Cekungan Wonosari sendiri merupakan cekungan semi sirkuler dengan arah

Cekungan wonosari sendiri merupakan cekungan semi

This preview shows page 6 - 7 out of 11 pages.

Cekungan Wonosari sendiri merupakan cekungan semi-sirkuler dengan arah memanjang TTg-BBL dan tersusun oleh batuan karbonat, sedangkan Cekungan Baturetno merupakan cekungan semi-sirkuler dengan arah memanjang UTL-SBD dan ditutupi oleh endapan fluvio-lakustrin berumur Kuarter ( Wijono, 1992 ). Kedua cekungan tersebut memiliki dimensi longitudinal, yaitu jarak utara-selatan, yang relatif sama, yaitu sekitar 25 km. Namun kedua cekungan tersebut memiliki perbedaan dimensi transversal, yaitu dalam jarak barat-timur. Cekungan Wonosari memiliki arah memanjang sekitar 30 km sedangkan Cekungan Baturetno hanya sekitar 10 km. Perbedaan itu kemungkinan disebabkan oleh ruang tektonik yang tersedia, dimana faktor tersebut dikontrol oleh pelamparan batuan dasar cekungan. Proses pensesaran bongkah yang bersifat listrik umumnya hanya berlaku efektif pada batuan sedimen, terutama yang bersifat lunak. Kedua cekungan tersebut dibatasi oleh patahan-patahan listrik yang terjadi pada batas batuan beku masif. Cekungan Wonosari memiliki ruang yang lebih luas, dimana batas barat ditentukan oleh G. Sudimoro dan batas timur ditentukan oleh Masif Panggung. Cekungan Baturetno tidak memiliki ruang yang luas, bagian barat ditentukan oleh Masif Panggung sedangkan batas timur ditentukan oleh kompleks gunungapi Andesit Tua di utara Pacitan. Pada saat ini, Cekungan Wonosari merupakan cekungan aliran Sungai Oyo yang berhulu di Lajur Plopoh dan Masif Panggung serta mengalir ke arah barat untuk bergabung dengan Sungai Opak di kaki barat gawir Lajur Baturagung. Sebagai aliran batuan dasar ( bedrock stream ), pola aliran Sungai Oyo sangat dikendalikan oleh struktur-struktur geologi yang ada pada batuan dasarnya. Di daerah hulu, pola yang berkembang adalah sub-dendritik dengan kelurusan anak-anak Sungai Oyo memiliki arah dominan BL-Tg dan UTL-SBD. Di daerah hilir, semenjak pertemuan dengan Sungai Ngalang, pola aliran yang berkembang adalah rektangular dengan arah kelurusan utara-selatan. Kelurusan utara-selatan ini cukup unik pada Pegunungan Selatan karena hanya dijumpai di Cekungan Wonosari bagian barat. Sebagian besar Cekungan Baturetno pada saat ini merupakan reservoar Waduk Gajahmungkur yang membendung aliran Sungai Bengawan Solo. Fenomena geomorfologi yang menarik di daerah ini adalah adanya lembah kering ( dry valley ) di sebelah selatan. Lembah kering tersebut memanjang relatif UTL-SBD dengan beberapa pembelokan yang dikontrol oleh kelurusan topografi kars BL-Tg dan TTg-BBL. Selama ini lembah tersebut diduga sebagai bekas aliran sungai Bengawan Solo purba yang dulu mengalir ke arah selatan dan menjadi kering karena adanya proses pembalikan aliran menjadi ke arah utara akibat pengangkatan Pegunungan Selatan ( Surono, 2005 ). Bila interpretasi tersebut betul, maka proses pembalikan arah aliran tersebut bersifat unik dan hanya terjadi pada aliran Sungai Bengawan Solo purba. Sungai-sungai di bagian selatan lainnya masih tetap mempertahankan arah alirannya ke selatan, meski sebagian besar berupa sungai bawah tanah. Sungai permukaan yang masih mengalir ke selatan adalah Sungai Baksoka,
Image of page 6
Image of page 7

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 11 pages?

  • Fall '18

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture