vum-humum_ham.pdf - Hukum Hak Asasi Manusia Pusat Studi Hak...

This preview shows page 1 out of 430 pages.

Unformatted text preview: Hukum Hak Asasi Manusia Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII) Yogyakarta Katalog Dalam Terbitan (KDT) Knut D. Asplund, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (Penyunting/Editor) Hukum Hak Asasi Manusia/Rhona K. M. Smith, at.al.--Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008 17 cm x 25 cm xxiv + 405 hlm Bibliografi ISBN : 979-84960-3-4 1. Hukum Hak Asasi Manusia Desain Sampul : Eko Jay Tata Letak : Abrar I. Judul Cetakan Pertama, Maret 2008 Penerbit: Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII) Yogyakarta Jeruklegi RT. 13/RW. 35 Gg. Bakung No. 517A, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta Telp./Fax. (0274) 452032/452158 E-mail: [email protected] Website: Hukum Hak Asasi Manusia Penulis: Rhona K.M. Smith Njäl Høstmælingen Christian Ranheim Satya Arinanto Fajrul Falaakh Enny Soeprapto Ifdhal Kasim Rudi M. Rizki Suparman Marzuki Fadillah Agus Agung Yudhawiranata Andrey Sudjatmoko Antonio Pradjasto Sri Wiyanti Eddyono Eko Riyadi Editor Knut D. Asplund Suparman Marzuki Eko Riyadi Daftar Isi DAFTAR ISI DAFTAR ISI ...v PENGANTAR PENERBIT ...xv KATA PENGANTAR Philip Alston ...xvii Franz Magnis-Suseno ...xix BAGIAN PENGANTAR Maksud, Tujuan dan Kerangka Penulisan Buku ...3 BAGIAN I BAB I EVOLUSI PEMIKIRAN DAN SEJARAH ­PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA ...11 A. Konsep Dasar dan Perkembangan Pemikiran Hak Asasi Manusia ...11 (1) Konsep Dasar Hak Asasi Manusia ...11 (2) Perkembangan Pemikiran Hak Asasi Manusia ...14 (a) Generasi Pertama Hak Asasi Manusia ...15 (b) Generasi Kedua Hak Asasi Manusia ...15 (c) Generasi Ketiga Hak Asasi Manusia ...16 (d) Keberkaitan (Indivisibility) dan Kesalingtergantungan (Interdependence) ...17 (3) Universalisme dan Relativisme Budaya ...18 (a) Teori Universalis (Universalist theory) Hak Asasi Manusia ...19 (b) Teori Relativisme Budaya (Cultural Relativism Theory) ...20 (c) Memadukan Universalisme dengan Pluralisme ...23 (4) Hak Perempuan sebagai Hak Asasi Manusia ...24 v vi Daftar Isi B. Tonggak-Tonggak Sejarah Hak Asasi Manusia Kontemporer ...30 (1) Sebelum Perang Dunia II ...30 (a) Hak Asasi Manusia dan Hukum Internasional Tradisional ...31 (b) Intervensi Kemanusiaan ...31 (c) Penghapusan Perbudakan ...32 (d) Palang Merah Internasional ...32 (e) Liga Bangsa-Bangsa ...33 (2) Setelah Perang Dunia II ...34 (a) Hak Asasi Manusia Internasional Modern ...34 (b) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa ...35 (c) The International Bill of Human Rights ...36 BAB II PRINSIP-PRINSIP HAK ASASI MANUSIA DALAM HUKUM HAM INTERNASIONAL ...39 A. Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia ...39 (1) Prinsip Kesetaraan ...39 (2) Prinsip Diskriminasi ...40 (3) Kewajiban Positif untuk Melindungi Hak-Hak Tertentu ...40 B. Sifat Mengikatnya Instrumen Hak Asasi Manusia ...41 (1) Derogasi ...41 (2) Reservasi ...43 (3) Deklarasi ...47 (4) Hak-Hak Terbatas ...51 (5) Hak yang Tidak Dapat Diderogasi ...51 (6) Hirarki Hak ...52 C. Subjek Hukum Hak Asasi Manusia ...52 (1) Aktor Negara – Pemangku Kewajiban ...53 (2) Aktor Non-Negara – Pemangku Kewajiban ...54 (3) Aktor Non-Negara – Pemangku Hak ...57 D. Sumber-Sumber dan Sifat Dasar Hak Asasi Manusia ...58 (1) Sumber-Sumber Hukum ...58 (a) Hukum Kebiasaan Internasional ...59 (b) Hukum Perjanjian Internasional (treaty) ...61 (c) Kesepakatan Bilateral dan Regional ...62 (2) Sumber-Sumber yang Tidak Mengikat Secara Hukum ...63 (a) Deklarasi Organisasi-Organisasi Inernasional dan Regional ...63 (b) Kebijakan dan Praktek Internasional ...64 (c) Kebijakan dan Praktek Nasional ...64 (3) Praktek Nasional Menyangkut Norma HAM yang Bersifat Mengikat ...65 (a) Mengidentifikasi Norma-Norma Hak Asasi Manusia ...65 Daftar Isi (b) Bukti-Bukti yang Bersifat Mengikat ...66 (c) Praktek Negara ...67 E. Pelanggaran HAM ...68 (1) Definisi Pelanggaran Hak Asasi Manusia ...68 (2) Bukti-Bukti Pelanggaran ...70 (3) Penyelesaian Pelanggaran Hak Asasi Manusia ...70 F. Pertanggungjawaban Negara ...71 (1) Tanggung Jawab Negara ...71 (2) Dasar dan Sifat Tanggung Jawab Negara ...74 (3) Doktrin Imputabilitas ...76 (4) Konsep Reparasi ...79 (5) Prinsip Tanggung Jawab Negara dan Hak Asasi Manusia ...81 BAB III INSTRUMEN INTERNASIONAL HAK ASASI MANUSIA ...87 A. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) ...87 (1) Latar Belakang ...87 (2) Struktur Peraturan Perundang-Undangan Hak Internasional (International Bill of Rights) ...88 (3) Isi ...89 (4) Kekuatan Hukum dan Implementasi ...89 (5) Dampak dan Pentingnya DUHAM ...90 B. Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP) ...91 (1) Pembagian Hak antara Dua Kovenan ...91 (2) Cakupan KIHSP ...92 (3) Sifat Hak dalam KIHSP ...92 (4) Contoh Hak ...93 (a) Hak untuk Menentukan Nasib Sendiri ...94 (b) Hak untuk Hidup ...97 (c) Kebebasan Menyampaikan Pendapat ...101 (d) Hak Beragama dan Berkeyakinan ...105 (5) Mewujudkan Hak Sipil dan Politik ...110 C. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) ...111 (1) Lingkup Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) ...112 (2) Sifat Sifat Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya ...112 (3) Contoh Hak ...114 (a) Pendidikan ...114 (b) Hak Pekerja ...123 vii viii Daftar Isi (c) Standar Kehidupan yang Layak ...129 (4) Mewujudkan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya ...136 D. Instrumen-Instrumen Internasional Lainnya ...137 (1) Konvensi Hak Anak ...138 (a) Latar Belakang Konvensi ...139 (b) Lingkup Konvensi ...139 (c) Isu-isu Kunci ...140 (d) Mewujudkan Hak Anak ...146 (2) Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi ­terhadap Perempuan ...147 (a) Latar Belakang Konvensi ...147 (b) Lingkup Konvensi ...148 (c) Isu-isu Kunci ...148 (d) Mengembangkan Hak-Hak Perempuan ...153 (3) Konvensi Menentang Penyiksaan ...154 (a) Latar Belakang Konvensi ...154 (b) Lingkup Konvensi ...154 (c) Isu-isu Kunci ...155 (4) Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial ...159 (a) Latar Belakang Konvensi ...159 (b) Lingkup Konvensi ...160 (c) Bidang Pengembangan ...161 (5) Prinsip Konvensi-Konvensi International Labour Organisation Yang Pokok ...162 (a) Upah yang Setara ...163 (b) Jam Kerja ...164 (c) Rakyat Pribumi dan Tribal ...164 E. Penutup ...166 BAB IV MEKANISME PEMANTAUAN HAK ASASI MANUSIA INTERNASIONAL ...169 A. Pendahuluan ...169 (1) Badan dan Mekanisme Pemantauan Perserikatan Bangsa-Bangsa Berdasarkan Piagam ...171 (a) Pendahuluan ...171 (b) Dewan Hak Asasi Manusia ...174 (c) Komisi tentang Status Perempuan ...183 (d) Komisariat Tinggi untuk Hak Asasi Manusia ...184 (e) Komentar Penutup ...185 (2) Badan dan Mekanisme Pemantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa Berdasarkan Perjanjian Internasional ...186 Daftar Isi ix (a) Pengantar dan Gambaran Umum ...186 (b) Komisi untuk Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya ...191 (c) Komite Hak Asasi Manusia ...194 (d) Komite atas Penghapusan Diskriminasi Rasial ...203 (e) Komite tentang Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan ...205 (f ) Komisi Menentang Penyiksaan ...209 (g) Komite Tentang Hak Anak ...211 (h) Komite Pekerja Migran ...212 (i) Komentar Penutup ...213 (3) Tantangan dan Prospek didalam Sistem PBB ...214 (a) Hukum dan Kenyataan ...214 (b) Hukum dan Politik ...215 (c) Hanya Sekedar Pabrik Kertas Seperti Biasa? ...216 B. Mekanisme Pemantauan Regional ...217 (1) Eropa ...217 (a) Kerja Sama Politik ...218 (b) Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa – Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa ...219 (c) Masa depan Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa ...221 (2) Afrika ...222 (3) Kawasan Amerika ...224 (4) Asia ...226 (a) Pendahuluan ...226 (b) Tindak Lanjut ...227 (c) Mekanisme Hak Asasi Manusia Asia-Pasifik ...232 (d) Catatan Penutup ...233 BAGIAN II BAB V HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA ...237 A.Perkembangan Hak Asasi Manusia ...237 (1) Perdebatan Awal tentang Hak Asasi Manusia ...238 (2) Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Baru ...242 (3) Undang-Undang Hak Asasi Manusia ...243 B. Ratifikasi Perjanjian Internasional Hak Asasi Manusia ...245 BAB VI INSTRUMEN NASIONAL POKOK HAK ASASI MANUSIA ...247 A. Jaminan Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Republik Indonesia Hasil Amandemen ...247 x Daftar Isi B. Jaminan Perlindungan Hak Asasi Manusia menurut Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 ...253 (1) Asas-asas Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam UU No. 39 Tahun 1999 ...253 (a) Persamaan di Hadapan Hukum dan Imparsialitas (Pasal 5) ...254 (b) Perlindungan Masyarakat Adat (Pasal 6) ...254 (c) Upaya Hukum Nasional dan Internasional (Pasal 7) ...255 (d) Tanggung Jawab Pemerintah (Pasal 8) ...255 (2) Hak-Hak yang Diatur dan Dijamin dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 ...256 (a) Hak Hidup ...256 (b) Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan ...258 (c) Hak Mengembangkan Diri ...258 (d) Hak Memperoleh Keadilan ...259 (e) Hak atas Kebebasan Pribadi ...261 (f ) Hak atas Rasa Aman ...265 (g) Hak atas Kesejahteraan ...267 (h) Hak Turut serta dalam Pemerintahan ...268 (i) Hak Perempuan ...269 (j) Hak Anak ...269 (3) Kewajiban Negara dan Warga Negara ...271 (4) Pengadilan Hak Asasi Manusia ...272 (5) Kesimpulan ...273 C. Perlindungan Hak Asasi Manusia dalam Mekanisme Pengadilan Anak ...273 BAB VII MEKANISME PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA NASIONAL ...279 A. Pendahuluan ...279 B. Mahkamah Konstitusi ...279 C. Komisi Nasional ...283 (1) Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ...283 (a) Pengantar ...283 (b) Prinsip-Prinsip Paris ...283 (c) Sejarah, Tujuan dan Fungsi Komnas HAM ...284 (d) Penutup ...287 (2) Komisi Perlindungan Anak Indonesia ...289 (3) Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan ...290 (a) Mandat Komnas Perempuan ...291 (b) Pendekatan dan Kerangka Kerja ...292 (c) Prinsip ...293 Daftar Isi xi (d) Struktur, Perangkat dan Lingkup Kerja ...293 (e) Efektifitas Komnas Perempuan sebagai Insitusi HAM Nasional ...295 D. Komisi Ombudsman Nasional (KON) ...296 (1) Pengantar ...296 (2) Sejarah Ombudsman ...297 (3) Tujuan, Tugas dan Struktur Kelembagaan Komisi Ombudsman ­Nasional Indonesia ...299 BAB VIII PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA INDONESIA ...303 A. Latar Belakang ...303 B. Pengadilan Hak Asasi Manusia Indonesia berdasarkan Undang-Undang No.26 Tahun 2000 ... 304 C. Kesimpulan ...315 BAGIAN III BAB IX HUKUM HUMANITER ...321 A. Pengantar : Antara Hukum Hak Asasi Manusia, Hukum Humaniter dan Hukum Pidana Internasional ...321 (1) Pengantar ...321 (2) Kejahatan ...323 (3) Hubungan Antara Hukum Hak Asasi Manusia dan Hukum Pidana ­Internasional ...331 B. Hukum Humaniter ...333 (1) Pengantar ...333 (2) Prinsip-Prinsip Dasar Hukum Humaniter ...334 (3) Tujuan Hukum Humaniter ...335 (4) Sumber-Sumber Hukum Humaniter ...335 C. Perjanjian Internasional ...336 (1) Hukum Den Haag ...336 (a) Konvensi-Konvensi Den Haag 1899 ...336 (b) Konvensi-Konvensi Den Haag tahun 1907 ...337 (2) Hukum Jenewa ...339 D. Perjanjian-Perjanjian Lainnya ...340 E. Kebiasaan Internasional ...341 F. Prinsip-Prinsip Hukum Umum ...342 G. Putusan Mahkamah dan Doktrin ...343 (1) Putusan Pengadilan Nasional ...343 xii Daftar Isi (2) Putusan Mahkamah Internasional ...343 (a) Mahkamah Nuremberg dan Tokyo (1945) ...343 (b) Putusan ICTY (1993) & ICTR (1994) ...344 H. Doktrin ...344 I. Prinsip Pembedaan ...345 (1) Pengertian ...345 (2) Perkembangan Pengaturan Prinsip Pembedaan ...346 (a) Konvensi Den Haag 1907 ...346 (b) Konvensi Jenewa 1949 ...347 (c) Protokol I Tahun 1977 ...348 J. Perkembangan-Perkembangan Baru Hukum Humaniter ...349 (1) Perkembangan dalam Protokol 1977, Peraturan Tentang Pembedaan Antara Obyek Sipil Dan Sasaran Militer (Civilian Objects & Military Objectives) ...349 (2) Menurut Protokol I 1977 ...349 (3) Ketentuan Tentang Perlindungan Masyarakat (Civil Defence) ...350 K. Beberapa Perkembangan di Luar Protokol ...352 (1) Ketentuan tentang Ranjau Darat Landmines ...352 (2) Perkembangan tentang Hukum Perang di Laut ...353 (3) Perlindungan Lingkungan Alam Dalam Sengketa Bersenjata ...354 L. Ketentuan tentang Keterlibatan Anak dan Statusnya dalam Sengketa ­Bersenjata ...355 M. Mekanisme Penegakan Hukum Humaniter ...356 (1) Mekanisme Nasional Menurut Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 ...357 (2) Mekanisme Internasional ...358 (a) Mahkamah Internasional Ad Hoc Tentang Kejahatan Perang ...358 (b) Mahkamah Nuremberg ...358 (c) Mahkamah Tokyo ...359 (d) ICTY dan ICTR ...359 (e) Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court / ICC) ...360 BAB X KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI (KKR) ...363 A. Pengantar ...363 (1) Signifikansi KKR Bagi Mahasiswa ...363 (2) Latar Belakang KKR ...364 (3) Konteks dan Signifikansi KKR ...367 (4) Negara-Negara yang Pernah Menggunakan KKR ...369 Daftar Isi B. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ...372 (1) Defenisi dan Elemen KKR ...372 (2) Apakah Kebenaran dan Rekonsiliasi ...373 (3) Mandat KKR ...374 (4) Tujuan KKR ...379 (5) Pengalaman Beberapa Negara ...379 (a) Afrika Selatan ...380 (b) Argentina ...382 (c) El Salvador ...383 (d) Rwanda ...384 (e) Uganda ...384 C. KKR di Indonesia ...385 D. Kesimpulan ...389 DAFTAR PUSTAKA ...391 DAFTAR SINGKATAN ...403 DAFTAR PENULIS ....405 xiii xiv Daftar Isi Pengantar Penerbit xv Pengantar Penerbit Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas izin-Nya penulisan buku ini ­akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Pada bagian ini, saya akan menyampaikan gambaran sisi teknis ­proses penyusunan buku ini, dengan harapan pembaca akan mendapatkan ­gambaran yang utuh atas buku ajar ini. Penulisan buku ajar hak asasi ­manusia ini ­merupakan rekomendasi dari Semiloka Perumusan Kurikulum Hak Asasi Manusia pada Fakultas Hukum di Berbagai Universitas se-Indonesia yang ­dilaksanakan pada 30 Mei – 2 Juni 2005 atas kerjasama antara Pusat Studi Hak Asasi ­Manusia ­Universitas Islam Indonesia dengan Norwegian ­Centre for ­Human Rights (NCHR) University of Oslo, Norway. Rekomendasi ­tersebut ­muncul ­sebagai respon atas langkanya buku yang secara ­komprehensif ­mengulas hak asasi ­manusia serta kesulitan dosen pengajar mata kuliah hak asasi ­manusia ­karena belum ada standard kurikulum yang disepakati ­untuk ­diajarkan pada ­mahasiswa fakultas hukum di berbagai universitas ­se-­Indonesia. Rekomendasi tersebut tentu sangat baik dan dengan senang hati kami berusaha untuk mewujudkannya. Tahap demi tahap proses ­penyusunan buku ajar ini berjalan, dimulai dari workshop penyusunan silabi, model penulisan hingga penentuan siapa saja penulis yang akan diminta menulis naskah yang diperlukan. Setelah workshop selesai, muncullah kurang lebih dua ­belas nama yang memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menulis ­materi hak asasi ­manusia antara lain Rhona K.M. Smith, Njäl Høstmælingen, Christian ­Ranheim, ­Satya Arinanto, Enny Soeprapto, Ifdhal Kasim, Rudi M. Rizki, S ­ uparman ­Marzuki, Fadillah Agus, Agung Yudhawiranata, Andrey Sudjatmoko, Eko Riyadi. ­Setelah dua belas pakar tersebut merampungkan penulisan naskah, kemudian ­dilakukan focus group discussion yang dihadiri oleh para penulis dan pakar hak asasi manusia lain yang tidak menjadi penulis pada buku ajar ini. Focus group discussion ini dilakukan untuk menguji validitas dan bobot ilmiah naskah yang ditulis dan juga untuk merumuskan perkembangan baru yang belum terakomodasi di dalam naskah tersebut. Hasilnya adalah perlu ditambah beberapa bagian yang penting yang belum terakomodasi di dalam naskah buku. Oleh karenanya, kami mengundang tiga penulis lain yaitu ­Fajrul Falaakh, Antonio Prajasto, Sri Wiyanti Eddyono untuk memberi tambahan ­beberapa sub bab yang diperlukan. Pemilihan para penulis di atas didasarkan pada kompetensi dan pengalaman yang dimilikinya dengan harapan buku ajar ini dapat ditulis secara komprehensif dan berguna bagi proses disseminasi hak asasi manusia di Indonesia. Banyaknya penulis buku ajar ini memberikan satu kelebihan sekaligus kelemahan. Kelebihannya adalah bahwa naskah buku ajar ini akan sangat kaya dan komprehensif, mengingat para penulis adalah para pakar yang sangat xvi Pengantar Penerbit kompeten dan berpengalaman. Tiga nama yang pertama adalah pakar hak asasi manusia di beberapa universitas terkemuka di Eropa, sedangkan penulis lain yang dari Indonesia adalah orang-orang kunci dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia, mulai dari anggota KOMNAS HAM, hakim ad hoc hak asasi manusia, profesor hak asasi manusia, aktifis hak asasi manusia dan para peneliti di pusat studi hak asasi manusia di berbagai universitas. Kelemahannya adalah masing-masing penulis memiliki gaya bahasa yang berbeda dan memiliki kecenderungan pemikiran yang berbeda. Namun untuk menjembatani persoalan ini, kami telah berusaha melakukan editing yang diperlukan agar naskah buku ajar ini dapat dibaca dengan nyaman dan tidak ada perbedaan penggunaan istilah yang berlebihan. Proses inilah yang paling sulit, karena masing-masing penulis seringkali menggunakan ­istilah yang berbeda-beda untuk menyebut satu hal yang sama. Semoga proses ­editing yang telah dilakukan mampu memberikan kemudahan bagi pembaca. Hal lain yang perlu disampaikan adalah bahwa tiga orang pakar hak asasi manusia dari Eropa yaitu Rhona. K. M. Smith, Njäl ­Høstmælingen dan Christian Ranheim memberikan naskah dalam Bahasa Inggris dan ­kemudian kami ­terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Berkaitan dengan proses ­penerjemahan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Enny ­Soeprapto, Ph.D, yang telah membantu untuk membaca ulang naskah ­terjemahan ­buku ajar ini sehingga terhindar dari kesalahan-­kesalahan yang tidak perlu t­ erjadi. Secara khusus kami mengucapkan terimakasih kepada dan Prof. Philip Alston dan Prof. Franz Magnis Suseno yang telah berkenan memberikan kata pengantar yang sangat berarti pada buku ini. Terakhir, selaku Direktur Pusat Studi Hak Asasi Manusia ­Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII) Yogyakarta, saya ingin mengucapkan ­terimakasih kepada Director of Norwegian Centre for Human Rights (NCHR) University of Oslo, Norway sebagai pimpinan institusi yang telah memberikan dukungan yang sedemikian besar sehingga buku ini dapat diterbitkan. Kepada Knut Dagfinn Asplund dan Nicola Colbran, terimakasih atas kerjasamanya yang sangat baik. Kepada seluruh penulis, terimakasih telah mencurahkan ­keseriusan demi tulisan yang sangat baik dan bermanfaat. Terimakasih kepada saudara Imran, Supriyanto Abdi dan Laode Arham atas bantuan editing dan proof read naskah ini. Tidak lupa terima kasih kepada segenap tim PUSHAM UII yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah bekerja optimal tanpa lelah sehingga buku ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga buku ajar hak asasi manusia ini bermanfaat. Terimakasih. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. Direktur PUSHAM UII Yogyakarta Maksud, Tujuan dan Kerangka Penulisan Buku BAGIAN PENGANTAR 1 2 Maksud, Tujuan dan Kerangka Penulisan Buku Maksud, Tujuan dan Kerangka Penulisan Buku 3 MAKSUD, TUJUAN DAN KERANGKA PENULISAN BUKU A. Latar Belakang Pengajaran hak asasi manusia di perguruan tinggi di Indonesia hingga saat ini masih sangat didominasi oleh pendekatan filosofis dan kultural. Dalam pendekatan yang demikian, pengajaran hak asasi manusia lebih ditekankan pada perbincangan mengenai isu-isu pendasaran konsep hak asasi manusia, asal-usul dan justifikasinya (baik segi legal maupun kultural) --yang tidak bisa dilepaskan dari konteks politik yang berkembang saat itu. Selain itu, mata ­kuliah tersebut diberikan atau diasuh oleh dosen filsafat atau dosen hukum tata ­negara. Orientasi pengajarannya, dengan demikian, lebih ­banyak ­melihat ke dalam (inward looking).1 Artinya bahwa pengajarannya lebih ­difokuskan pada pencarian nilai-nilai di dalam negeri, ketimbang membicarakannya ­sebagai “kode internasional” untuk mengatur hubungan negara-negara ­setelah Perang Dunia II. Wacana yang dikembangkan dalam pengajaran yang ­demikian adalah mengontraskan nilai-nilai kultural yang ada di dalam negeri dengan nilai-nilai luar (asing), sehingga mengaburkan wacana hak asasi manusia yang berkembang dalam sejarah politik-hukum di Indonesia --sebagaimana akan dipaparkan dalam sub-bab di bawah ini. Keadaan yang dipaparkan di atas paling gamblang tampak pada ­pengajaran mata kuliah hak asasi manusia di fakultas-fakultas hukum di ­Indonesia.2 S­ebelum pengajaran hak asasi manusia berdiri sendiri sebagai mata 1 Studi-stud...
View Full Document

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture