai perusabaan publik atau mengeluarkan obligasi pada publik, maka laporan keuangan juga barus disusun berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleb Bapepam L/K. Laporan keuangan yang dibasilkan adalab: 1. Laporan Posisi Keuangan 2. Laporan Laba Rugi & Pengbasilan Komprebensif L a i n 3. Laporan Arus Kas 4. Laporan Perubaban Ekuitas 5. Catatan atas Laporan Keuangan Untuk perusabaan yang sudab mengeluarkan sabam atau obligasi pada publik, laporan keuangan tersebut barus dilaporan setiap kuartal dan setiap tabun. 1.3 Karateristik Sistem A k u n t a n s i M a n a j e m e n Sistem akuntansi manajemen merupakan suatu sistem akuntansi yang dirancang perusabaan untuk memberikan informasi kepada pibak-pibak pengelola perusabaan, agar mereka dapat menjalankan kegiatan mereka dengan lebib baik, karena itu informasi sistem akuntansi manajemen tidak perlu mengikuti aturan main tertentu selama informasi tersebut berguna bagi manajer. Ikatan Akuntan Indonesia MUNTANSI MANAJEMEN LANJUTM Masalahnya adalah apakah informasi sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi manajemen dapat dihasilkan dari satu sistem saja? Jawabannya adalab tidak. A d a tiga bal yang menyebabkan kedua sistem i n i tidak dapat disatukan. 1. Sistem akuntansi keuangan dirancang untuk mengbasilkan laporan keuangan perusabaan secara keseluruban. 2. Waktu pelaporan sistem akuntansi keuangan terlalu lama. 3. Sistem akuntansi keuangan melaporkan sesuatu yang sudab terjadi. 4. Penyusunan laporan akuntansi keuangan menggunakan asumsi yang berbeda. Sistem akuntasi keuangan dirancang untuk melaporkan laba perusabaan, serta laporan posisi keuangan perusabaan. Sedangkan untuk pengelolaan perusabaan, sistem informasi yang rinci lebib dibutuhkan, seperti pendapatan, beban, serta laba atau rugi per produk atau per pelanggan. Informasi i n i dibutuhkan misalnya untuk melakukan analisis profitabilitas produk atau pelanggan, analisis efisiensi biaya, analisis penentuan barga, dan sebagainya. Biasanya sistem akuntansi keuangan yang dimiliki perusabaan telab mencatat secara terpisab pendapatan yang diperoleb perusabaan untuk masing-masing produk ataupun pelanggan. Namun demikian bal yang serupa tidak terjadi pada pencatatan beban atau biaya perusabaan. Dalam kasus ini, biaya yang dikeluarkan perusabaan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung merupakan biaya-biaya yang dapat ditelusuri dengan akurat pada masingmasing obyek biayanya. Obyek biaya adalab "tempat" dimana biaya tersebut akan dibebankan. Obyek biaya dapat berupa produk, pelanggan, departemen, aktivitas, dan sebagainya. Dalam modul pada bab i n i , akan diasumsikan babwa obyek biaya adalab produk. Karena itu biaya langsung adalab biaya yang dapat dibebankan secara akurat pada masing-masing produk yang dibasilkan oleb perusabaan. Contoh dari biaya langsung adalab biaya baban baku langsung, maupun biaya burub langsung. Kategori lainnya adalab biaya tidak langsung. Biaya i n i merupakan biaya yang dipakai secara bersamasama untuk keseluruban produk yang dibasilkan atau dijual perusabaan. Biaya i n i dalam sistem akuntansi keuangan perusabaan tidak dicatat secara terpisab per produk, tapi dicatat untuk perusabaan secara keseluruban, karena pada dasarnya memang tidak ada urgensi bagi perusabaan untuk mencatat biaya i n i secara rinci untuk masing-masing produk, karena sistem akuntansi keuangan memang dirancang untuk melaporkan biaya perusabaan secara keseluruban. Masalah timbul ketika perusabaan ingin mengetabui biaya untuk masing-masing produk. Karena angka yang dimiliki banyalab angka biaya perusabaan secara keseluruban, maka untuk mengetabui angka biaya masing-masing produk, perusabaan akan melakukan alokasi biaya. Dasar alokasi biaya tidak langsung yang biasanyan dipakai perusabaan adalab: 1. Unit produksi 2. Unit terjual 3. Jam burub langsung 4. Biaya burub langsung 5. Biaya baban baku langsung 6. Jam mesin Alokasi biaya yang dilakukan dengan dasar alokasi tersebut akan menimbulkan basil yang tidak akurat, karena setiap dasar alokasi yang berbeda akan mengbasilkan angka alokasi yang berbeda pula. Dengan demikian, jika perusabaan banya memiliki satu sistim informasi, yaitu sistem informasi keuangan, maka sistem tersebut akan mengbasilkan informasi yang baik untuk pibak di luar perusabaan, namun tidak demikian balnya dengan informasi akuntansi untuk pibak-pibak di dalam perusabaan. Ikatan Akuntan Indonesia 3 AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN Taliap Ketiga - Pemisalian antara sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi manajemen. Dalam tahap ini, perusahaan memiliki sistem yang terpisah antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen Tahap Keempat - Tahap Integrasi. Dalam tahap ini sistem akuntansi akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen disatukan dalam sistem informasi perusahaan yang terintegrasi, seperti dalam konsep Enterprise Resource Planning ( E R P ) . Dalam konsep ini walaupun terintegrasi, sistem akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen tetap memiliki modul yang berbeda. 1.5 A k u n t a n s i B i a y a (Cost Accounting) Pemabaman mengenai akuntansi biaya (cost accounting), manajemen biaya {cost management), dan akuntansi manajemen (management accounting) seringkali terlibat tumpang tindib. H a l i n i terlibat dari banyaknya buku yang berjudul cost accounting, ataupun management accounting, ataupun cost management yang memiliki isi yang kurang lebib sama. Dalam modul ini, ketiga konsep i n i akan dibedakan sebagai berikut: 1. Akuntansi biaya mempelajari perhitungan biaya produksi per unit dengan tujuan untuk memberikan nilai pada persediaan yang dimiliki perusabaan, dan sekaligus menetapkan nilai beban pokok penjualan pada periode tersebut. 2. Akuntansi manajemen berbicara mengenai bagaimana cara menyediakan informasi akuntansi, serta teknik-teknik yang dapat dilakukan oleb manajemen dalam proses perencanaan, pengendalian (termasuk penilaian kinerja), serta pengambilan keputusan. 3. Manajemen biaya, merupakan bagian dari akuntansi manajemen yang bertujuan untuk memberikan informasi bagi manajemen agar dapat melakukan pengelolaan biaya perusabaan dengan lebib baik lagi. Dengan kata lain, tujuan utama dari manajemen biaya adalab efisiensi biaya. Dalam bukunya Relevant Lost, Kaplan dan Johnson (1987) menceritakan babwa ilmu akuntansi biaya berkembang setelah adanya revolusi industri, dimana semakin banyak perusabaan yang menjadi besar. Ekspansi perusabaan tersebut membuat banyak perusabaan mulai mencari dana dari luar, melalui pinjaman atau mengeluarkan sabam pada publik, untuk mendanai perkembangan perusabaan. Dalam rangka pencarian dana tersebut, perusabaan membutubkan laporan keuangan untuk disampaikan pada pibakpibak yang berminat untuk mendanai perusabaan, baik itu berupa pemberian pinjaman ataupun investasi langsung pada perusabaan tersebut. Secara spesifik, untuk perusabaan manufaktur, perusabaan perlu membagi biaya produksi mereka, yang terdiri dari baban baku langsung, burub langsung, dan overhead pabrik, menjadi proporsi yang akan dibebankan pada persediaan barang jadi dan persediaan barang dalam proses, serta proporsi yang akan masuk sebagai beban pokok penjualan. Misalkan, total biaya produksi yang dikeluarkan perusabaan pada tabun 2014 adalab Rp800.000.000. Tidak semua biaya produksi tersebut akan langsung dimasukkan dalam laporan laba-rugi. D a r i jumlab tersebut, sebagian biaya produksi dibebankan sebagai biaya produksi dari persediaan barang dalam proses, sebagian lagi akan dibebankan sebagai biaya produksi dari persediaan barang jadi. Hanya biaya produksi dari unit yang sudab terjual saja yang akan masuk kedalam laporan labarugi sebagai beban pokok penjualan. Untuk melakukan pembagian biaya produksi tersebut, diperlukan perhitungan biaya per unit dari masingmasing produk yang dibasilkan perusabaan. Perhitungan biaya per unit dari biaya langsung, seperti baban mentah langsung dan burub langsung, dapat dilakukan secara akurat untuk masing-masing produk. Namun seperti yang telab disebutkan sebelumnya, pencatatan biaya overhead pabrik biasanya dilakukan bukan Ikatan Akuntan Indonesia AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN untulc masing-masing produlc, namun untulc perusaliaan secara keseluruhan, akibatnya, pembebanan biaya overhead pabrik akan dilakukan dengan dasar alokasi seperti unit produksi, j a m burub langsung, dan sebagainya. v Seperti yang sudab dibabas sebelumnya, maka basil alokasi biaya tersebut tidak akan mengbasilkan angka perhitungan biaya per unit produksi yang akurat, karena dengan metode alokasi yang berbeda, akan mengbasilkan angka alokasi yang berbeda pula, sebingga dapat disimpulkan basil alokasi biaya overhead pabrik tersebut adalab tidak akurat. Untuk tujuan penyusunan laporan keuangan perusabaan manufaktur bagi pibak eksternal perusabaan, perhitungan biaya per unit yang tidak akurat tidak akan menjadi masalah. H a l i n i disebabkan karena kesalahan perhitungan biaya per unit tersebut banya bersifat perbedaan waktu {timing difference), yang nantinya setelah beberapa tabun secara total angkanya adalab benar. H a l i n i sama seperti metode penyusutan asset tetap perusabaan. Secara akuntansi, perusabaan dapat memilih untuk menyusutkan asset tetapnya dengan mempergunakan metode penyusutan garis lurus (straight-line) ataupun penyusutan yang dipercepat (double declining). Angka penyusutan untuk kedua metode tersebut setiap tabunnya akan berbeda, dimana untuk metode garis lurus beban penyusutan aset tetap akan sama dari tabun ke tabun, sedangkan untuk penyusutan yang dipercepat, maka beban penyusutan akan besar di awal, namun makin kecil di akbir masa bidup aset perusaba...
View Full Document

  • Summer '15
  • suwarjono

{[ snackBarMessage ]}

What students are saying

  • Left Quote Icon

    As a current student on this bumpy collegiate pathway, I stumbled upon Course Hero, where I can find study resources for nearly all my courses, get online help from tutors 24/7, and even share my old projects, papers, and lecture notes with other students.

    Student Picture

    Kiran Temple University Fox School of Business ‘17, Course Hero Intern

  • Left Quote Icon

    I cannot even describe how much Course Hero helped me this summer. It’s truly become something I can always rely on and help me. In the end, I was not only able to survive summer classes, but I was able to thrive thanks to Course Hero.

    Student Picture

    Dana University of Pennsylvania ‘17, Course Hero Intern

  • Left Quote Icon

    The ability to access any university’s resources through Course Hero proved invaluable in my case. I was behind on Tulane coursework and actually used UCLA’s materials to help me move forward and get everything together on time.

    Student Picture

    Jill Tulane University ‘16, Course Hero Intern