Sedangkan daerah daerah di perkotaan banyak yang

This preview shows page 10 - 12 out of 17 pages.

Sedangkan daerah daerah di perkotaan banyak yang belum mencapai target yang diharapkan. Kondisi ini didukung oleh Penelitian yang dilakukan Marghareta dan Yohanes (2017) menemukan, dari 16 Kecamatan yang terdapat di kota Semarang, terdapat 8 kecamatan yang prosentase luas ketersediaan RTH kurang dari 30 % yaitu kecamatan Gajahmungkur, Candisari, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara, Semarang Tengah dan Semarang Barat. Secara lebih rinci, ketersediaan RTH Kota Semarang dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1.1 Kondisi RTH per Kecamatan di Kota Semarang No Kecamatan Luas Wilayah(Ha) Jumlah RTH % RTH 1 Mijen 6215.25 5145.39 82,79 2 Gunung Pati 5399.09 3291.39 60,96 3 Banyumanik 2513.06 2048.06 81,50 4 Gajah Mungkur 764.98 57.24 7,48 5 Semarang Selatan 848.05 373.66 44,06 6 Candisari 555.51 34.87 6,28 7 Tembalang 4420.00 1684.60 38,11 8 Pedurungan 2072.00 501.00 24,18 9 Genuk 2738.44 1368.36 49,97 10 Gayamsari 549.47 105.58 19,21 11 Semarang Timur 770.25 73.45 9,54 12 Semarang Utara 1133.28 107.34 9,47 13 Semarang Tengah 604.99 72.01 11,90 14 Semarang Barat 2386.71 667.78 27,98 15 Tugu 3129.34 1911.25 61,08 16 Ngaliyan 3269.97 2641.97 80,79 Jumlah 37370.39 20083.95 38,46 % Sumber : Marghareta dan Yohanes (2017) Berdasarkan data di atas, banyak wilayah di Kota Semarang yang belum memenuhi persentase yang diharapkan bahkan dalam kondisi ruang terbuka hijau yang berada . pada satu dijit persen, seperti Kec. Semarang Timur sebesar 9, 54
Persen. Kecamatan Gajah Mungkur memiliki persentase ruang terbuka hijau paling sedikit hanya mencapai 7,48 % dari luas wilayahnya. Sedangkan sumbangan ruang terbuka hijau terbesar dari Kecamatan Mijen yang mencapai 82,79 %. Data di atas juga sekaligus menunjukan implementasi program penyediaan RTH di Kota Semarang masih berpusat di kawasan Semarang atas dan daerah pinggir seperti Mijen, Mangkang, Tugu, dan Ngaliyan yang belum banyak pemukiman dan bukan berposisi sebagai pusat industri dan pemerintahan. Kawasan perkotaan di Semarang Bawah tidak banyak memiliki kawasan ruang terbuka hijau dan menyebabkan perubahan lingkungan lebih banyak terjadi. Ketersediaan ruang terbuka hijau di kota Semarang menjadi tidak merata, sekaligus memberikan dampak negatif di kawasan perkotaan karena ketersediaan ruang terbuka hijau dan lahan yang semakin tipis, sedangkan pembangunan terus berkembang. Sebenarnya apabila dilihat dari sisi regulasi, kota Semarang telah memiliki perda yang baik dalam upaya menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi dalam implementasinya masih perlu banyak pembenahan, termasuk upaya penegakan hukum dan pengawasan yang masih lemah (Supratiwi : 2018). Kota Semarang sendiri sebenarnya telah rajin melakukan penataan kota. Penghargaan kota Adipura sebagai kota clean and green city telah beberapa kali diraih oleh Semarang. Permasalahanya adalah, ketersediaan ruang terbuka hijau hanyalah salah satu komponen penilaian menjadi kota adipura dan memang secara keseluruhan kota Semarang telah memenuhi persyaratan minimal penyediaan RTH. Implementasi penghargaan kota Adipura seharusnya juga dilihat dari sisi keseimbangan lingkungan kota secara keseluruhan, agar penilaian tersebut lebih valid dan berdasar pada kondisi yang ada.

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture