Hanya relik kecil saja yang tersisa pada P Nyamuk Besar seperti pada Gambar 38

Hanya relik kecil saja yang tersisa pada p nyamuk

This preview shows page 7 - 11 out of 29 pages.

Hanya relik kecil saja yang tersisa pada P. Nyamuk Besar, seperti pada Gambar 3.8, ketika penulis meninjau pada pertengahan tahun 1980an. Pada saat yang sama, presipitasi turun hingga mencapai nilai terendah (Gambar 3.11). Tampaknya periode kekeringan Sahelian di Afrika dalam tahun 1970 berpengaruh terhadap Indonesia. Curah hujan yang menurun sejak 1940an lebih ditegaskan dengan pengukuran lingkaran tahun 77
Image of page 7
Geomorfologi Indonesia Bab 3 pada pohon di daerah G. Leuser, Sumatra (Beek, 1982): penurunan pertumbuhan yang cepat terjadi kemudian, diilustrasikan pada Gambar 3.12. Gambar 3.8 Pulau Karang Air (atas) dan Nyamuk Besar (bawah), Teluk Jakarta dalam tahun 1875, 1927, 1939 dan 1950 (Verstappen, 1954) Pembuktian langsung hubungan antara pola angin dan perkembangan pantai dapat diperoleh hanya untuk periode pengamatan meteorologi. Ekstrapolasi terhadap periode sebelumnya dimungkinkan untuk lebih luas, meskipun demikian, penggunaan data anomali curah hujan dari sumber seperti pengukuran lingkaran pohon di Jawa (Berlage, 1931; De Boer, 1951), catatan kekeringan/kelaparan dan banjir di India, catatan China kuno dsb. Data tersebut mencerminkan ENSO kuno dan harus diinterpretasikan dalam hal perkembangan antisiklon di Asia dan asosiasi posisi rerata dari ITCZ untuk menilai pola angin yang berlaku. Catatan yang lebih panjang, walaupun, dapat ditemukan dalam beting gisik pada dataran aluvial. Riset di daerah ini dapat menghasilkan data tentang iklim yang terjadi lebih dari 5000 tahun lalu. 78 Legenda: 1. Inti tua 2. akresi baru (peta tahun 1875 juga single rampart) 3. garis pertumbuhan 4. single rampart rendah (atau sparse single) 5. single rampart tinggi 6. mangrove terisoler Skala 1: 8.000
Image of page 8
Geomorfologi Indonesia Bab 3 79 Gambar 3.9 Delta sungai kecil Ketiwon di pantai utara Jawa Tengah dekat Tegal menunjukkan perselingan dengan beting gisik dan swales, karena fluktuasi sepuluh tahunan pola angin Gambar 3.10 Gaya angin kali frekuensi (F x V) di Jakarta 1969- 1983 (tiga tahunan) Angin bulanan rerata ditunjukkan dengan garis penuh dan maksimum bulanan dengan arsir. Mawar angin untuk tahun 1917/1926 dan 1935/1944, berdasarkan pada observasi harian, ditambahkan sebagai pembanding (Verstappen, 1988)
Image of page 9
Geomorfologi Indonesia Bab 3 Gambar 3.11 Fluktuasi curah hujan tahunan (garis putus-putus) dan jumlah hari hujan (garis penuh) di Jakarta sejak tahun 1880 (11 tahun rerata jalan) Verstappen, 1988) Gambar 3.12 Pengukuran lingkaran tahun di G. Leuser, Sumatra Utara, menunjukkan penurunan rerata pertumbuhn sejak tahun 1940 ketika terjadi perioda kekeringan yang ditunjukkan pada Gambar 3.11 Penurunan muka airlaut secara bertahap sejak waktu itu, dan beberapa data penanggalan C 14 atau kenaikan garis pantai di Indonesia yang disebutkan oleh Tjia (1972, 1975, 1986, 1991 a ) mempunyai hubungan dengan kondisi paleoklimatik. Periode pembentukan beting gisik aktif terjadi sekitar 2800/3000BP, ketika muka air laut lebih kurang setinggi 3 meter di atas muka air laut sekarang (Gambar 3.13). Ketika fluktuasi terjadi dalam periode yang durasinya lebih panjang, beting gisik atau bura yang lebih besar dapat berkembang, seperti bura Gilimanuk di P. Bali (Verstappen, 1975 b , 1994 a ),
Image of page 10
Image of page 11

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 29 pages?

  • Spring '15

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture