EFEKTIVITAS RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DALAM MEREDUKSI EMISI GAS RUMAH KACA.pdf

This preview shows page 1 - 2 out of 16 pages.

MEDIA MATRASAIN ISSN 1858-1137 Volume 12, No.2, Juli 2015 EFEKTIVITAS RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DALAM MEREDUKSI EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) DI KAWASAN PERKOTAAN BOROKO - 17 - EFEKTIVITAS RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DALAM MEREDUKSI EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) DI KAWASAN PERKOTAAN BOROKO Oleh: Frankie Chiarly Rawung (Mahasiswa Prodi Arsitektur Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi, [email protected] ) Abstrak Kawasan perkotaan Boroko sebagi pusat pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang letaknya dilalui oleh jaringan jalan trans pulau Sulawesi memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembangnya aktivitas perkotaan. Pertumbuhan kawasan perkotaan akan membawa dampak negatif bila tidak direncanakan dan diarahkan sedini mungkin. Salah satunya adalah penurunan kualitas lingkungan berupa meningkatnya suhu permukaan bumi akibat dari emisi gas rumah kaca. Menurut Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri, dari ke enam gas rumah kaca yang dinyatakan paling berkontribusi terhadap gejala pemanasan global adalah karbondioksida (CO 2 ), yaitu lebih dari 75%, dimana gas tersebut sebagian besar di hasilkan oleh aktivitas manusia berupa penggunaan bahan bakar fosil pada sektor industri maupun transportasi. Penyediaan RTH merupakan bagian dari mitigasi pemanasan global sehingga dipandang sebagai salah satu upaya penanganan terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca khusunya gas CO 2 yang paling implementatif dibandingkan cara lainnya. Selain itu fungsinya sebagai pengendali kualitas udara memiliki manfaat sebagai sumber peningkatan cadangan oksigen dan memperbaiki iklim mikro di kawasan perkotaan. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Emisi Gas Rumah Kaca, CO 2 . Kawasan Perkotaan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan perkotaan Boroko merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Terletak pada posisi strategis, yaitu sebagai salah satu pintu gerbang Provinsi Sulawesi Utara yang menghubungkan dengan provinsi lain di Pulau Sulawesi. Keberadaan jaringan jalan trans nasional lintas pulau Sulawesi menjadikannya daya tarik untuk tumbuh dan berkembangnya aktivitas perkotaan. Pertumbuhan kawasan perkotaan akan membawa dampak negatif bila tidak direncanakan sedini mungkin, seperti penurunan kualitas lingkungan berupa meningkatnya suhu permukaan bumi akibat dari emisi gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca diartikan sebagai lepasnya gas rumah kaca ke atmosfer pada suatu area tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim ( United Nation Framework Convention On Climate Change -UNFCCC), ada enam jenis yang digolongkan sebagai GRK yaitu karbondioksida (CO 2 ), gas metan (CH 4 ), dinitrogen oksida (N 2 O), sulfurheksafluorida (SF 6 ), perfluorokarbon (PFCS) dan hidrofluorokarbon (HFCS). Selain itu ada beberapa gas yang juga termasuk dalam GRK yaitu karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (NO x ), klorofluorokarbon (CFC), dan gas-gas organik non metal volatile . Menurut Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri, dari ke enam gas-gas rumah kaca yang dinyatakan paling berkonstribusi terhadap gejala

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture