b Pendekatan institusionalis yang berdasar pada prinsip penyebab sirkuler dan

B pendekatan institusionalis yang berdasar pada

This preview shows page 17 - 19 out of 28 pages.

b. Pendekatan institusionalis yang berdasar pada prinsip “ penyebab sirkuler dan kumulatif ”. Penekatan ini mengakui kecenderungan kearah ketimpangan spasial dalam jalannya pasar kapitalis. Dalam kaitan ini, Stilwell (1978) seperti dikutip Forbes (1986) menjelaskan bahwa sekali ketimpangan rgional berkembang, jalanya pasar dan migarsi modal serta buruh khususnya cenderung tidak mengurangi ketimpangan. Sebaliknya dari ramalan umum ilmu ekonomi neoklasis, setiap kecenderungan kearah ketimpangan regional, diatasi oleh kecenderungan tandingan yang kuat kearah ketimpangan. c. Pendekatan difusionis , untuk menahan kecenderungan kearah ketimpangan regional, intervensi pemerintah dianggap perlu sebagai mana pandangan penulis-penulis utama mengenai isu ini, termasuk Hirshman (1958), Myrdal (1957), Peroux (1950) dan Friedman (1966). Pandangan ini dilukiskan dengan geografi modernisasi atau teori modernisasi difusionis dengan berbagai model/konsep seperti telah diuraikan dibagain pendahuluan. STRATEGI PERENCANAAN PEMBANGUNAN REGIONAL DALAM KAJIAN VARIASI KERUANGAN. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa teori modernisasi berusaha mewujudkan perpindahan/transisi negara-negara dengan basis pertanian kebasis industri. Teori pembagian kerja secara internasional pada dasarnya menyatakan bahwa setiap negara harus melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keuntungan komperativ yang dimilinya. Akibat teori ini terjadilah spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara. Oleh karena itu secara umum di dunia ini
Image of page 17
Perkembangan Strategi & Perencanaan Pembangunan Indonesia 51 ROWLAND B. F. PASARIBU terdapat dua kelompaok negara, yakni negara yang memproduksi hasil-hasil pertanian dan negara-negara yang memproduksi barang-barang industri. Antara kedua kelompok negara ini terjadi hubungan dagang yang harapannya saling menguntungkan (Budiman, 1995). Hymmer berusaha mengembangkan pola ini dengan hukum perkembangan yang timpang, seraya mengemukakan bahwa pembagian kerja internasional yang baru melalui perusahaan- perusahaan transnasional, menciptakan hubungan atasan/ bawahan yang herarkhi antara pusat dan pinggiran. Perlusan perusahaan kearah pinggiran dapat menciptakan industri yang berorientasi pada eksport, tetapi bukan pada bentuk perkembangan yang diusahakan oleh perencana. Sehubungan dengan perencanaan pembangunan wilayah, Dusseldorp menwarkan dua cara dari atas kebawah ( top down approach ) yaitu perencanaan nasional memberikan petunjuk berapa besar keuangan yang disediakan untuk daerah; kemudian dilakukan dari bawah keatas ( bottom up approach ) yang dimulai dari perencanaan wilayah taraf terendah dan berakhir dengan perencanaan nasioal. Untuk perencanaan wilayah secara keseluruhan ( regional planning ) tersebut dapat digunakan beberapa metode seperti: 1. Pengembangan wilayah secara admisitratif atau secara geografis dengan mengembangan seluruh wilayah perdesaan dan perkotaan, misalnya pengembangan daerah Jawa Barat atau pengembangan wilayah geografis Jawa Barat (terdiri atas Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta).
Image of page 18
Image of page 19

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 28 pages?

  • Fall '18
  • pak mujid

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes