BAB V Kesimpulan dan Saran dalam bab ini menyajikan kesimpulan dari seluruh

Bab v kesimpulan dan saran dalam bab ini menyajikan

This preview shows page 16 - 19 out of 90 pages.

BAB V : Kesimpulan dan Saran, dalam bab ini menyajikan kesimpulan dari seluruh pembahasan dengan keterbatasan serta saran untuk penelitian mendatang.
Image of page 16
17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Telaah Teori 2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) Jensen dan Meckling (1976) dan scott (1997) menggambarkan hubungan keagenan ( agency relationship ) sebagai hubungan yang timbul karena adanya kontrak yang ditetapkan antara prinsipal yang menggunakan agen untuk melakukan jasa yang menjadi kepentingan prinsipal dalam hal terjadi pemisahan kepemilikan dan kontrol perusahaan. Ada dua bentuk hubungan keagenan, yaitu antara manajer dan pemegang saham, serta hubungan antara manajer dan pemberi pinjaman ( bondholders ). Agar hubungan kontraktual ini dapat berjalan lancar, prinsipal akan mendelegasikan otoritas pembuatan keputusan kepada agen dan hubungan ini juga perlu diatur dalam suatu kontrak yang biasanya menggunakan angka-angka akuntansi yang dinyatakan dalam laporan keuangan sebagai dasarnya. Pendesainan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan kepentingan agen dan prinsipal dalam hal terjadi konflik kepentingan inilah yang merupakan inti dari teori keagenan (Scott, 1997). 2.1.1.1 Agency Problems Dalam perekonomian modern, manajemen dan pengelolaan perusahaan semakin banyak dipisahkan dari kepemilikan perusahaan. Hal ini sejalan dengan agency theory yang menekankan pentingnya pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenaga-tenaga professional ( agents ) yang lebih mengerti dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Tujuan dari dipisahkannya pengelolaan dari kepemilikan perusahaan agar pemilik perusahaan
Image of page 17
18 memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin dengan biaya seefisien mungkin dengan dikelolanya perusahaan oleh tenaga-tenaga professional. Agents bertugas untuk kepentingan perusahaan dan memiliki keleluasaan dalam menjalankan manajemen perusahaan. Sehingga dalam hal ini para tenaga professional tersebut berperan sebagai agents -nya pemegang saham. Forum for Corporate Governance in Indonesia (2000) menyebutkan pemilik perusahaan atau pemegang saham hanya bertugas mengawasi dan memonitor jalannya perusahaan yang dikelola oleh manajemen. Para pemilik perusahaan atau pemegang saham ( shareholders) memilih Dewan Komisaris yang kemudian menggaji manajemen sebagai agen mereka dalam menjalankan bisnis dari hari ke hari, yang sangat mungkin lebih memperhatikan kesejahteraan mereka sendiri daripada kesejahteraan para pemegang saham. Agency theory menganalisis dan mencari solusi atas dua permasalahan yang muncul dalam hubungan antara “ principal ” dan “ agent ” yaitu: 1. Agency problem muncul ketika (a) timbul konflik antara harapan atau tujuan pemilik/pemegang saham dan para direksi ( top management ) dan (b) para pemilik mengalami kesulitan untuk menverifikasi apa yang sesungguhnya sedang dikerjakan manajemen, dan 2. Risk sharing problem yang muncul ketika pemilik dan direksi memiliki sikap yang berbeda terhadap resiko (Tjager et al, 2003).
Image of page 18
Image of page 19

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 90 pages?

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes