Temuan ini memiliki implikasi yang sangat signifikan bagi kebijakan Pertama

Temuan ini memiliki implikasi yang sangat signifikan

This preview shows page 12 - 13 out of 93 pages.

Temuan ini memiliki implikasi yang sangat signifikan bagi kebijakan. Pertama, pertimbangkan kasus dimana semua negara pengimpor kayu dari Indonesia mensyaratkan bukti dari legalitas. Ada dua skenario. Pada skenario pertama, beberapa porsi produk kayu yang diekspor dapat disertifikasi untuk menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal dari sumber yang legal, dan tingkat ekspor total akan dikurangi. Dalam skenario kedua, verifikasi legalitas tidak dapat dicapai oleh setiap kayu, dan produksi dihentikan suatu jumlah yang setara dengan total ekspor. Apapun kasusnya, porsi yang signifikan untuk total konsumsi kayu, permintaan domestik, akan masih membutuhkan kayu bulat pada tingkat di atas dari total tebangan yang diijinkan oleh Departemen Kehutanan sejumlah 6,89 juta meter kubik untuk tahun 2003 dan 5,74 juta meter kubik untuk tahun 2004. Kedua, dan sehubungan dengan hal di atas, kebutuhan akan pengurangan kapasitas pengolahan kayu di Indonesia untuk membawa tingkat produksi sejalan dengan tingkat penebangan yang lestari dari hutan alam, merupakan solusi terbaik, dan bukan merupakan solusi parsial. Solusi ini sebenarnya hanya menggeser masalah penebangan liar ke negara lain, dampaknya adalah Indonesia akan mengimpor produk kayu untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Hal ini berimplikasi bahwa untuk menyelesaikan masalah penebangan liar di Indonesia, dan juga menghindari resiko dengan mengeskpornya ke negara lain, diperlukan dengan segera kebijakan yang mendorong meningkatnya pasokan log yang legal dan lestari. Dalam hubungannya dengan sumber log legal, ada kecenderungan penurunan jumlah HPH skala-besar yang progresif mengikuti rusaknya sumberdaya hutan, yang menyebabkan penurunan keuntungan. Pada tahun 2001, total produksi log tercatat sebesar 10.014.888 m 3 berasal dari 18,0% HPH, 23,0% dari konversi lahan hutan menjadi fungsi lain (IPK), 14,5% dari hutan tanaman negara, dan 44,5% dari hutan tanaman lain (HTI). Pada tahun 2002, total produksi log sebesar 8.136.303 m 3 bersumber dari 37,1% dari HPHs, 2,2% dari IPK, 19,2% dari hutan tanaman negara dan 41,5% dari HTI (Data Departemen Kehutanan). Pada tahun 2001, ada 361 HPH aktif (termasuk 55 yang dalam proses pembaruan ijin), yang mencakup kawasan hutan seluas 36,42 juta hektar. Propinsi dengan kawasan terluas untuk HPH adalah Papua dengan 10.751.613 ha (50 HPH), Kalimantan Timur dengan 8.168.217 ha (74 HPH), Kalimantan Tengah dengan 5.203.942 ha (63 HPH), dan Maluku dengan 2.257.942 ha (28 HPH). Pada tahun 2002, jumlah HPH menurun menjadi 270 yang mencakup kawasan seluas 28.077.864 ha. Propinsi dengan kawasan terluas untuk HPH adalah Papua dengan 10.577.073 ha (49 HPH), Kalimantan Timur dengan 4.443.106 ha (41 HPH), Maluku dengan 1.699.661 ha (23 HPH), dan Kalimantan Tengah dengan 1.506.031 ha (13 HPH). Dalam hal perdagangan internasional, China telah menjadi salah satu pasar produk kayu Indonesia (Gambar 1). Pada tahun 2001, China mengimpor 54,5% dari total volume kayu gergajian yang diekspor oleh Indonesia, 42,6% pulp, 33,3% papan partikel, dan 25,6% kertas. Jepang mengimpor 42,0% kayu lapis; Korea Selatan mengimpor 48,5% dari papan serat, 26,9% papan partikel dan 19,3% pulp; Uni Eropa mengimpor hampir 20% pulp; Amerika Serikat (USA) 9,4% kayu lapis; dan Arab Saudi 55,2% veneer dan 24,4% papan serat. Proporsi yang besar (sekitar 37%) untuk ekspor
Image of page 12
Image of page 13

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 93 pages?

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes