Bab 3 geomorfologi Indonesia.doc - Geomorfologi Indonesia Bab 3 Bab 3 Faktor Klimatik dalam Perkembangan Bentuklahan di Indonesia 3.1 Kondisi klimatik

Bab 3 geomorfologi Indonesia.doc - Geomorfologi Indonesia...

This preview shows page 1 - 2 out of 29 pages.

Geomorfologi Indonesia Bab 3 Bab 3 Faktor Klimatik dalam Perkembangan Bentuklahan di Indonesia 3.1 Kondisi klimatik dalam perspektif geomorfologikal Indonesia, sebagai jembatan antara bagian Asian Tenggara yang tropis lembab dan Benua Australia yang lebih kering, yang sebagian besar daerahnya dicirikan dengan iklim hujan tropis (Koppen A). Kondisi lebih dingin terjadi di pegunungan, dan pada elevasi lebih kurang 1250 m dengan suhu bulan terdingin tetap di bawah 18 derajad C dan iklim A memberikan peluang ke iklim temperatur sedang ( C Köppen). Sub-tipe dari iklim A terdapat Af (musim kering yang tidak tegas), iklim savana Aw ( dengan musim kering paling sedikit satu bulan curah hujan < 60 mm) dan sebarannya luas, iklim Am ( paling tidak satu bulan curah huajn < 60 mm tetapi hujan begitu banyak pada bulan lain sehingga dapat mengurangi kekeringan vegetasi). Iklim As sangat jarang di Indonesia. Gambar 3.1 menunjukkan batas antara iklim Af/Aw dan Aw. Iklim C dapat dibedakan menjadi Cf dan Cwa yang terjadi pada ketinggian di atas 1250 m. Curah hujan bervariasi, meskipun demikian, curah hujan dari tipe-tipe iklim tersebut umumnya berkurang dari barat ke timur. Sebagai contoh, curah hujan tercatat selalu lebih tingi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa Barat bagian selatan dan tengah dan sisi selatan dari Rangkaian Pegunungan Tengah Irian Jaya. Curah hujan sedikit lebih rendah terjadi di Kalimantan. Pantai Utara Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur iklimnya lebih kering dan mempunyai tipe iklim Aw, menjadi zona transisi dengan Indonesia bagian tenggara. Iklim savana (Aw) dominan di Sulawesi dan Nusa Tenggara, bahkan di beberapa tempat beriklim stepa (Köppen BS). Pantai utara Acin, Sumatra dan pantai selatan Irian Jaya juga relatif kering. Di atas ketinggian 3000 m iklim tropis pegunungan ETHi terjadi. Data curah hujan dari seluruh Indonesia disusun oleh Schmidt dan Ferguson (1951). Konfigurasi relief yang kompleks dari kepulauan Indonesia, dengan ketinggian lebih dari 5000 m menyebabkan naiknya massa udara lembab, basin antar pegunungan yang sempit di bayangan hujan dan gunungapi yang terisolir, dapat menghasilkan pola distribusi hujan yang kompleks, termasuk iklim pegunungan yang dingin. Jalur daerah kering yang sempit, terisolasi dapat terbentuk pada zona sesar di Sumatra dan Sulawesi, kondisi kering yang ekstrem terjadi dekat Palu, yang curah hujannya sama dengan di Alice Spring Australia. Perbedaan yang tegas terjadi antara lereng terlindung dari keruvut vulkan dan yang terbuka terhadap angin pembawa hujan. Hujan orografis, menyebabkan udara lembab naik pada lereng hadap angin, bertambah ketinggiannya hingga mencapai lebih kurang 2500 m, dan naik terus, kemudain udara kehilangan uap airnya. Pada lereng berlawanan arah angin massa udara panas turun dan mengakibatkan kondisi fohn. Sebagai contoh angin Bohorok di Sumatra Utara (Deli), angin Kumbang di dataran Cirebon dan angin Gending di sepanjang pantai utara Jawa Timur. Angin kering tersebut mempunyai efek terhadap vegetasi, erosi dan proses geomorfologikal. Sebagai
Image of page 1
Image of page 2

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 29 pages?

  • Spring '15

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes