2006 473 terjadi ketika individu tidak memperoleh kejelasan mengenai tugas

2006 473 terjadi ketika individu tidak memperoleh

This preview shows page 11 - 14 out of 42 pages.

(2006, 473) terjadi ketika individu tidak memperoleh kejelasan mengenai tugas – tugas dari pekerjaanya atau lebih umum dikatakan “tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan”. Job description yang tidak jelas, perintah – perintah yang tidak lengkap dari atasan, dan tidak adanya pengalaman memberikan kontribusi terhadap ambiguitas peran. Sedangkan Robbins (2009) menyatakan bahwa ambiguitas peran muncul ketika peran yang diharapkan ( role expectation ) tidak secara jelas dimengerti dan seseorang tidak yakin pada apa yang dia lakukan. Menurut Kreitner (2004), ambiguitas peran terjadi ketika seseorng tidak mengetahui akan harapan pada peran mereka. Yousef (2009), mendeskripsikan ambiguitas peran sebagai situasi dimana individu tidak memiliki arah yang jelas mengenai harapan akan perannya dalam organisasi. Kemudian Lapolo (2002) menyebutkan bahwa ambiguitas peran muncul ketika seseorang karyawan merasa bahwa terdapat banyak sekali ketidakpastian dalam aspek – aspek peran atau keanggotaan karyawan tersebut dalam kelompok. Seseorang dapat dikatakan berada dalam role ambiguity atau ambiguitas peran apabila ia menunjukkan ciri- ciri antara lain sebagai berikut (Adobor, 2006) :
Image of page 11
23 - Tidak jelas tujuan atau peran apa yang sedang ia jalankan. - Tidak jelas kepada siapa dia bertanggung jawab dan siapa yang melapor kepadanya. - Tidak cukup wewenang untuk melaksanakan tanggung jawabnya. - Tidak sepenuhnya mengerti apa yang diharapkan orang lain pada dirinya. - Tidak memahami benar peranan dari pada pekerjaannya dalam rangka mencapai tujuan secara keseluruhan. Mondy, Sharplin, dan Premeaux (1990, p.491 – 492) menyarankan agar pemegang peran mengetahui 6 (enam) tipe dasar informasi, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya ambiguitas peran, yaitu : 1. Pemegang peran harus tahu apa yang diharapkan oleh orang lain. 2. Pemegang peran harus tahu aktivitas yang seharusnya mereka lakukan dan hubungan interpersonal yang harus mereka tunjukkan untuk memenuhi harapan orang lain. 3. Pemegang peran harus mengetahui konsekuensi dari pelaksanaan aktivitas atau interaksi dengan orang lain dalam hal tertentu.
Image of page 12
24 4. Pemegang peran harus mengetahui macam – macam tingkah laku atau sikap yang akan diterima baik sebagai imbalan maupun hukuman. 5. Pemegang peran harus menemukan tipe – tipe dari imbalan dan hukuman yang akan diberikan dan mengukur kemungkinan mereka (karyawan) menerimanya. 6. Pemegang peran harus mengetahui tingkah laku atau sikap yang akan memuaskan atau mengecewakan kebutuhan individu. Task complexity , ethics officer selalu dihadapkan dengan tugas – tugas yang banyak, berbeda – beda, dan saling terkait satu sama lainnya. Kompleksitas tugas dapat didefinisikan sebagai fungsi dari tugas itu sendiri (Wood, 1986). Kompleksitas tugas merupakan tugas yang tidak terstruktur, membingungkan, dan sulit (Adobor, 2006). Tugas ethics officer yang bertugas sebagai pengatur etika didalam perusahaan sering dilihat sebagai tugas dengan kompleksitas tinggi dan sulit, sementara yang lain mempersepsikannya sebagai tugas yang mudah (Hoffman, Neill, Stovall, 2008).
Image of page 13
Image of page 14

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 42 pages?

  • Summer '18
  • Agus Setiawan

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture