slmn.docx - ANALISIS \u201cCERPEN PEREMPUAN YANG TERGILA-GILA PADA IDENYA\u201d KARYA NI KOMANG ARIANI Disusun oleh Putri Yani 1600003028 Kelompok 1 Sartika

slmn.docx - ANALISIS u201cCERPEN PEREMPUAN YANG...

This preview shows page 1 - 3 out of 6 pages.

ANALISIS “CERPEN PEREMPUAN YANG TERGILA-GILA PADA IDENYA”KARYA : NI KOMANG ARIANIDisusun oleh Putri Yani 1600003028Kelompok :1.Sartika lidya ningrum2.Sari ramadhani3.Destia noprianti4.Rafida utari5.Dafik saputro6.Salman wibisono7.Ahmad Rifki ramadhani8.AdiluhungPENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIAFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA2018
Background image
Abstrak: Karya tulis ini membahas tentang gambaran feminisme dari tokoh utama dalam cerpen“perempuan yang tergila-gila pada idenya” karya Ni Komang. Dalam cerpen ini pada akhirnyadapat diketahui bahwa wanita dianggap rendah oleh kaum laki-laki, karena mereka menganggapkebanyakan kaum wanita memiliki fisik yang lemah. Namun di cerpen ini wanita di anggapsebagai pekerja keras. Demikian, istri dalam cerpen ini sebagai sosok perempuan yang kuatdalam menjalani kehidupannya walaupun dalam keadaan sakit berat. Sedangkan laki-laki“suami” digambarkan sebagai seorang yang mudah puas dengan apa yang dimilikinya.BAB IPENDAHULUANA.LATAR BELAKANG Teori feminisme adalah sebuah paham yang menentang budaya maupun kebijakanpolitik yang tidak menguntungkan kaum perempuan. Paham ini lantas berkembangmenjadi sebuah gerakan di Negara-negara barat pada sekitar tahun 1970-an. Pada masa itusegelintir kaum perempuan yang diklaim sebagai feminis, berjuang untuk memperolehhak-nya sebagai warga Negara. Salah satu hal yang ditekankan dari gerakan feminis iniadalah perempuan yang ingin mendapatkan hak-nya untuk berpolitik. Singkatnya,perempuan menuntut hak yang sama dengan yang kaum laki-laki dapatkan. Perjuanganinipun terus berjalan, seiring dengan berkembanhnya gerakan perempuan di berbagaiNegara, termasuk dinegara-negara Asia. Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Hanya segelintirperempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Feminismesering kali dianggap sebagai paham yang justru melemahkan posisi perempuan, karenaseolah-olah perempuan menuntut sesuatu yang ‘lebih’ dan ‘spesial’. Padahal, jika ditelusurikembali pada akar tujuannya, gerakan feminisme menuntutequal rightbukan specialright.Pengkritik feminisme juga melontarkan kritik keras “Setelah emansipasi. Kini
Background image
Image of page 3

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 6 pages?

  • Winter '18
  • Fitri Merawati, S.Pd., M.A

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture