Makalah ilmu fiqih.docx - BAB I Pendahuluan A Latar...

  • No School
  • AA 1
  • 8

This preview shows page 1 - 3 out of 8 pages.

BAB I Pendahuluan A. Latar belakang T ujuan ibadah puasa adalah terletak pada menahan makan dan minum, dan hubungan seksual, walaupun sebenarnya termasuk di dalamnya menahan diri dari segala panca indra kita kepada sesuatu yang tidak baik, seperti mata melihat yang bukan haqnya, telinga mendengarkan suara yang batil, mulut digunakan untuk mengunjing, berdusta, bersumpah palsu, memaki, mencerca, mengadu domba, tangan digunakan untuk mengambil yang bukan miliknya, pikiran yang teracuni oleh khayalan porno dan kemaksiatan lainnya. Dengan demikian puasa adalah sebuah tuntunan dari Allah SWT untuk manusia supaya mereka mendidik jiwanya, yang mana selama ini dalam mengarungi hidup dan kehidupannya yang selalu dan senantiasa terikat oleh nafsu perut dan syahwat yang merupakan penampakan dari nafsu yang rendah (jiwa sufli) untuk berubah berorientasi kepada qalbu (hati) dan aql (jiwa ulwi). B. Rumusan masalah 1. Apa Dasar Pensyariatan puasa dan tata cara puasa? 2. Syarat syarat wajib puasa? 3. Hal-hal yang membatalkan puasa C. Tujuan Agar kita dapat mengetahui dasar-dasar pensyariatan puasa wajib beserta tata cara puasa yang sesuai dengan kaidah islam. 1
Image of page 1
BAB II Pembahasan A. Pengertian Puasa Pengertian puasa Secara etimologis (bahasa), puasa dalam bahasa arab berasal dari kata, shaum dan siyam , artinya menahan, mengekang, diam, berhenti, atau menahan diri dari sesuatu, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Puasa menurut istilah (syariat) adalah menecgah diri dari segala perkara yang membatalkan, mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat ibadah kepada Allah SWT. Dalam istilah fiqih, itu berarti untuk menjauhkan diri dari makan, minum dan hubungan suami-istri (jima) antara suami-istri dari fajar sampai matahari terbenam dengan sadar. B. Dasar Pensyariatan Puasa Dalam syariat Islam, ibadah puasa didasarkan pensyariatannya di atas sumber-sumber utama, yaitu Al-Quran Al-Kariem, As-Sunnah , An-Nabawiyah dan juga Ijma’ (konsensus) seluruh ulama. Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW dan para shahabat telah mendapatkan perintah untuk mengerjakan puasa, diantaranya adalah puasa tiga hari setiap bulan dan puasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura’). Rasulullah SAW berpuasa tiga hari pada setiap bulannya dan beliau berpuasa di hari Asyura. (HR. Abu Daud) Lalu turunlah ayat yang memerintahkan beliau untuk mengerjakan puasa fardhu hanya di bulan Ramadhan saja. Sehingga semua puasa yang sudah ada sebelumnya tidak diwajibkan lagi, namun kedudukannya menjadi sunnah. Beliau sempat berpuasa sebelum Ramadhan selama 17 bulan lamanya.
Image of page 2
Image of page 3

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 8 pages?

  • Fall '19

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes