Indonesia sebagai korban krisis finansial pada tahun 1997 pada hakikatnya telah

Indonesia sebagai korban krisis finansial pada tahun

This preview shows page 27 - 29 out of 51 pages.

Indonesia, sebagai korban krisis finansial pada tahun 1997, pada hakikatnya telah menjadi sebuah contoh paling jelas bagaimana puting beliung globalisasi telah membuat negara ini menjadi berantakan. Indonesia kini menjadi salah satu negara pengutang terbesar di dunia. Indonesia ditinggalkan para investor asing yang menarik modal mereka lalu menyisakan lautan buruh menganggur. Sesuai dengan "rekomendasi" IMF, Indonesia harus menurunkan tarif impor, membuka pasar, menjual aset perusahaan milik negara, menaikkan harga BBM, tarif listrik, dan sebagainya. Tidak heran kalau gerakan anti-globalisasi sebagai " radical politics " di Indonesia akan lebih radikal dibandingkan yang telah terjadi di Seattle, Genoa, atau Davos. Dr I Wibowo , Institute of Rural and Global Studies, Yogyakarta. Sumber: Kompas, Sabtu, 27 April 2002
Image of page 27
Kebijakan Persaingan, Daya Saing, Liberalisasi,… 597 ROWLAND B. F. PASARIBU Reposisi Birokrasi di Era Globalisasi dan Liberalisasi Ekonomi Perubahan beserta implikasinya memunculkan fenomena yang kemudian disebut sebagai globalisasi. Makna globalisasi itu sendiri adalah sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu sama lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi, maupun lingkungan. Steiner dan Steiner (1994) melihat ada tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan global. Pertama , produk nasional kotor (GNP) dunia tumbuh dan meningkat dengan cepat, terutama di negara-negara maju. Kedua , revolusi dalam teknologi komunikasi. Ketiga , kekuatan-kekuatan yang mempermudah munculnya perusahaan- perusahaan besar skala global. Dalam hal ini, tumbuh dan berkembangnya kekuatan- kekuatan modal besar secara tidak tetap maupun pasar-pasar modal yang lebih efisien dalam menggunakan modal secara cepat; perbaikan dalam teknik-teknik manajemen; pengawasan inventaris yang lebih efisien; perbaikan teknik-teknik bagi pengawasan produk; dan pemahaman tentang bagaimana membuat sumber daya manusia lebih produktif. Kondisi ini dipercepat oleh situasi politik yang ditandai oleh runtuhnya komunisme dan revolusi teknologi komunikasi yang secara khusus menjadi katalisator perubahan tersebut. Namun demikian, pergerakan ke arah globalisasi bergantung pada dukungan tambahan, yakni: pemerintah dan perusahaan (Prawiro, 1998). Dalam globalisasi yang dipimpin oleh pemerintah (a government-led globalization ), globalisasi cenderung dipandang secara ambivalensi. Pada satu sisi, pemerintah secara aktif mendukung globalisasi ekonomi dunia dengan ikut terlibat aktif menandatangani perjanjian perdagangan bebas, seperti AFTA 2003, APEC, maupun NAFTA. Namun, di sisi yang lain, tindakan ini juga disertai oleh kekhawatiran bahwa jika ekonomi dibuka terlalu lebar dapat memberi peluang bagi ekonomi asing untuk memainkan peran dominan dalam ekonomi nasional.
Image of page 28
Image of page 29

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 51 pages?

  • Fall '18
  • pak mujid

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture