Startup Coop sebagai Inovasi Model Koperasi di Indonesia.pdf - Startup Coop sebagai Inovasi Model Koperasi di Indonesia1 Sebuah Gagasan dan Praktik Awal

Startup Coop sebagai Inovasi Model Koperasi di...

This preview shows page 1 - 2 out of 10 pages.

1 | P a g e Startup Coop sebagai Inovasi Model Koperasi di Indonesia 1 Sebuah Gagasan dan Praktik Awal Oleh: Firdaus Putra, HC. 2 dan Novita Puspasari, HC. 3 Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) A. PENGANTAR Perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat pesat dengan market size nomor 1 di ASEAN. Dan diprediksikan akan terus tumbuh pada empat sektor utama: financial technology, ecommerce, on demand service dan internet of thing (IoT). Hal itu disebabkan karena jumlah penduduk paling banyak di ASEAN, kelas menengah yang terus tumbuh dan yang paling penting adalah infrastruktur digital yang mulai bagus. Tercatat bahwa pengguna smartphone di Indonesia mencapai 150 juta pengguna atau setara dengan 56% dari total populasi sebanyak 265 juta jiwa. Tingkat penetrasi internet mencapai 355,5% per tahun 2019 ( WeAreSocial, 2019 ). Geliat ekonomi digital di atas momentumnya mulai tahun 2011 dan terus tumbuh sampai sekarang dengan ekosistem yang cukup kuat. Startuprangking.com melaporkan bahwa Indonesia termasuk peringkat 5 di dunia dalam pertumbuhan startup yang mencapai 2.140. Angka tersebut belum memasukkan startup lokal yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia (34 provinsi, 514 kota/ kabupaten). Ekosistem yang ada saat ini ditunjang oleh beberapa pilar: lembaga incubator (swasta/ pemerintah), angel investor, venture capitalist, pemerintah, kampus dan komunitas sehingga mampu menarik perhatian generasi milenial mendirikan berbagai startup. B. PRAKTIK AWAL Tahun 2018 kami mulai mempelajari modus dan model ekonomi baru itu melalui berbagai diskursus, buku dan seminar. Sharing economy, collaborative economy, business platform dan sejenisnya menjadi istilah yang santer dibicarakan. Hal itu membuat kami tertantang untuk menyobanya dan dimulai dari sebuah inisiasi sederhana di sebuah kota kecil, Purwokerto i . Kami memulai pilot project pertama itu dengan menggandeng software house lokal dan hasilnya: gagal. Saat itu kami mengira bahwa startup adalah sekedar aplikasi/ teknologi. Refleksi kami atas kegagalan itu bahwa startup bukan sekedar aplikasi/ teknologi, melainkan soal model bisnis yang diinovasi sedemikian rupa sehingga bisa bisa di-scaling up tanpa batas. Kuncinya terletak pada talenta digital, sehingga dari kegagalan itu lalu kami mendirikan lembaga inkubator yang bernama InnoCircle Initiative. ii Dari sanalah kemudian para talenta digital berkumpul dan berkomunitas. Mulailah kami melakukan inkubasi yang pada Gelombang Pertama ada sekitar 5 startup dan Gelombang Kedua ada 5 startup juga. 1 Paper dipresentasikan di Platform Cooperativism Conference , New York, 7-9 November 2019 dimana ICCI mewakili Indonesia untuk membagi praktika dan gagasan yang sedang berkembang di tanah air. 2 Direktur Kopkun Institute, COO Kopkun Group dan terlibat dalam penyusunan background study RPJMN 2020-2024 Bidang Koperasi bersama Bappenas. HC akronim dari Homo Cooperativus, kami sematkan di belakang nama sebagai penanda/ label sejak tahun 2012. HC bukan gelar akademik.
Image of page 1
Image of page 2

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 10 pages?

  • Spring '20

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture