eBook Konsep Jual Beli.pdf - BAB V JUAL BELI A Pengertian...

This preview shows page 1 - 3 out of 29 pages.

1 BAB V JUAL BELI A. Pengertian dan Dasar Hukum Jual Beli Jual beli dalam istilah fiqh disebut dengan al-bai' yang berarti menjual, mengganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kata al-bai' dalam bahasa Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata asy-syira' (beli). Dengan demikian, kata al-bai' berarti jual beli. Secara terminologi, terdapat beberapa definisi jual beli yang dike- mukakan ulama fiqh, sekalipun substansi dan tujuan masing-masing definisi adalah sama, yaitu tukar menukar barang dengan cara tertentu atau tukar menukar sesuatu dengan yang sepadan menurut cara yang dibenarkan. Definisi lain dikemukakan ulama Malikiyah, Syafi`iyah, dan Hanabilah bahwa jual beli dimaknai sebagai saling menukar barang dalam bentuk pemindahan hak milik dan kepemilikan. Dari definisi tersebut di atas dapat dikatakan hal yang terkandung dalam jual beli adalah adanya pertukaran antara barang dengan barang lainnya serta adanya pemindahan hak ( posession ) dan kepemilikan ( ownership ) kepada pihak lain. Meski terdapat perbedaan antara para fuqaha, maal (barang) pada umumnya diartikan sebagai barang atau materi dan manfaat atau nilai dari sesuatu yang dapat diukur. Oleh karenanya manfaat dari suatu benda juga dapat diperjualbelikan. Jual beli mempunyai landasan hukum yang kuat dalam al-Qur'an dan sunnah Rasulullah saw. Terdapat sejumlah ayat al-Qur'an yang berbicara tentang jual beli, di antaranya dalam surat al-Baqarah, 2:275: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba … ”, dan surat an Nisa /4 : 29. ... kecuali dengan jalan perdagangan yang didasari suka sama suka di antara kamu . . .
2 Dasar hukum jual beli juga terdapat dalam sunnah Rasulullah saw. antara lain: Rasulullah saw. ditanya salah seorang sahabat mengenai pekerjaan (profesi) apa yang paling balk. Rasulullah ketika itu menjawab: Usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang diberkati. (HR al-Bazzar dan al-Hakim). ”Pedagang yang jujur dan terpercaya itu sejajar (tempatnya di surga) dengan para Nabi, para siddiqin, dan para syuhada'.” (HR. Turmudzi) B. Rukun dan Syarat Jual Beli Para ulama berbeda pendapat mengenai rukun jual beli. Menurut ulama Hanafiyah, Rukun jual beli hanya ijab dan qabul . Berarti menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli. Indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi, dapat tergambar dalam ijab dan qabul , atau melalui cara saling memberikan barang dan harga barang. Sedangkan menurut jumhur ulama, rukun jual beli terdiri dari: 1. Orang yang berakad. Syarat bagi orang yang melakukan akad adalah berakal, baligh, atas kehendak sendiri, dan tidak pemboros. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan selama terpenuhi syarat tersebut, ia berhak melakukan jual beli tanpa ada seorangpun yang boleh menghalanginya, termasuk wali maupun suaminya.

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture