prosiding-htmk-2015.pdf - ISSN 2355-7206 Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Volume 2 Nomor 2 Juni 2015 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi

prosiding-htmk-2015.pdf - ISSN 2355-7206 Jurnal Meteorologi...

This preview shows page 1 out of 272 pages.

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 272 pages?

Unformatted text preview: ISSN: 2355-7206 Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Volume 2, Nomor 2, Juni 2015 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika JMKG Vol. 2 No. 2 Hal. 1-262 Juni 2015 ISSN: 2355-7206 Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ISSN: 2355-7206 Volume 2, Nomor 2, Juni 2015 Diterbitkan oleh: Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Alamat: Jl. Perhubungan I No. 5 Komplek Meteo DEPHUB, Bintaro, Pondok Betung, Tangerang Selatan – 15221, Telp: 021-73691623 Fax: 021-73692676 E-mail: [email protected] Penanggung Jawab Dr. Suko Prayitno Adi Ketua Redaksi Hendro Nugroho, S.T., M.Si. Wakil Ketua Redaksi Dr. Agus Safril Dr. Endarwin Anggota Redaksi Drs. Suyatim, M.Si. Drs. Soetamto, M.Si. Drs. Ibnu Purwana, M.Sc. Drs. Agus Tri Susanto, M.Si. Dr. Suaidi Ahadi Dr. Indra Gustari Dr. Deni Septiadi Dr. Sugeng Pribadi Dr. Iman Suardi Alexandra Fishwaranta Rezky Prasetyo Hartiwi Sekretariat Dr. Supriyanto Rohadi Wisnu Karya Sanjaya, M.Si. Munawar Ali, M.Si. Hapsoro Agung Nugroho, S.T.,M.T. Hariyanto, S.T, M.T. Suharni, S.Pd.,M.T. I Kadek Nova Arta Kusuma Rindita Charolidya Disain dan Layout Agus Suhendro, S.Kom. Nardi, M.Kom. Hanifa Nur Rahmadini Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (Jurnal MKG) merupakan jurnal ilmiah sebagai sarana komunikasi untuk melaporkan hasil penelitian bidang ilmu meteorologi, klimatologi, kualitas udara, geofisika, lingkungan, kebencanaan, dan instrumentasi yang terkait. Jurnal ilmiah ini diterbitkan setiap empat bulan sekali dalam setahun. Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Volume 2, Nomer 2, Juni 2015 DAFTAR ISI ISSN: 2355-7206 Hal. 1. POTENSI TURBULENSI PADA PERISTIWA KECELAKAAN PESAWAT AIR ASIA QZ8501 Adinda Dara Vahada, Agung Hari Saputra, Muclishin Pramono Guntur Waseso, Rahma Fauzia Yushar, Hariadi 1–9 2. ANALISIS PERGERAKAN KABUT ASAP DAN VISIBILITY SAAT KEBAKARAN HUTAN DI PEKANBARU JANUARI – FEBRUARI 2014 DENGAN MENGGUNAKAN SATAID DAN HYSPLIT 10 – 15 Mentari Ika Damayanti dan Aries Kristianto 11 PREDIKSI CURAH HUJAN BULANAN MENGGUNAKAN PRINCIPAL COMPONENT REGRESSION DAN SST EOF INDONESIA DI STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA – BALI 16 – 31 I Wayan Andi Yuda 12 KAJIAN SUPERPOSISI COLD SURGE DAN GANGGUAN PUSARAN UDARA (VORTEX) DI KALIMANTAN BARAT : Studi Kasus Tahun 2009 Firsta Zukhrufiana Setiawati 32 – 40 13 PARAMETERISASI SEL AWAN KONVEKTIF PENYEBAB ANGIN KENCANG DI PESISIR BARAT BENGKULU BERDASARKAN WARNA GEMA CITRA RADAR (Studi Kasus : Tanggal 22 Februari 2014) Jaka Anugrah Ivanda Paski, Anjasman, dkk 41 – 50 ANALISA POLA HIDUP DAN SPASIAL AWAN CUMULONIMBUS MENGGUNAKAN CITRA RADAR (Studi Kasus Wilayah Bima Bulan Januari 2015) Novi Fitrianti, Apriliana Rizqi Fauziyah, dan Riska Fadila 51 – 61 PENGUJIAN DATA HUJAN PADA STASIUN HUJAN MELIPUTI STASIUN PRUMPUNG, STASIUN DOLO, STASIUN JANGKANG, DAN STASIUN GONDANGAN DI LERENG GUNUNGAPI MERAPI, DIY Annisa Ayu Fawzia dan Rahadian Andre Wiradiputra 62 – 77 3. INSTALASI PEMBANGKIT LISTRIK ALTERNATIF RUMAH TANGGA DENGAN MEMANFAATKAN ANGIN SEBAGAI UNSUR CUACA DAN IKLIM UNTUK MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN ENERGI BAGI MASYARAKAT Salis Deris Artikanur 78 – 85 4. INTEGRASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH SATELIT TRMM (TROPICAL RAINFALL MEASUREMENT MISSION) DENGAN SISTEM PERTANIAN “PRANATA MANGSA” UNTUK OPTIMALISASI PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI KARANGSAMBUNG, KEBUMEN, JAWA TENGAH Yoesep Budianto dan Rizal Faozi Malik 86 – 95 5. ESTIMASI NILAI CURVE NUMBER MENGGUNAKAN SOFTWARE SWAT PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI CITARUM HULU Ikrom Mustofa 96 – 103 6. PEMODELAN TINGGI PASANG AIR LAUT DI KOTA SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN MAXIMAL OVERLAP DISCRETE WAVELET TRANSFORM (MODWT) 104 – 114 Rezzy Eko Caraka, Hasbi Yasin, dan Suparti VERIFIKASI PREDIKSI CURAH HUJAN CITRA RADAR CUACA BATAM JENIS S-BAND KLYSTRON METEOR 1500S DENGAN DATA OBSERVASI HELLMAN PADA WILAYAH BATAM DAN TANJUNG PINANG Agita Devi Prastiwi dan Nizam Mawardi 115 – 118 7. ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER PADA KEJADIAN MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX (MCC) DI LAUT JAWA (STUDI KASUS TANGGAL 10-11 DESEMBER 2014 DAN 27-28 DESEMBER 2014) Bony Septian Pandjaitan dan Adhitya Prakoso 119 – 137 ANALISIS KEJADIAN ANGIN BAHOROK DI SUMATERA UTARA MENGGUNAKAN DATA OBSERVASI (Studi Kasus Bulan Mei dan Juni 2013) Reza Bayu Perdana 138 – 145 8. EFEK BENDUNG PEGUNUNGAN MERATUS TERHADAP SEBARAN CURAH HUJAN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERIODE TAHUN 2009-2012 Rizqi Nur Fitriani dan Agung Hari Saputra 146 – 155 9. IDENTIFIKASI TEBAL LAPISAN BATAS ATMOSFER MENGGUNAKAN DATA VELOCITY DAN SPECTRAL WIDTH RADAR SERTA PARAMETER TURBULENSI DARI WRF-ARW DI DAERAH JAKARTA DAN SEKITARNYA Anggi Dewita 156 – 165 ANALISIS PROYEKSI PERUBAHAN IKLIM DENGAN RCP 4.5 DAN 8.5 DI WILAYAH MAJENE TAHUN 2011 - 2050 Eva Prameuthia HUBUNGAN CURAH HUJAN DENGAN FENOMENA GLOBAL (SOI, NINO 4, NINO 3.4 & NINO WEST)DI WILAYAH PAPUA DAN PAPUA BARAT 166 – 175 Linda Natalia So’langi dan Nuryadi,S.Si,M.Si 176 – 185 PENGARUH INTENSITAS RADIASI MATAHARI TERHADAP ENERGI LISTRIK DI STASIUN PEMANTAU ATMOSFER GLOBAL BUKIT KOTATABANG 186 – 192 Dwi Lestari Sanur PROFIL UNSUR CUACA STASIUN METEOROLOGI FRANS KAISIEPO BIAK (TAHUN 2010-2012) 193 – 200 Pamungkas Irjayanti, Putri Meinelva, dan Margaretha R. Simanjuntak ANALISA KEADAA CUACA SAAT KECELAKAAN PESAWAT MERPATIMA-60 DI TELUK KAIMANA (STUDI KASUS: TANGGAL 7 MEI 2011) 201 – 206 Ardin dan Nuryadi PERBANDINGAN PREDIKSI SIFAT HUJAN BULANAN ANTARA ANALISIS KOMPONEN UTAMA MODEL ARIMA DAN METODE PROBABILITAS DI STASIUN METEOROLOGI PONGTIKU TANA TORAJA 207 – 215 Finkan Danitasari ALAT PENGUKUR DURASI PENYINARAN MATAHARI DIGITAL BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 16 A 216 – 227 Muhammad Ridwan dan Agus Tri Susanto PRAKIRAAN ARAH SEBARAN KABUT ASAP (SMOG) DI PROVINSI RIAU MARET TAHUN 2015 DILIHAT DARI ILMU KLIMATOLOGI (STUDI KASUS HOTSPOT DI PROVINSI RIAU) 228 – 241 Hadiman dan Rezfiko Agdialta PENGARUH FENOMENA MONSUN ASIA-AUSTRALIA TERHADAP TINGGI GELOMBANG LAUT DI INDONESIA Rizki Fadhillah Pratama Putra 242 – 250 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER KEJADIAN HUJAN EKSTRIM MEMANFAATKAN CITRA RADAR, SATELIT, DAN MODEL WRF (STUDI KASUS, BENGKULU, 20 APRIL 2014) Jaka Anugrah Ivanda Paski, Firman Setiabudi, dan Dyah Ajeng Sekar Pratiwi 251 – 262 Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 POTENSI TURBULENSI PADA PERISTIWA KECELAKAAN PESAWAT AIR ASIA QZ8501 Adinda Dara Vahada1, Agung Hari Saputra1, Muclishin Pramono Guntur Waseso1, Rahma Fauzia Yushar1, Hariadi1 1 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Email: [email protected] ABSTRAK Berdasarkan pemberitaan Kemenhub di akhir tahun 2014 ini, telah dikagetkan adanya kecelakaan pesawat Air Asia pada posisi kordinat 3.60 LS dan 1080 BT yang diakibatkan oleh kemunculan awan Cumulonimbus ( Cb ). Hal ini sangat menarik bagi peneliti untuk mengkaji kondisi atmosfer pada sekitar lokasi kejadian tersebut . Penelitian ini menggunakan model numerik WRF-ARW untuk mengidentifikasi proses turbulensi di sekitar lokasi kejadian dengan ditunjang data kelembaban udara, dan menggunakan data citra satelit untuk memaparkan kondisi fisis dari identifikasi awan Cumulonimbus dilengkapi dengan data dokumen penerbangan sepanjang rute penerbangan yang dilalui pesawat Air Asia QZ8501. Hasil analisa menunjukkan adanya proses turbulensi pada ketinggian jelajah sekitar 7 s/d 8 km dan 10 s/d 12 km diatas permukaan laut yang ditunjukkan dengan indeks turbulensi dan indeks Richardson ditunjang dengan pola sel awan Cb yang besar dengan suhu puncak awan mencapai -800 C dengan masa hidup lebih dari 6 jam dan cakupan radius sel Cb 5° x 1° grid. Kata Kunci : Pesawat Air Asia, Awan Cumulonimbus, Analisa, Turbulensi ABSTRACT According to Kemenhub, at the end of 2014, public was surprised by the Air Asia QZ8501 accident that occurred at 3.6°S and 108°E which caused by Cumulonimbus cloud (Cb). To analyze the cause of this accident, WRF-ARW has been used to identify the turbulence occurrence possibility at the mentioned coordinate, supported by the use of, humidity, and satellite imagery and also flight document along Air Asia QZ8501 flight route. The analysis showed that there was a turbulence process happened at 7-8 km and 10-12 km above mean sea level which is showed by turbulence index and Richardson index and supported by wide Cumulonimbus cloud pattern with top cloud temperature reached -80°C, life cycle reached more than 6 hours and its radius was 5° x 1° grids. Keywords : Air Asia, Cumulonimbus cloud, analysis, turbulence 1. PENDAHULUAN Tanggal 28 Desember 2014, pesawat AirAsia type Airbus A320-200 dengan nomor penerbangan QZ 8501 dengan rute penerbangan Surabaya – Singapura dilaporkan menghilang di 42 mile timur dari Pulau Belitung atau sekitar wilayah selat Karimata pada jam 23.35 UTC. Laporan kontak terakhir dari pesawat tersebut yaitu pada jam 23.24 UTC pada lokasi 3.6 LS 108 BT ( Kemenhub, 2014 ) dengan ketinggian flight level 32.000feet diatas permukaan air laut dengan isi laporan bahwa pada saat lokasi tersebut pesawat akan menghindari adanya awan Cumulonimbus ( Cb ) dengan berbelok kearah kiri dan meminta izin untuk 1 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 menaikkan ketinggian menjadi 38.000feet. Dalam kajian ini, peneliti akan menganalisa secara meteorologis terkait kondisi atmosfer pada lokasi kejadian serta bagaimana potensi turbulensi di sekitar wilayah jatuhnya pesawat AirAsia tersebut. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Awan Cumulunimbus Awan CB adalah jenis awan cumulus dengan ketebalan vertikal yang besar dan campuran kristal es dibagian atas dan tetes air di bagian bawah, karakteristik ini menyebabkan menurunkan hujan deras namun setelah periode hujan deras kemudian hujan gerimis masih bisa terjadi sangat lama. Masa hidupnya kurang lebih 2 jam. Ketinggian 2000 m - 16.000 m atau setara 6500 - 60.000 ft (Rio Rusandi, 2013). Bila ditinjau dari arah dan kecepatan aliran vertikal siklus awan Cb, maka ada tiga tahapan - tahapan pertumbuhan awan Cb yaitu : a. Tahap Pertumbuhan (Cumulus Stage) Dalam awan terdiri dari arus naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air maupun kristal2 es, masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan. b. Tahap Dewasa (Mature Stage) Titik2 air tidak tertahan lagi oleh udara naik ke puncak awan. Hujan turun menimbulkan gaya gesek antara arus udara naik dan turun. c. Tahap Mati (Dissipating Stage) Tidak ada massa udara naik, massa udara yang turun meluas diseluruh awan. Kondensasi berhenti, udara yang turun melemah hingga berakhirlah pertumbuhan awan Cumulunimbus (Cb). Gambar 1. Tahap pembentukan awan CB (a) tahap pertumbuhan (b) tahap dewasa (c) tahap mati (en.wikipedia.org/wiki/thunderstorm) 2.2.Turbulensi Menurut Curry, J. A., and Webster, J. P. 1999, turbulensi merupakan aliran yang tidak beraturan yang memiliki skala yang kecil yang terjadi pada gerakan udara ratarata. Turbulensi biasanya memiliki ciri memiliki arah aliran udara yang memutar (swirl) yang tidak beraturan (eddies) Turbulensi adalah gerakan udara yang tidak teratur dan seketika yang dihasilkan sejumlah eddy kecil yang menjalar di udara (Zakir dkk., 2010). Hal ini disebabkan fluktuasi aliran angin yang acak, konvektif, zona front, variasi temperatur, dan tekanan. Menurut Lee (2013) turbulensi dapat dianggap sebagai gangguan yang menyimpang dari kondisi rata – ratanya. Salah satu contohnya yakni turbulensi konvektif yang terjadi akibat awan konvektif, di dalam awan ini terjadi turbulensi yang besar terutama saat terjadi hujan dan badai guntur (Blackadar, 2000). International Civillian Aviation Organization (ICAO) mendefinisikan 2 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 turbulensi sebagai perubahan percepatan gravitasi (g) pesawat secara cepat dalam kurun waktu tertentu (Hermawan dan Abidin, 2006). Meteorological Office College (1997) menyatakan kaitan turbulensi dan Vertical Wind Shear. 2.3. Indeks Turbulensi Beberapa indeks yang digunakan untuk melihat potensi turbulensi antara lain adalah Turbulence Index 1 (TI1), Turbulence Index 2 (TI2) dan Richardson Number (Ri). TI1 dan TI2 memperhitungkan deformasi horizontal dan Turbulensi berkekuatan sedang dinyatakan dengan Vertical Wind Shear sekitar 6 kt/1000 ft (9,7 x 10-3 s-1). Turbulensi berkekuatan hebat dinyatakan dengan Vertical Wind Shear sekitar 9 kt/1000 ft (15 x 10-3s-1). Vertical Wind Shear. TI2 hampir sama dengan TI1 tetapi ditambahkan dengan unsur konvergensi. Indeks Ri memperhitungkan nilai Vertical Wind Shear dan stabilitas udara. Berdasarkan penelitian Achmad Sasmito, nilai Richardson lebih dari 150 mengindikasikan turbulensi yang cukup kuat. 3. DATA DAN METODE 3.1. Lokasi Penelitian Gambar 2. Lokasi Penelitian 3 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 Lokasi penelitian yang dikaji di wilayah selat karimata terlihat pada Gambar 2. AT =0.5( T / n)(DEF( cos( 2 β)+CVG) (2.1) dimana AT = intensitas frontogenesis T / n = gradien suhu sensibel terhadap 3.2. Data Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan data berupa : 1. Data Flight Document dari Aviation.bmkg.go.id 2. Data satelit MTSAT 3. Data Final Reanalisis ( FNL ) dengan resolusi 10 x 10 isoterm DEF DST DSH 3.3. Metode Metode yang digunakan adalah 1. Menganalisa temporal dan vertikal dari data kelembaban udara. 2. Perhitungan indeks turbulensi secara vertikal Perhitungan indeks turbulensi dilakukan dengan menggunakan data FNL yang di running dengan model Numerik WRF-ARW dengan output data .ctl dan .dat. Dalam penelitian ini, indeks yang digunakan untuk melihat potensi turbulensi adalah TI1, TI2 dan Ri. TI1 dan TI2 memperhitungkan deformasi horizontal dan shear vertical . TI2 hampir sama dengan TI1 tetapi ditambahkan konvergensi. Indeks Ri memperhitungkan nilai shear vertikal dan stabilitas udara. a) Turbulence Index Ellrod dan Knapp mengembangkan indeks – indeks yang dikenal sebagai Turbulence Index 1 (TI1) dan Turbulence Index 2 (TI2) untuk melakukan prediksi turbulensi. Indeks – indeks tersebut berasal dari persamaan Petterssen tentang intensitas frontogenik. CVG = deformasi horizontal (DST2 + DSH2)1/2 = peregangan = ( u / x v / y ) = horizontal wind shear = ( v / x + u / y ) = sudut antara sumbu peregangan dan isoterm suhu potensial = konvergensi = -( u / x + v / y ) Gradien suhu terkait dengan Vertical Wind Shear dan persamaan angin termal. Hubungan tersebut dapat dilihat dalam Persamaan 2.2. dT fT V = dn g z (2.2) dimana T / n = gradien suhu sensible terhadap isoterm f = parameter coriolis T = suhu g = percepatan gravitasi bumi V / z = VWS = ((u / z ) 2 + (v / z ) 2 )1 / 2 Penyederhanaan dari persamaan di atas menghasilkan indeks TI1 dan TI2 dalam satuan (s-2). TI1 VWS DEF (2.3) TI 2 VWS.(DEF+CVG) (2.4) 4 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 b) Richardson Number Indeks Ri adalah rasio perbandingan antara stabilitas dengan kuadrat VWS (Vertical Wind Shear). Hal ini menyebabkan Ri dianggap ideal untuk menggambarkan potensi turbulensi. g Ri z2 V z ((u / z ) 2 + (v / z ) 2 )1 / 2 (2.5) 4. Dimana Ri = Richardson Number g = percepatan gravitasi bumi = suhu potensial / z = perubahan suhu potensial terhadap ketinggian V / z = VWS = 3. Mengambil kesimpulan dari analisa spasial, temporal dan vertical. ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Turbulensi Gambar 3. Indeks RI (a) jam 23.00 UTC (b) jam 23.30 UTC (c) jam 24.00 UTC Berdasarkan gambar diatas didapatkan bahwa indeks ricahrdson menunjukkan nilai pada ketinggian 10 – 12 km yakni diatas 100. Hal ini mengindikasikan bahwa teredapat potensi guncangan yang cukup kuat pada lokasi sekitar kejadian. 5 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 Gambar 4. Indeks TI1 (a) jam 23.00 UTC (b) jam 23.30 UTC (c) jam 24.00 UTC Berdasarkan gambar diatas didapatkan bahwa indeks turbulensi 1 menunjukkan nilai pada ketinggian 7 – 10 km yakni 2 – 4 x 10-7 s-1 . Hal ini mengindikasikan bahwa teredapat potensi turbulensi ringan pada lokasi sekitar kejadian. Gambar 5. Indeks TI2 (a) jam 23.00 UTC (b) jam 23.30 UTC (c) jam 24.00 UTC Berdasarkan gambar diatas didapatkan bahwa indeks turbulensi 1 menunjukkan nilai pada ketinggian 7 – 8 km yakni 5 – 10 x 10-7 s-1 . Hal ini mengindikasikan bahwa teredapat potensi turbulensi sedang hingga kuat pada sisi sebelah kiri lokasi kejadian peristiwa tersebut. 4.2. Analisa Citra Satelit 6 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 Gambar 6. Citra satelit IR2 (a) jam 23.00 tgl. 27 (b) jam 00.00 tgl 28 (c) jam 01.00 tgl 28 Berdasarkan gambar diatas didapatkan bahwa pada lokasi kejadian terdapat kumpulan awan cumulunimbus yang memilki cakupan area yang besar . Hal ini mengindikasi munculnya pola awan MCS ( Mesoscala Convective System ). Gambar 7. Profil Suhu puncak awan Berdasarkan profil time series suhu puncak awan didapatkan bahawa awan kumulunimbus mulai terbentuk pada jam 02.00 UTC pada tanggal 27 desember 2014 dan meluruh pada jam 10.00 UTC dan fase baru munculnya awan kumulunimbus pada jam 17.00 UTC dan bertahan samapai jam 02.00 UTC tanggal 28 desember 2014. 4.3. Analisa Kelembaban Udara Dari gambar dibawah didapatkan bahwa Pada tanggal 27 Desember – 29 Desember 2014, dapat dilihat bahwa kelembaban relatif cukup tinggi. Hal tersebut menunjang pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) dimana pada tanggal 7 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 meluruh namun disertai pembentukan awan Cb baru. dengan 4.4. Analisa Flight Document Gambar 8. Profil Vertikal Kelembaban udara di Lokasi Kejadian 27 Desember 2014 mulai pukul 23.00 UTC hingga jam 00.00 UTC, aktivitas Cb Berdasarkan Gambar 9, Sigwx daerah bertanda merah menunjukkan area Cumulonimbus dimana sel tunggal dan / atau badai dengan cakupan spasial maksimum kurang dari 50 persen dari daerah yang terkena, atau diperkirakan akan terpengaruh. serta menujukkan bahwa badai (termasuk awan cumlonimbus yang tidak disertai dengan badai) terdapt dalam lapisan awan lain dan tidak dapat dikenali dengan mudah dan jenis awan Cumlonimbus dengan tingi puncak awan 48.000 feet dan tinggi dasar tidak dapat diperkirakan. Tabel 1. Wind Temp per level Level (FEET) 5000 10000 18000 24000 30000 34000 39000 45000 Wind Temp Angin Kecepatan Arah (Knot) Barat Daya - Barat laut 10 - 25 kt Barat Daya - Barat laut 5 - 25 kt Barat Daya - Timur laut 5 - 15 kt Timur laut – Selatan 5 - 20 kt Timur laut - Tenggara 10 - 30 kt Timur - Tenggara 15 - 35 kt Timur laut - Tenggara 15 - 20 kt Timur laut - Tenggara 20 - 30 kt Temperature (0C) 18 8 - 10 - 5 - -6 - 14 - -15 - 29 - -30 - 39 - -40 - 52 - -53 - 68 - -69 Gambar 9. Significant Weather dan Wind Temp ( Aviation.bmkg.go.id ) 8 Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol.2 No. 2 Juni 2015 5. KESIMPULAN Berdasarkan Analisis diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : Dampaknya Pada Pesawat. Jakarta: Puslitbang BMKG. Zakir, A., dkk. 2010. Perspektif Operasional Cuaca Tropis. Jakarta : BMKG. 1. Adanya potensi turbulensi di sekitar lokasi kejadian jatuhnay pesawat air asia QZ8501 pada level ketinggian 7 – 12 km diatas permukaan laut. 2. Adanya pertumbuhan awan CB yang besar dengan luas cakupan mencapai 5 x 1° grid dengan masa hidup lebih dari 6 jam. DAFTAR PUSTAKA Blackadar, A. K. 2000. Turbulence and Difussion in the Atmosphere. Philadelphia, USA : Springer-Verlag. Curry, J. A., and Webster, J. P. 1999. Thermodynamics of Atmosphere and Oceans. London : Academic Press. Edvin A., dkk. 2014. Kecelakaan Air Asia QZ8501 Analisis Meteorogis. Jakarta : BMKG. Hermawan, E., dan Abidin, Z. 2004. Estimasi Parameter Turbulensi Untuk Jasa Penerbanga...
View Full Document

  • Winter '18
  • Anendha
  • Test

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes