bab 2 - 6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENELITIAN 2.1....

Info iconThis preview shows page 1. Sign up to view the full content.

View Full Document Right Arrow Icon
This is the end of the preview. Sign up to access the rest of the document.

Unformatted text preview: 6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN METODE PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Manfaat laporan arus kas telah dibuktikan oleh beberapa peneliti, salah satunya Bowen et al. (1986). Penelitian-penelitian kandungan informasi laba telah menunjukkan hasil yang relatif konsisten, namun penelitian kandungan informasi arus kas masih menunjukkan hasil yang belum konklusif (Ali, 1994). Beberapa peneliti melakukan pengujian untuk membandingkan manfaat informasi laba dan arus kas. Lee (1974) dalam Hodgson et al. (2000) menyatakan bahwa kebutuhan informasi investor dapat dipenuhi oleh arus kas, bukan laba akuntansi karena laba sangat rentan terhadap praktik manipulasi dan perubahan metode akuntansi. Menurut Syafriadi (2000) dengan mengetahui sifat laba sebagai data seri waktu, maka perubahan laba tersebut bersifat acak dan ada korelasi yang serial. Hal ini menunjukkan bahwa laba memiliki potensi sebagai prediktor. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wilson (1986) dan Ali (1994), yang meneliti mengenai isi informasi inkremental laba dengan hasil penelitian bahwa komponen laba akrual (atau total akrual yang didefinisikan sebagai kas operasi dikurangi laba) dan komponen dana (kas operasi) memiliki informasi inkremental apabila dana didefinisikan sebagai kas operasi. Bowen et al. (1986) lebih menegaskan dalam hasil penelitiannya bahwa arus kas sebagai prediktor arus kas adalah lebih baik dibandingkan dengan dengan laba, khususnya untuk periode prediksi 1 atau 2 tahun. Finger (1994) juga menguji mengenai relevansi laba untuk kemampuannya memprediksi laba dan arus kas masa depan, dan menyimpulkan bahwa laba adalah signifikan sebagai prediktor laba di masa depan sampai dengan periode 8 tahun di muka dan laba baik digunakan secara parsial maupun bersama-sama dengan arus kas merupakan prediktor yang signifikan juga bagi arus kas. Arus kas dalam periode jangka pendek adalah prediktor arus kas yang lebih baik dibandingkan dengan laba atas arus kas. Namun, hasil penelitian yang dilakukan Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 7 oleh Parawiyati dan Baridwan (1998) yang juga meneliti kemampuan laba dan arus kas dalam memprediksi laba dan arus kas perusahaan manufaktur yang telah go public di Indonesia menemukan bahwa, baik dengan memasukkan faktor deflator (consumer price index) maupun tanpa faktor deflator tersebut, prediktor laba memberikan pengaruh yang lebih besar dalam memprediksi laba dan arus kas untuk periode satu tahun ke depan dibandingkan dengan dengan prediktor arus kas. Syafriadi (2000) yang meneliti kemampuan laba dan arus kas dalam memprediksi laba dan arus kas menyatakan bahwa laba sebagai prediktor memang memiliki pengaruh yang lebih erat dengan laba dibandingkan dengan dengan prediktor arus kas dengan nilai t-hitung 3,913 yang signifikan pada alfa 0,05 untuk prediktor laba dan 3,715 untuk prediktor arus kas yang juga signifikan pada alfa 0,05. Sementara itu, ketika ia menguji kemampuan laba dibandingkan dengan dengan arus kas sebagai prediktor arus kas, hasilnya menunjukkan bahwa prediktor laba tidak memiliki hubungan yang erat dengan arus kas dibandingkan dengan dengan hubungan prediktor arus kas dengan arus kas masa depan yang signifikan pada alfa 0,05. Hasil penelitian Syafriadi (2000) ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Finger (1994) dan Bowen et al. (1986). Kusuma (2003) dalam penelitiannya menguji nilai tambah kandungan informasi laba dan arus kas, khususnya arus kas pada saat laba bersifat permanen. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa laba tidak mempunyai nilai tambah kandungan informasi di luar informasi yang diberikan oleh arus kas operasi. Arus kas operasi mempunyai nilai tambah kandungan informasi di luar informasi yang diberikan oleh laba serta memiliki nilai tambah kandungan informasi pada saat laba mengandung komponen transitori. Cheng et al. (1996) juga menguji nilai tambah informasi arus kas operasi ketika laba bersifat transitori. Secara umum hasilnya menunjukkan bahwa nilai tambah kandungan informasi arus kas operasi menunjukkan peningkatan ketika sifat permanen laba menurun. Nilai tambah kandungan informasi arus kas diduga akan meningkat ketika laba mempunyai kemungkinan besar tersentuh oleh praktik-praktik manipulasi yang menyebabkan munculnya komponen transitori dalam laba. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 8 Supriyadi (1999) dalam penelitiannya mengenai kemampuan laba versus arus kas dalam memprediksi arus kas masa depan menggunakan tiga model peramalan arus kas, yaitu cash flow model, earnings model, dan earnings-cash flow model. Berdasarkan pengujian hipotesisnya dinyatakan bahwa data arus kas memberikan informasi yang lebih baik untuk meramalkan arus kas masa depan dibandingkan dengan laba. Ia juga menegaskan bahwa laba menambah sedikit terhadap kemampuan arus kas dalam memprediksi arus kas masa depan. Hasil yang senada juga diperoleh oleh DeFond dan Hung (2001) yang juga menguji arus kas dan laba untuk memprediksi arus kas masa depan antara perusahaan dengan atau tanpa ramalan arus kas. Hasil penelitiannya mengindikasikan bahwa laba secara signifikan memiliki sedikit kemampuan dan arus kas secara signifikan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memprediksi arus kas masa depan di antara perusahaan-perusahaan dengan ramalan arus kas. Temuannya ini konsisten dengan permintaan partisipan pasar akan ramalan arus kas ketika laba secara relatif kurang informatif dan arus kas lebih informatif dalam memprediksi arus kas masa depan. Mereka mengekspektasi bahwa arus kas membantu partisipan pasar menginterpretasi informasi yang terkandung dalam laba, dan menilai viabilitas perusahaan. Partisipan pasar mungkin menggunakan arus kas untuk menginterpretasi informasi dalam laba, contohnya dengan membandingkan arus kas terhadap laba bersih karena arus kas kurang subjektif daripada akrual. Barth et al. (2001) dalam hasil penelitiannya yang menguji kemampuan prediksi laba agregat tahun berjalan dan masa lalu untuk arus kas periode selanjutnya mengungkapkan bahwa laba tahun berjalan adalah signifikan dalam memprediksi arus kas satu tahun ke depan. Hasilnya juga mengungkapkan bahwa lags of earnings adalah signifikan dalam memprediksi arus kas periode berikutnya. Namun, karena laba agregat tahun berjalan bukan merupakan prediktor arus kas masa depan yang tidak bias, maka digunakanlah peran akrual dalam memprediksi arus kas masa depan. Hasilnya menunjukkan bahwa laba disagregat tahun berjalan secara signifikan memiliki kemampuan prediksi yang lebih dibandingkan dengan laba agregat tujuh tahun. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 9 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kim dan Kross (2002) malah menyatakan bahwa kemampuan laba untuk memprediksi arus kas operasi masa depan meningkat dan peningkatan kemampuan prediksi ini sepanjang waktu bertahan untuk beberapa horizon peramalan. Mereka menggunakan tiga model untuk memprediksi arus kas operasi masa depan, yaitu earnings model, lalu earnings tersebut didisagregasi ke dalam arus kas dan komponen akrual yang disebut dengan full model. Untuk menilai kekuatan penjelas arus kas operasi dan komponen akrual, full model tersebut dipecahnya menjadi CFO model dan accrual model. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kekuatan penjelas dari laba disagregat meningkat sepanjang waktu dan baik arus kas operasi maupun akrual tampak memiliki kontribusi dalam peningkatan ini. Rata-rata kekuatan penjelas dari laba disagregat meningkat dari 0.28 selama periode waktu 1981— 1989 menjadi 0.36 dalam periode waktu 1990—1998. Akhirnya, hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara laba tahun berjalan dan arus kas masa depan menguat sepanjang waktu. Di samping itu, uji Theil’s U untuk full model mengindikasikan bahwa kemampuan CFO untuk memprediksi CFO satu tahun ke depan meningkat sepanjang periode sampelnya dan laba agregat memiliki peningkatan dalam kemampuannya untuk memprediksi arus kas operasi masa depan. Kim dan Kross (2002) dalam penelitiannya juga melakukan analisis sensitivitas, yaitu dengan mengelompokkan perusahaan menjadi perusahaan yang melaporkan laba positif dan yang melaporkan laba negatif. Mereka ingin melihat apakah laba perusahaan yang menderita kerugian memiliki asosiasi yang rendah dengan arus kas masa depan dibandingkan dengan perusahaan yang melaporkan laba positif. Hal itu penting karena Hayn (1995), dalam Kim dan Kross (2002), menemukan bahwa perusahaan yang melaporkan kerugian memiliki tingkat asosiasi yang rendah antara laba dan return saham dibandingkan dengan perusahaan yang melaporkan laba positif. Hasil penelitian Watson dan Wells (2005) juga menyatakan bahwa pada perusahaan yang berlaba ukuran kinerja yang berbasis laba memiliki keterkaitan yang tinggi dengan return saham dibandingkan dengan arus kas. Sebaliknya, pada saat perusahaan merugi, kekuatan penjelas dari model yang digunakannya Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 10 berkurang dan terdapat koefisien negatif yang signifikan pada ukuran-ukuran kinerja sehingga disimpulkan bahwa baik ukuran berbasis laba maupun arus kas tidak ada yang dapat menangkap kinerja dengan baik. Namun, hasil penelitian Kim dan Kross (2002) mengindikasikan bahwa adanya hubungan yang menguat antara laba dan arus kas masa depan meskipun diperoleh hasil yang lebih lemah untuk perusahaan yang melaporkan laba. Dengan demikian, adanya perusahaan yang berlaba ataupun merugi tidak mengubah simpulan hasilnya bahwa hubungan antara laba dengan arus kas masa depan meningkat sepanjang waktu. Sebaliknya, hubungan antara arus kas tahun berjalan dengan arus kas masa depan meningkat secara signifikan untuk perusahaan yang melaporkan rugi. Hasilnya signifikani tersebut hilang untuk perusahaan yang berlaba yang artinya hubungan antara arus kas tahun berjalan dengan arus kas masa depan tidak meningkat maupun menurun. Sedangkan dari hasil penelitian Dahler dan Febrianto (2007) bahwa Laba memiliki kemampuan untuk memprediksi arus kas masa depan pada perusahaan yang melaporkan laba positif dan laba negatif. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 11 (2.1) Tabel Penelitian Terdahulu Tahun 1974 1986 1986 1994 1994 Nama Pengarang & Judul Lee (1974) dalam Hodgson, et al. (2000). Earnings, Cashflows, and Returns : Functional Relations and The Impact of Firm Size. Hasil Sumber Kebutuhan informasi investor dapat dipenuhi oleh arus kas, bukan laba akuntansi karena laba sangat rentan terhadap praktik manipulasi dan perubahan metode akauntansi. Bowen, Robert M, David Arus kas sebagai Burgstahler, et al. prediktor arus kas adalah Evidence on The lebih baik dibandingkan Relationship Between dengan laba, khususnya Earnings And Various untuk periode produksi 1 Measures of Cash Flows. atau 2 tahun. Accounting and Finance. 40. pp. 51-73 Wilson, P.G.. The alternative Information Content of Accrual and Cash Flow : Combined Evidence at The Earnings Announcement and Annual Report Release Date. Komponen laba akrual (atau total akrual yang didefinisikan sebagai arus kas operasi dikurangi laba) dan The Accounting Research. Vol. 24, Supplement, pp. 165-200. Komponen dana (kas operasi) memiliki informasi inkremental apabila dana didefinisikan sebagai kas operasi. Journal Of Accountig Research. Vol. 32, No. 1, pp. 61-73. Laba adalah signifikan sebagai prediktor laba di masa depan sampai dengan periode 8 tahun di muka dan laba baik digunakan secara parsial Journal of Accounting Research, Vol. 32 pp.210-23. Ali, Ashiq. The Incremental Information Content of Earnings, Working Capital from Operations and Cash Flows. Finger. The ability of earnings to predict future earnings and cash flow. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 The Accounting Review (LXI) No. 4 pp. 713-725 Universitas Indonesia 12 1995 2002 Hayn (1995) dalam Kim dan Kross (2002). The Ability Of earnings to Predict Future Operating Cash Flows Has Been Increasing – Not Decreasing 1996 Cheng, C.S.A., Chao Shin Liu, et al. Earnings Permanance and The Incremental Information Content of Cash Flows from Operations. 1998 2007 Parawiyati dan Baridwan (1998) dalam Dahler, Yolanda, Rahmat Febrianto (2007). Kemampuan Prediktif Earnings dan Arus Kas Dalam Memprediksi Arus Kas Masa Depan. 1999 Supriyadi. The Predictive Ability of earnings Versus Cash Flows Data to Predict Future Cash Flows : a Firm Spesific Anáyisis. 2001 Defond dan Hung. An Empirical Analysis of maupun bersama-sama dengan arus kas merupakan prediktor yang signifikan juga bagi arus kas. Perusahaan yang melaporkan kerugian memiliki tingkat asosiasi yang rendah antara laba dan return saham dibandingkan dengan perusahaan yang melaporkan laba positif. Nilai tambah kandungan informasi arus kas operasi menunjukkan peningkatan ketika sifat permanent laba menurun. Nilai tambah arus kas diduga akan meningkat ketika laba mempunyai kemungkinan besar tersentuh oleh praktik-praktik manipulasi yang menyebabkan munculnya komponen transitori dalam laba. Dengan memasukkan faktor deflator (consumer price index) maupun tanpa faktor deflator tersebut, prediktor laba memberikan pengaruh yang lebih besar dalam memprediksi arus kas untuk periode satu tahun ke depan dibandingkan dengan prediktor arus kas. Data arus kas memberikan informasi yang lebih baik untuk meramalkan arus kas masa depan dibandingkan dengan laba. Laba menambah sedikit terhadap kemampuan arus kas dalam memprediksi arus kas masa depan. Laba secara signifikan memiliki sedikit Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Social Science Research Network Journal of Accounting Research. Vol. 34, No. 1, Spring, 173-181. Jurnal Akuntansi dan Bisnis. Vol. 2 No. 2 Juli. Gadjah Mada International Journal of Business. Vol. 1 September, h. 113-132 Social Science Research Universitas Indonesia 13 Flow kemampuan dan arus kas secara signifikan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memprediksi arus kas masa depan di antara perusahaanperusahaan dengan ramalan arus kas. Bath, Mary et al. Laba tahun berjalan adalah dalam Accruals and The signifikan Prediction of Future memprediksi arus kas satu tahu ke depan. Longs of Cash Flows. earnings adalah signifikan dalam memprediksi arus kas periode berikutnya. Kim dan William Cross. Adanya hubungan yang The Ability of earnings to menguat antara laba dan Predict Future Operating arus kas masa depan Cash Flows Has Been meskipun diperoleh hjasil yang lebih lemah untuk Increasing-Not Decrasing. perusahaan yang melaporkan laba. Analysis Forecast. 2001 2002 2003 2005 Cash Kusuma, Poppy DIAN Indira. Nilai Tambah Kandungan Informasi Laba dan Arus kas Operasi. Watson, Jodi dan Peter Wells. The Association Between Various Earniings and Cash Flows Measures of Firm Performance and Stock Return : Some Australian EvidenceI. Laba tidak mempunyai nilai tambah kandungan informasi di luar informasi yang diberikan oleh arus kas operasi. Pada perusahaan yang berlaba ukuran kinerja yang berbasis laba memiliki keterkaitan yang tinggi dengan return saham dibandingkan dengan arus kas. Sebaliknya, pada saat perusahaan merugi, kekuatan penjelas dari model yyang digunakannya berkurang dan terdapat koefisien negatif yang signifikan pada ukuran-ukuran kinerja sehingga disimpulkan bahwa baik ukuran berbasis laba maupun arus kas tidak ada Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Network. The Accounting Review. Vol. 76. pp. 27-58. Social Science Research Network. SNA VI, h. 3043165. Social Science Research Network. Universitas Indonesia 14 yang dapat menangkap kinerja dengan baik. 2007 Yolanda Dahler dan Laba memiliki Jornal akuntansi Rahmat Febrianto. kemampuan untuk dan Bisnis. Vol. Kemampuan Prediktif memprediksi arus kas 2 No. 2. Earnings dan Arus Kas masa depan pada Dalam memprediksi Arus perusahaan yang Kas Masa Depan. melaporkan laba positif dan laba negatif. Sumber : Hasil olahan peneliti dari berbagai sumber 2.2. Konstruksi Model Teoritis 2.2.1. Laporan Keuangan Laporan Keuangan terdiri dari 4 laporan yaitu, neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Bapepam dan Bursa Efek Indonesia mewajibkan preusan yang terdaftar di bursa untuk menyampaikan laboran keuangan perusahaan karena laboran keuangan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti investor, analis, kreditor, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. 2.2.2. Konsep Laba Kondisi “pasar persaingan sempurna” merupakan hal yang mustahil terjadi dalam dunia dengan tingkat kepastian yang rendah. Dalam menjelaskan konsep laba ekonomi, kita menggunakan asumsi “pasar keuangan sempurna” untuk dapat menjelaskan hubungan antara laba, arus kas, dan asset. Sebagaimana menurut White, Sondhi, dan Fried (1997) yang mendefinisikan laba ekonomi sebagai arus kas bersih di tambah dengan harga pasar dari aktiva bersih perusahaan. Namun, dalam dunia nyata, arus kas masa depan dan tingkat suku bunga memiliki ketidakpastian yang tinggi. Begitu pula dengan hubungan antar variabel laba, arus kas, dan aset yang bersifat tidak mutlak dan tidak pasti. Misalnya dalam perhitungan nilai pasar suatu aset ketika akan dijual, terdapat ketidakkonsistenan dalam valuasi nilai pasar aset tersebut. Dalam penggunaan biaya pengembalian (replacement cost) ataupun liquidating value yang digunakan, tentunya perhitungan dibuat berdasarkan estimasi pasar yang bisa saja berubah-ubah nilainya dari waktu ke waktu. Begitu pula dalam Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 15 menentukan nilai wajar aset saat ini dan arus kas masa depan aset tersebut, terdapat kesulitan dalam menentukannya. Kesulitan ini dapat terjadi karena dalam menentukan nilai dari nilai wajar aset ini dan arus kas masa depan, dibutuhkan nilai implisit dari suku bunga yang mana nilai tersebut merupakan hasil estimasi yang tercipta dari sudut pandang pasar dalam menilai aset yang akan diukur. Dengan demikian, penilaian yang menggunakan estimasi yang berbeda, akan dihasilkan nilai laba yang berbeda pula, tergantung dari penilaian mana yang digunakan dalam mengukur aset tersebut. Sehingga, dalam dunia nyata dimana tingkat ketidakpastian cukup tinggi, pengukuran laba semata-mata dilakukan untuk mencari proksi dari laba ekonomi. Berdasarkan pada kenyataan tersebut, para pakar ekonomi, analis, dan pihak lainnya mendefinisikan secara praktis makna ’laba’ sebagai proksi dari laba ekonomi. White, Sondhi, dan Fried (1997) merangkum definisi tentang laba sebagai berikut : laba terdistribusi (distributable earnings) didefinisikan sebagai yang didistribusikan dalam bentuk dividen yang mana tidak mengubah nilai perusahaan yang bersangkutan. Laba terdistribusi ini sebelumnya juga telah dikembangkan dalam sebuah konsep yang menyatakan bahwa laba merupakan jumlah yang dapat dikonsumsi seseorang dalam suatu periode waktu tertentu yang mana tidak mengubah angka awal periode dan angka pada akhir periode. Dengan demikian, laba terdistribusi dapat dikaitkan dengan dividen yang dibagikan kepada pemilik modal dan menjaadi laba bagi pemilik modal tersebut. Definisi lain yang juga diungkapkan adalah laba terpelihara (sustainable income). Laba terpelihara didefinisikan sebagai laba dengan tingkat tertentu yang dapat dipelihara di masa depan dan dijadikan sebagai modal investasi yang tersedia bagi perusahaan. Laba terpelihara dalam definisi tersebut dapat berupa aktiva tetap ataupun persediaan yang sewaktu-waktu dapat dijual kembali dan dipelihara hingga waktu tertentu. Sehingga laba yang demikian dapat dikategorikan sebagai aset perusahaan. Definisi lain yang juga dijelaskan adalah laba permanen (permanent earnings) yakni sebagai sejumlah laba tertentu yang secara normal dapat dihasilkan oleh perusahaan dan merupakan hasil formulasi dari perhitungan aset perusahaan yang dikalikan dengan nilai pengembalian yang dipersyaratkan Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 16 (required rate of return) oleh perusahaan. Dengan mengacu pada konsep laba ekonomi, definisi laba permanen mendasarkan perhitungan pada nilai pengembalian yang dipersyaratkan (required rate of return) mencapai nilai wajar penggunaan aset perusahaan. Sehingga definisi ini banyak digunakan oleh analis untuk melakukan pengukuran dan analisis tentang laba masa depan perusahaan. Definisi-definisi tentang laba diatas dikembangkan dalam rangka mencakup konsep laba ekonomi. Namun dalam praktiknya, terdapat kesulitan untuk mengadopsi konsep ini karena terkait dengan masalah pengukuran dan valuasi dari aset. Kegagalan implikasi dari konsep laba ekonomi inilah yang memunculkan suatu konsep baru yang biasa dikenal sebagai laba akuntansi. Konsep laba akuntansi lebih memfokuskan perhitungan secara akrual untuk mendapatkan valuasi yang lebih akurat tentang dan arus kas masa depan suatu perusahaan. Penekanan konsep laba akuntansi lebih pada laba yang dapat terukur secara handal, sehingga konsep laba akuntansi lebih banyak digunakan dalam dunia akuntansi. Earning atau laba akuntansi dalam laporan keuangan merupakan salah satu parameter kinerja perusahaan yang mendapat perhatian utama dari investor. Pentingnya informasi laba disebutkan dalam Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 bahwa laba memiliki manfaat untuk menilai kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representative dalam jangka panjang, memprediksi laba dan menaksir risiko dalam investasi atau kredit. Tujuan utama penyajian laba akuntansi adalah menyediakan informasi yang berguna bagi mereka yang berkepentingan dengan laporan keuangan. Apa yang perlu diperhitungkan dalam laba akuntansi, tergantung tujuan yang ingin dicapai dari penyajian laba akuntansi itu sendiri. Konsep laba bisa didefinisikan dari pendekatan ekonomi maupun pendekatan akuntansi. Konsep laba berdasarkan pendekatan ekonomi adalah arus kas perusahaan yang sebenarnya dapat diberikan kepada investor tanpa dipengaruhi oleh perubahan produktivitas. Sedangkan laba menurut pendekatan akuntansi adalah laba perusahaan yang dilaporkan dalam laporan keuangan (Benstein, 1984 : 543). Laba akuntansi diukur dengan konsep akrual dan memberikan informasi mengenai kemampuan perusahaan utnuk menghasilkan Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 17 arus kas di masa depan. Menurut Dechow, laba adalah ringkasan dari ukuran performa perusahaan berdasarkan prinsip akrual basis. Dua prinsip akuntansi yang penting dalam proses penciptaan laba adalah revenue recognition principle dan matching principle. Revenue Recognition principle menyatakan bahwa pendapatan dapat diterima jika perusahaan telah melaksanakan seluruh kewajiban atau sebagian kewajiban yang penting atas servis yang akan atau telah dikerjakan dan telah menerima pembayaran. Sedangkan matching principle, menyatakan bahwa kinerja operasi hanya dapat diukur apabila penghasilan dan biaya terdeteksi pada periode dimana pendapatan tersebut diakui. Dengan adanya prinsip-priinsip tersebut, maka proses akrual dapat mengurangi masalah timing and matching yang terkandung di dalam arus kas sehingga laba semakin dekat dalam menggambarkan performa perusahaan (Dechow dan Ge, 2005 : 4). Dalam penelitian ini definisi laba yang digunakan sebagai variable dependen adalah income from continuing operations atau laba usaha karena di laba usaha belum termasuk beban pajak dan beban-beban yang termasuk dalam discontinued operations (Sloan : 293). 2.2.3. Konsep Presistensi Laba Persistensi laba akuntansi adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa depan (expected future earnings) yang diimplikasi oleh laba akuntansi tahun berjalan (current earnings) (Pennman, 1982). Besarnya revisi ini menunjukkan tingkat persistensi laba. Konsep presistensi menggambarkan sejauh mana probabilitas laba akan terulang kembali di masa depan. Semakin persisten suatu pos dalam laporan keuangan maka posisi laba dalam laporan laba rugi akan semakin tinggi. Sedangkan untuk pos dengan tingkat persistensi yang rendah, posisi laba akan terlihat menurun. Dalam konsep akuntansi keuangan, perusahaan dengan tingkat persistensi yang tinggi memiliki kecenderungan memperoleh arus kas yang tinggi pula di masa depan. Disebabkan tingkat keluar masuknya uang sering terjadi. Begitu pula dengan perusahaan dengan tingkat persistensi yang rendah, kecenderungan memperoleh kas di masa depan juga rendah. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 18 2.2.4. Pengertian Kas dan Setara Kas Menurut Peryataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2, paragraf 5, SAK Per 1 Oktober 2004, kas merupakan komponen aktiva yang terdiri dari saldo kas dan rekening giro. Sedangkan definisi setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Sedangkan dalam paragraf 6 dijelaskan bahwa setara kas dimiliiki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Oleh karena itu, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tidak termasuk setara kas, kecuali substansi investasi saham tersebut adalah setara kas. 2.2.5. Akuntansi Berbasis Kas Pencatatan yang dilakukan pada saat akuntansi berbasis kas mencatat pendapatan bila sejumlah uang telah diterima atau mencatat beban ketika sejumlah uang telah dikeluarkan. Pengukuran konsep laba pada akuntansi berbasis kas didasarkan pada diterimanya pendapatan dan dikeluarkannya beban sehingga prinsip pengakuan dan prinsip matching tidak diakui pada akuntansi berbasis kas ini. 2.2.6. Kas, Arus Kas, serta Arus Kas Bebas Kas merupakan komponen dari current asset yang terlikuid (Asnawi, Wijaya, 2006 : 223). Kas memiliki kepastian tertinggi sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai discretionary. Kas seringkali dinyatakan sebagai arus kas, maupun arus kas bebas. Perbedaan mendasar biasanya kas dimaksudkan sebagai uang yang tersedia (saat ini) sedangkan arus kas atau kas bebas dimaksudkan sebagai proyeksi arus kas yang akan diterima. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 19 Perubahan kas dapat disebabkan oleh pembiayaan (financing) yakni perubahan liabitity ditambah dengan perubahan equity, investasi. Aset dapat dihitung dengan penjumlahan antara liabilities dan equity. Sedangkan Perubahan aset yaitu perubahan antara liabilities ditambah dengan perubahan equity. Secara umum perubahan kas dapat diperhatikan dari persamaan neraca berikut : Asset (A) = Liabilities (L) + Equity (E) (2.1.) ΔA = ΔL + ΔE (2.2.) ΔCash + ΔNon cash = ΔL + ΔE (2.3.) ΔCash = ΔL + ΔE - Δnon cash (2.4.) Dimana : ΔNoncash = Account Receivables, Financial Assets (pembelian atau penjualan), Fixed Asset. 2.2.7. Laporan Arus Kas Laporan arus kas, salah satu dari laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan, adalah Laporan Keuangan yang melaporkan jumlah kas yang dikumpulkan atau dibayarkan oleh perusahaan dalam satu periode (Albrecht, Stice, 2005, et al : 32). Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. Tujuan laporan arus kas adalah memberikan informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, aktivitas investasi maupun aktivitas pendanaan selama periode akuntansi. Bodie, Kane, Marcus (2006 : 287) menyatakan bahwa laporan arus kas (statement of cash flows) merinci arus kas yang diterima dari aktivitas operasi, Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 20 investasi, dan pendanaan perusahaan. Laporan ini wajib disajikan menurut Financial Accounting Standard Board tahun 1987 yang kadang disebut sebagai FASB Statement No. 95, atau FAS 95. Meskipun laporan laba rugi dan neraca didasarkan pada metode akuntansi akrual, yang berarti bahwa pendapatan dan beban diakui ketika terjadinya meskipun belum terjadi nperpindahan kas, laporan arus kas hanya mengakui transaksi telah mengubah jumlah kas. Perbedaan utama lain antara laporan laba rugi dan laporan arus kas adalah depresiasi, yang merupakan tambahan utama bagi laba dan merupakan bagian penyesuaian dari laporan arus kas. Laporan laba rugi mencoba untuk mengalokasikan pengeluaran modal ke dalam beberapa periode waktuu agar ukuran profitabilitas yang dihasilkan tidak terdistorsi oleh pengeluaran dalam jumlah besar dan hanya sesekali terjadi. Beban depresiasi dari laporan laba rugi merupakan cara untuk melakukan hal itu yaitu dengan mengakui pengeluaran modal dalam beberapa periode waktu, bukan pada tahun di mana terjadinya pengeluaran tersebut. Akan tetapi, laporan arus kas mengakui implikasi kas dari pengeluaran modal ketika terjadinya. Ini akan mengabaikan beban depresiasi selama beberapa periode waktu dan memperhitungkan pengeluaran modal seluruhnya pada saat dibayarkan. Laporan arus kas tidak mengalokasikan beban dari waktu ke waktu, sebagaimana laporan laba rugi, melainkan melaporkan arus kas secara terpisah dari aktivitas operasi, investasi, dan pembiayaan. Dengan cara ini, adanya arus kas yang besar, seperti arus kas untuk investasi besar, dapat diakui secara eksplisit sebagai hal yang tidak berulang (nonrecurring) tanpa mempengaruhi ukuran kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi. Bagian kedua dari laporan arus kas adalah perhitungan arus kas dari aktivitas investasi. Pos-pos ini merupakan investasi pada barang-barang modal yang diperlukan perusahaan untuk mempertahankan atau meningkatkan kapasitas produktifnya. Bagian terakhir dari laporan arus kas adalah arus kas yang direalisasi dari aktivitas pendanaan. Penerbitan sekuritas akan berkontribusi positif terhadap arus kas, sedangkan penarikan sekuritas yang beredar akan menggunakan kas. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 21 Laporan arus kas menjadi bukti kesehatan perusahaan. Jika perusahaan tidak dapat membayar dividen dan mempertahankan produktivitasnya menggunakan kas dari operasi, maka perusahaan tidak dapat mempertahankan pembayaran dividen pada tingkat yang sekarang dalam jangka panjang. Laporan arus kas akan menunjukkan perkembangan masalah ini ketika memperlihatkan bahwa arus kas operasinya tidak mencukupi dan perusahaan telah menggunakan pinjaman untuk mempertahankan dividen pada tingkat yang tidak berkesinambungan. Sedangkan Atmaja (2001) mengartikan laporan arus kas adalah laporan keuangan yang memperlihatkan penerimaan kas dan pengeluaran kas suatru perusahaan selama suatu periode waktu. Terdapat perbedaan antara arus kas dengan penghasilan pada laporan laba rugi. Perbedaan ini terjadi karena : (1) Laporan laba rugi tidak mencatat pengeluaran modal sebagai biaya pada tahun dimana terjasi pengeluaran, tetapi dibagi-bagi dalam bentuk biaya depresiasi, dan (2) Laporan laba rugi menggunakan konsep accrual accounting dimana pendapatan dan biaya dicatat saat terjadi, bukan saat akan diterima atau dibayar. Informasi arus kas historis sering digunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu, dan kepastian arus kas masa depan. Disamping itu, informasi arus kas juga berguna untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas serta dampak perubahan harga. Informasi laporan arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta memungkinkan pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai perusahaan. Informasi ini juga meningkatkan daya banding kinerja operasi berbagai perusahaan karena meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap peristiwa dan transaksi yang sama. Menurut Syamsuddin (2001), pengukuran atas penghasilan yang diharapkan dari proposal capital expenditure haruslah menggunakan cash inflow. Karena cash inflow inilah yang menggambarkan jumlah rupiah yang sesungguhnya dapat digunakan oleh perusahaan, jadi bukannya laba bersih atau accounting income seperti yang diperlihatkan dalam laporan laba rugi perusahaan. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 22 Laporan arus kas dibagi menjadi tiga bagian yaitu arus kas dari : (1) Aktivitas operasi, yaitu aliran kas yang berhubungan langsung dengan produksi dan penjualan dari produk maupun jasa perusahaan, (2) Aktivitas investasi, yaitu aliran kas yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan baik aktiva tetap maupun investasi pada bisnis lain, (3) Aktivitas pendanaan, yaitu aliran kas yang dihasilkan dari hutang dan transaksi keuangan, termasuk pinjaman dan pembayaran hutang, aliran kas masuk dari penjualan saham dan aliran kas keluar untuk membeli kembali saham atau membayar dividen kas. Tetapi arus kas yang digunakan sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini adalah arus kas dari aktivitas operasi. Karena arus kas dari aktivitas operasi menunjukkan proses keluar masuknya uang di dalam suatu perusahaan. Arus Kas dari Aktivitas Operasi (CFO) Arus kas dari aktivitas operasi melibatkan efek dari kas yang berkaitan dengan transaksi yang menentukan net income (Kieso, 2007 : 191). Aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan operasi perusahaan untuk dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber keuangan dari luar. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah : a) Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa; b) Penerimaan kas dari royalty, fees, komisi dan pendapatan lain-lain; c) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa; d) Pembayaran kas kepada karyawan; e) Penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim, antusias, dan manfaat asuransi lainnya; f) Pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan sevara khusus sebagai bagian dari aktivitas keuangan dan investasi; g) Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak untuk tujuan transaksi usaha Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 23 dan perdagangan. 2.2.8. Hubungan Antara Arus kas dan Likuiditas Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 informasi tentang tujuan dibuatnya laoporan arus kas. Arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakainya untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Selain itu, arus kas juga dibutuhkan untuk pengambilan keputusan ekonomi, di mana para pemakai laporan arus kas tersebut perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara setara kas serta kepastian perolehan kas tersebut. Akuntansi berbasis akrual memiliki sifat yang rentan akan subyektivitas manajemen karena akuntansi berbasis akrual menggunakan metode akuntansi dan estimasi dalam penyusunannya. Kondisi tersebut menyebabkan likuiditas dan solvabilitas dari perusahaan sulit untuk diukur. Dengan demikian dibuatlah arus kas sebagai solusi atas hal ini. Namun, dalam penggunaannya, laporan arus kas tidak dapat digunakan secara terpisah dari laporan laba rugi, neraca, dan catatan atas laporan keuangan seperti yang telah diungkapkan oleh White, Sondhi, dan Fried (1997). Munculnya kebutuhan akan informasi arus kas ini disebabkan oleh alasan bahwa laba bukanlah prediktor yang baik dalam memberikan informasi mengenai aliran kas di masa depan. Misalnya, jika perusahaan memiliki tingkat penjualan kredit yang cukup tinggi dalam satu periode, berarti perusahaan tersebut dapat menghasilkan laba yang cukup besar dalam tahun tersebut meskipun perolehan kasnya tidak diperoleh untuk periode yang sama. Laporan arus kas dapat memberikan informasi mengenai keadaan likuiditas perusahaan dan kemampuannya untuk menandai pertumbuhan usahanya dengan berbagai sumber pendanaan. Penyajian laopran arus kas tersebut berguna untuk mendeteksi masalah likuiditas seperti meningkatnya kebutuhan modal kerja Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 24 (working capital) ataupun lamanya waktu penagihan piutang usaha. Namun, penggunaan laporan arus kas harus bersamaan dengan laporan keuangan sehingga evaluasi terhadap kinerja dan peramalan terhadap kemampuan menghasilkan arus kas dan laba masa depan dapat dilakukan dengan tepat. 2.2.9. Neraca Neraca menunjukkan kekayaan pada tanggal yang tertera di neraca. Jadi neraca menunjukkan posisi kekayaan untuk tanggal tertentu. Neraca menunjukkan kekayaan pada tanggal tertentu, maka situasi sebelum atau sesudah tanggal tersebut dapat berbeda signifikan. Sisi kiri neraca menunjukkan aset, apa yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan sisi kana menunjukkan siapa yang memiliki aset tersebut, dalam hal ini dibagi menjadi dua yaitu pihak luar (liabilities) dan pihak dalam (stockholder’s equity). Assets = Liabilities + Stockholder’s Equity (2.5.) Urutan neraca dimulai dari yang paling likuid hingga yang paling tidak likuid. Untuk aset menunjukkan yang termudah diuangkan, hingga tersulit. Dalam hal ini kas atau setara kas menunjukkan yang pertama, sedangkan intangible asset adalah yang terakhir. Intangible asset itu seperti paten, goodwill, dan semacamnya. Untuk sisi pasiva menunjukkan siapa yang lebih dulu mempunyai hak kepemilikan. Hutang lancar menjadi urutan yang pertama, kemudia hutang jangka pendek, dan diikuti dengan ekuitas. Jika dibagi jenis sahamnya, maka saham preferen lebih dulu daripada saham biasa. Bagian kewajiban dan ekuitas pemegang saham disajikan dengan cara yang sama. Pertama berasal dari utang jangka pendek seperti utang dagang, pajak akrual, serta utang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun. Bagian berikutnya adalah utang jangka panjang dan utang lain yang akan jatuh tempo pada waktu lebih dari satu tahun. Selisih antara total aktiva dan total kewajiban adalah ekuitas pemegang saham. Ini merupakan kekayaan bersih atau nilai buku (book value) perusahaan. Ekuitas pemegang saham dibagi menjadi nilai nominal saham, tambahan modal disetor, serta laba ditahan, meskipun pembagian ini sebenarnya Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 25 tidak penting. Secara sekilas, nilai nominal ditambah agio saham bisa menunjukkan hasil yang diperoleh dari penjualan saham kepada publik, sementara laba ditahan mencerminkan kumpulan ekuitas dari laba yang dikembalikan ke dalam perusahaan. Jika perusahaan tidak menerbitkan sekuritas ekuitas baru, nilai buku akan meningkat setiap tahun karena laba ditahan kumulatif. 2.2.10. Laporan Laba Rugi Laporan Laba Rugi merupakan ringkasan kegiatan selama satu periode. Ringkasan ini menunjukkan aktivitas menghasilkan (revenue) dan biaya (expense) dari aktivitas tersebut. Aktivitas revenue ditunjukkan oleh satu sektor saja yakni penjualan (net sales) sedangkan aktivitas biaya ditunjukkan oleh banyaknya biaya yang kadang kala dikelompokkan atas dasar biayanya (Asnawi dan Wijaya, 2006 : 219). Laporan laba rugi adalah ringkasan profitabilitas suatu perusahaan selama periode tertentu (Bodie, Kane, Marcus, 2006 : 284). Laporan ini menyajikan pendapatan yang diperoleh selama periode operasi, beban-beban yang terjadi selama periode yang sama, serta laba atau keuntungan bersih perusahaan, yang merupakan selisih antara pendapatan dan beban. Kita perlu memilah empat jenis beban utama, yaitu : harga pokok penjualan, yang merupakan biaya langsung yang dapat dikaitkan langsung dengan aktivitas produksi barang yang dijual perusahaan, beban umum administrasi, yang terkait dengan beban overhead, gaji, iklan, serta biaya-biaya operasi perusahaan lainnya yang tidak dapat dikaitkan langsung dengan produksi, beban bunga dari utang perusahaan, serta pajak atas laba yang terutang kepada pemerintah. Atmaja (2001) menjelaskan bahwa laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang memperlihatkan penghasilan, biaya dan pendapatan bersih dari suatu perusahaan selama suatu periode waktu. Laba atau profit menurut akuntansi berbeda dari arus kas (cash flow). Setidaknya ada 3 (tiga) alasan untuk mendukung pernyataan ini : Pertama, akuntansi biasa membagi pembayaran tunai (cash payment) menjadi Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 26 : (1) current expenditure, misalnya gaji, dan (2) capital expenditure, misalnya pembelian mesin. Current expenditure akan mengurangi current profit tetapi capital expenditure dibagi sepanjang usia aktiva tersebut dalam bentuk depresiasi. Akuntansi tidak mengurang penghasilan dengan pengeluaran untuk membeli mesin baru yang terjadi pada tahun tersebut, meskipun sebenarnya ada arus kas keluar. Sebaliknya akuntan mencatat adanya pengeluaran sebesar biaya depresiasi dari pembelian mesin tahun lalu yang sebenarnya tidak ada pengeluaran kas pada tahun ini. Oleh karena itu, dalam menghitung arus kas, biaya depresiasi (yang bukan cash payment) harus dikembalikan dan mengurangi laba dengan pengeluaran pada aktiva (yang merupakan cash payment). Kedua, ada beberapa pertimbangan kondisi yaitu pada periode 1 perusahaan memproduksi barang yang dijual pada periode 2 dan dibayar pada periode 3. Akuntan akan mencatat adanya penjualan pada periode 2 di laporan laba rugi dan ada tambahan piutang di neraca. Pada periode berikut, meskipun tidak ada penjualan, piutang berkurang dan perusahaan menerima uang tunai. Ketiga, akuntansi biasanya menyesuaikan periode pengeluaran biaya dengan periode pendapatan dari penjualan agar dapat dihitung (accrual accounting concept). Laporan laba rugi berkaitan dengan perubahan ekuitas dari satu tanggal neraca ke neraca berikutnya. Selanjutnya konsep realisasi dan pengakuan diterapkan dengan mengakui pendapatan ketika kondisi tertentu dipenuhi. Kondisi itu adalah ketika proses laba telah selesai atau dianggap selesai (complete or virtually complete), pertukaran telah terjadi jumlah pendapatan dapat ditentukan dan secara logis dapat ditagih, dan terakhir setelah biaya-biaya di masa depan dapat diestimasi dengan matching concept. Matching concept itu sendiri mengakui bahwa biaya memiliki hubungan langsung dengan penghasilan tertentu atau dengan periode tertentu, jadi terdapat hubungan sebab akibat. Dalam akuntansi, akrual beban diakui saat kejadian atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dengan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. Beban segera diakui kalau pengeluaran tidak menghasilkan manfaat Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 27 ekonomi manfaat masa depan atau sepanjang manfaat ekonomi masa depan tidak lagi memenuhi syarat untuk diakui dalam neraca sebagai aktiva. Ketentuan standar tersebut menyiratkan kelemahan konsep akrual karena memberikan ruang yang besar bagi kebijakan serta subyektivitas mengenai alokasi dan pengukuran beban oleh manajemen. Penyajian laporan laba rugi juga mengandung subyektivitas karena ketentuan bahwa rincian beban menggunakan klasifikasi yang didasarkan pada sifat atau fungsi beban tersebut di dalam perusahaan. Peraturan standar akuntansi di Indonesia mengijinkan perusahaan untuk memodifikasi pos-pos pendapatan dan biaya namun harus dalam koridor materialitas hakikat dan fungsi dari berbagai komponen pendapatan dan beban. Keleluasaan ini dapat meningkatkan kualitas informasi yang diberikan, namun disisi lain dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk menampilkan informasi yang direkayasa sesuai dengan keinginannya. 2.3. Metode Penelitian 2.3.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini akan digunakan analisis deskriptif, dengan menggunakan statistik deskriptif, yakni dengan menata, menyajikan dan menganalisis data numerik (Mason, 1996 : 7). Analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan metode statistik deskriptif yang digunakan akan dapat menggambarkan data yang telah dikumpulkan untuk kemudian diinterpretasikan yang pada akhirnya akan menghadirkan informasi yang diinginkan. Menurut Santosa (2004 : 1) yang dimaksud dengan statistika deskriptif yaitu statistika yang menggunakan metode numerik dan grafik untuk mencapai mencari pola dalam suatu kumpulan data, meringkas informasi yang terkandung dalam kumpulan data, dan menghadirkan informasi dalam bentuk yang diinginkan. 2.3.2. Tujuan Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif, karena peneliti berkeinginan untuk menggali lebih jauh Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 28 mengenai laba bersih dan arus kas dalam memprediksi arus kas masa depan. 2.3.3. Manfaat Penelitian Berdasarkan manfaat penelitian, maka penelitian ini dapat digolongkan dalam penelitian murni karena penelitian ini merupakan penelitian yang manfaatnya baru dapat dirasakan dalam waktu yang lama. Hasil penelitian tidak dapat langsung digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, sebagai suatu pertimbangan dalam mengambil keputusan. 2.3.4. Dimensi Waktu Berdasarkan dimensi waktunya, penelitian ini merupakan penelitian time series. Penelitian time series merupakan penelitian yang dilakukandengan cara mengambil data yang didapat dalam beberapa interval waktu tertentu (Umar, 2007:42). Penelitian yang dilakukan adalah untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006. 2.3.5. Pendekatan Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Hasan mengemukakan yang dimaksud pendekatan kuantitatif yakni analisis yang menggunakan alat analisis bersifat kuantitatif yaitu alat analisis yang menggunakan model-model, seperti model matematika, model statistik dan ekonometrik (Hasan, 2004 : 30). Hasil analisis disajikan dalam bentuk angkaangka yang kemudian dijelaskan dan diinterpretasikan dalam suatu uraian. Penelitian ini dikategorikan penelitian kuantitatif berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipakai, yaitu data yang berbentuk angka-angka dengan menggunakan existing statistics yang didapat dari laporan keuangan tahunan perusahaan, data yang diperoleh dalam bentuk data yang sudah jadi, berupa publikasi baik berupa bahan tertulis maupun berupa softcopy dari BEI (Bursa Efek Indonesia). Fabozi mengemukakan bahwa penggunaan metode kuantitatif dalam manajemen investasi melibatkan penggunaan model komputer, analisis statistik, dan data yang menyajikan perusahaan umum (Fabozzi, 1999 ; 240). Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 29 2.3.6. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berupa penelusuran literatur dan studi lapangan. Hasan (2004 : 24) mengemukaan bahwasanya teknik pengumpulan data berupa penelusuran literatur yakni cara pengumpulan data dengan menggunakan sebagian atau seluruh data atau laporan data dari penelitian sebelumnya, penelusuran literatur disebut juga pengamatan tidak langsung. Data dan informasi yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini adalah berupa data sekunder. Teguh (1999:121) mengatakan yang dimaksud data sekunder adalah jenis data yang diperoleh dan digalin melalui hasil pengolahan pihak kedua dari hasil penelitian lapangannya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data yang sudah dipublikasikan dan dapat diakses secara umum yang meliputi : data akuntansi yang berupa laporan keuangan tahunan perusahaan, data yang diperoleh dalam bentuk data yang sudah jadi, berupa publikasi baik berupa bahan tertulis maupun berupa softcopy dari BEI (Bursa Efek Indonesia). 2.3.7. Populasi dan Sampel Populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu obyek yang merupakan perhatian peneliti (Kountur, 2007 : 145). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang telah go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2004 sampai tahun 2006. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi (Kountur, 2007 : 146). Selanjutnya sampel akan dipilih dengan teknik purposive sampling dengan kategori ketersediaan data yang lengkap dari sampel tersebut dan akan dikelompokkan menjadi perusahaan yang melaporkan laba positif dan laba negatif. Teknik purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (Nawawi, 2005 : 157). Kriteria dari teknik purposive sampling dalam penelitian ini adalah : (1) pembatasan sampel hanya dengan mengambil unit sampling yang sesuai dengan tujuan penelitian, (2) Sampel yang digunakan adalah perusahaan-perusahaan Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 30 manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.Data yang dibutuhkan adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yakni : 1. Data laba sebelum pos-pos luar biasa; 2. Arus kas operasi perusahaan yang diperoleh dari laporan keuangan yaitu laporan laba rugi dan laporan arus kas. 3. Data total aset dari tiap-tiap perusahaan yang akan digunakan sebagai faktor deflator. 2.3.8. Pengukuran Variabel 2.3.8.1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ”arus kas dari aktivitas operasi perusahaan periode setelah tahun amatan”. Arus kas dari aktivitas operasi ini merupakan ikhtisar penerimaan dan pembayaran kas yang menyangkut operasi perusahaan. Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Arus kas operasi ini dapat diukur dalam cara Dechow et al. (1998), yakni: CFO = income before depreciation - interest expense + interest revenue – taxes – ΔWC (2.6.) di mana : CFO = Cash Flow from Operation ΔWC = perubahan dalam piutang, persediaan, dan aktiva lancar lainnya dikurangi perubahan dalam utang, utang pajak, utang lancar lainnya, dan pajak ditangguhkan. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 31 2.3.8.2. Variabel Independen Variabel independen yang digunakan adalah “arus kas operasi tahun berjalan dan laba bersih sebelum pos-pos luar biasa tahun berjalan”. Semua variabel akan dibagi dengan total aset dari perusahaan terkait pada periode amatan, karena semua variabel yang digunakan berkaitan dengan aset perusahaan. Laba Bersih Laba bersih (net income) merupakan keuntungan perusahaan setelah dikurangi oleh pajak. Arus Kas Operasi Aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan operasi perusahaan untuk dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber keuangan dari luar. 2.3.9. Permodelan Regresi Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan earnings model dan CFO (Cash Flow Operation) model yang digunakan oleh Kim dan Kross (2002), yakni sebagai berikut: CFOit+1 = α0 + α1 Eit + α2 CFOit + et (2.7.) Keterangan : CFOit+1 = arus kas operasi perusahaan i pada tahun t+1 α0 = koefisien konstanta α1, α2 = koefisien variabel independen Eit = laba sebelum pos-pos luar biasa perusahaan i pada tahun t CFOit = arus kas operasi perusahaan i pada tahun t et = variabel gangguan Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 32 2.3.10. Hipotesis Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara atas permasalahan penelitian yang memerlukan data untuk menguji kebenaran dugaan tersebut. Dugaan ini harus didasarkan atas suatu atau beberapa dasar pemikiran. Dasar pemikiran tersebut diperoleh dari teori. Hipotesis tidak dapat dibuat tanpa dasar teori yang kuat. Perlu diingat bahwa teori diperoleh dari hasil penelitian terbaru dan dari buku teks (Kountur, 2007 : 89). Hipotesis yang ingin diuji dan dibuktikan dalam penelitian ini diformulasikan dengan hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 1 Ho : Laba bersih dan arus kas memiliki kemampuan lebih baik untuk memprediksi arus kas masa depan dibandingkan dengan arus kas untuk perusahaan yang melaporkan laba positif. Ha : Laba bersih dan arus kas tidak memiliki kemampuan lebih baik untuk memprediksi arus kas masa depan dibandingkan dengan arus kas untuk perusahaan yang melaporkan laba positif. Hipotesis 2 Ho : Laba bersihdan arus kas memiliki kemampuan lebih baik untuk memprediksi arus kas masa depan dibandingkan dengan arus kas untuk perusahaan yang melaporkan laba negatif. Ha : Laba bersih dan arus kas tidak memiliki kemampuan lebih baik untuk memprediksi arus kas masa depan dibandingkan dengan arus kas untuk perusahaan yang melaporkan laba positif. 2.3.11. Teknik Analisis Data Untuk menganalisis model di atas digunakan teknik regresi linier berganda. Analisis regresi akan diujikan dua kali untuk kelompok perusahaan yang melaporkan laba positif dan yang melaporkan laba negatif. Selanjutnya akan dihitung nilai F-test dan t-test tiap-tiap variabel independen untuk kedua kelompok perusahaan. t-test dilakukan untuk mengetahui variabel independen Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 33 terhadap variabel dependen secara parsial. Sedangkan F-test dilakukan untuk mengetahui variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan. Dari hasil uji F akan dapat dilihat variabel independen masing-masing (laba bersih dan arus kas operasi tahun berjalan) manakah yang paling berkaitan erat dan signifikan terhadap variabel dependen (arus kas operasi periode setelah tahun amatan) pada perusahaan yang berlaba positif dan perusahaan yang berlaba negatif. Normalitas Pengujian normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan dependen mempunyai distribusi normal atau tidak. Tetapi jika terjadi penyimpangan terhadap asumsi distribusi normalitas, maka masih tetap menghasilkan penduga koefisien regresi yang linier, tidak berbias dan terbaik. Penyimpangan asumsi normalitas ini akan semakin kecil pengaruhnya apabila jumlah sampel diperbesar (Siagian : 2000). Salah satu penyelesaiannya adalah dengan cara mengubah bentuk nilai variabel yang semula nilai absolut ditransformasikan menjadi bentuk lain (kwardatik, resiprokal dan lain sebagainya) sehingga distribusi menjadi normal. Pengujian normalitas ini dilakukan dengan melihat Normal P-P plot of regression standardized residual. Jika plot yang dihasilkan membentuk diagonal sesuai garis maka variabel dependen dan independennya memiliki distribusi normal. Multikolineritas Frisch (1934) mengemukakan bahwa multikolinearitas memiliki makna adanya hubungan linier sempurna antar beberapa atau explanatory variable yang dipakai dalam suatu persamaan regresi. Dalam pengujian ini dimaksudkan untuk melihat apakah terdapat hubungan linier sempurna antar variabel bebas yang digunakan. Jika terjadi hubungan, maka perlu dilihat variabel-variabel mana yang multicollinearly correlated. Variabel yang menjadi penyebab terjadinya multikolinearitas akan dikeluarkan dari persamaan regresi karena akibat pelanggaran tentang multicolliearity adalah ketepatan estimasi menjadi rendah. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia 34 Untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas, akan digunakan uji Variance Inflation Factor (VIF). Pada uji VIF akan dinyatakan bahwa terdapat multikolinearitas yang serius bila VIF > 5 (Kuncoro, 2001). Model regresi dapat pula dikatakan bebas multikolinearitas apabila mendekati angka Tolerance mendekati 1. Autokorelasi Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota seri observasi yang disusun menurut urutan waktu (seperti data time series), atau urutan tempat (seperti data coss section) atau korelasi yang timbul pada dirinya sendiri (Siagian, 2000). Pengujian ini perlu dilakukan untuk melihat apakah terjadi kesalingtergantungan antar variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini, karena jika ternyata variabel yang digunakan dalam penelitian terjadi autokorelasi, maka regresi OLS akan menghasilkan asumsi yang tidak berbias, konsisten tetapi tidak lagi efisien. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Gangguan pada individu/kelompok cenderung mempengaruhi ”gangguan” pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya (kuncoro, 2001). Untuk menguji apakah ada tidaknya gejala autokorelasi akan digunakan test Durbin-Watson. Uji Durbin-Watson digunakan untuk melihat apakah residual-residual yang ada saling berkorelasi. Analisis kemampuan laba ..., Nur Hidayati, FISIP UI, 2009 Universitas Indonesia ...
View Full Document

Ask a homework question - tutors are online