3 Mendiagnosis adanya infeksi oportunistik seperti cytomega lovirus pada pasien

3 mendiagnosis adanya infeksi oportunistik seperti

This preview shows page 8 - 10 out of 46 pages.

3. Mendiagnosis adanya infeksi oportunistik (seperti, cytomega- lovirus ) pada pasien immunocompromise . 4. Mendiagnosis adanya iskemia pada pasien kolitis yang dicuri- gai namun diagnosisnya masih belum jelas sesudah pemerik- saan klinis dan radiologis. D. Kultur Feses Belum ada konsensus yang secara jelas memasukkan kultur feses
Image of page 8
Vol. 22, No.3, Edition September - November 2009 MEDICINUS 95 sebagai salah satu strategi optimum dalam mendiagnosis diare akut. 21 Walaupun, cukup sulit untuk memprediksi etiologi diare akut akibat infeksi bakteri hanya berdasarkan gambaran klinisnya, akan tetapi dokumentasi patogen penyebab tidak selalu diperlukan karena sebagian besar diare akut akibat infeksi disebabkan oleh virus yang dapat sembuh sendiri (self-limited) dan akan membaik hampir separuhnya dalam waktu <1 hari. 10,21 Pada diare akut, mempertahankan volume intravaskuler yang adekuat serta mengoreksi gangguan cairan dan elektrolit lebih prioritas dibandingkan mencari patogen penyebab. 2 Pemeriksaan kultur feses diindikasikan pada pasien dengan diare inflamasi dengan darah/mukus pada fesesnya. 2,4,5,10,21,25 Penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 53% dokter baru melakukan kultur darah bila diare telah berlangsung >3 hari. 6 Kultur feses kurang bernilai pada pasien yang mengalami diare se- sudah >72 jam perawatan di rumah sakit karena penyebabnya ham- pir selalu infeksi C. difficile atau suatu penyebab noninfeksi. 6,10,25,26 Kultur feses juga diperlukan pada: 21 1. Pasien immunocompromise , misalnya pasien dengan HIV. 2. Pasien dengan co-morbidity yang meningkatkan risiko untuk mendapatkan komplikasi. 3. Pasien dengan penyakit dasar inflammatory bowel disease dimana amat penting untuk membedakan antara kekambuhan dengan infeksi sekunder. 4. Beberapa pekerjaan tertentu, seperti pengelola makanan, yang terkadang baru dapat kembali bekerja sesudah hasil kultur fe- sesnya negatif. Klinisi sebaiknya menyebutkan secara spesifik patogen yang dicurigai sewaktu mengirimkan feses untuk memudahkan proses di laboratorium mikrobiologi; serta menentukan media, metode, atau pewarnaan yang tepat untuk mengisolasi atau mengidenti- fikasi organisme yang diinginkan. 21 Spesimen sebaiknya dibiakkan sesegera mungkin pada media kultur yang sesuai. 21 Kultur feses rutin sudah akan akan dapat mengidentifikasi Salmonella, Campylobacter , dan Shigella . 10,21 Bila terdapat kecurigaan adanya infeksi Aeromonas atau berbagai strain Yersinia maka labora- torium perlu diberitahu karena berbagai patogen tersebut tumbuh pada kultur rutin akan tetapi seringkali terlewat bila tidak dicari secara khusus. 21 Hasil kultur yang positif untuk salah satu dari organisme tersebut pada pasien dengan gejala diare akut dapat diinterpretasikan sebagai positif yang sebenarnya, walaupun terapi antibiotik tidak selalu diper- lukan untuk semua organisme tersebut. 21 Tidak seperti telur cacing dan parasit yang seringkali ditemukan secara intermiten, berbagai patogen ini umumnya diekskresikan secara terus-menerus. Jadi, hasil kultur yang negatif biasanya bukan merupakan hasil negatif palsu, dan pe- ngulangan spesimen jarang diperlukan.
Image of page 9
Image of page 10

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 46 pages?

  • Fall '18

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture