4 Perlakuan dengan suhu Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi

4 perlakuan dengan suhu cara yang sering dipakai

This preview shows page 9 - 11 out of 14 pages.

4. Perlakuan dengan suhu Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembab (stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili. 5. Perlakuan dengan cahaya Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari. 1.4 Dormansi pada Benih Jagung Dormansi pada benih jagung relatif singkat dan tidak begitu terlihat. Namun mungkin pada beberapa kejadian, benih jagung tergolong tipe dormansi sekunder. Dormansi sekunder disini adalah benih-benih yang pada keadaan normal maupun berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang kurang menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi menurunkan kemampuannya untuk berkecambah. Misalnya pengaruh hormon auksin yang terdapat pada pada tumbuhan sangat mempengaruhi perkecambahan pada biji jagung. Hormon auksin pada tumbuhan berfungsi untuk pertumbuhan bagi tanaman dan menjadi penghambat pertumbuhan tanaman jika terkena cahaya matahari. Sehingga dapat dikatakan bahwa hormon auksin dapat bekerja secara maksimal jika berada pada tempat yang cenderung lebih gelap. Maka, teknik pencegahan dormansi yang dilakukan ialah pengaturan perlakuan cahaya matahari. Kulit benih jagung yang tipis dan lentur tidak terlalu mempengaruhi masa dormansi. Tetapi jika benih jagung tersebut baru dipanen, menyebabkan air dan oksigen tidak dapat 6
Image of page 9
berimbibisi. Maka, perlu dilakukan perendaman dengan air. Ketika biji direndam terjadi proses imbibisi yaitu proses penyerapan air ke dalam rongga jaringan melalui pori-pori secara pasif, terutama karena daya serap senyawa polisakarida, seperti hemiselulosa, pati, dan selulosa. Proses ini merupakan proses spesifik dan imbibisi air oleh benih sangat dipengaruhi oleh komposisi kimia benih, permeabilitas benih dan jumlah air yang tersedia , baik air dalam bentuk cairan maupun uap air disekitar benih. 1.5 Deteriorasi Benih Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur-angsur dan kumulatif serta tidak dapat balik ( irreversible ) akibat perubahan fisiologis yang disebabkan oleh faktor dalam. Kemunduran benih beragam, baik antar jenis, antar varietas, antar lot, bahkan antar individu dalam suatu lot benih. Kemunduran benih dapat menimbulkan perubahan secara menyeluruh di dalam benih dan berakibat pada berkurangnya viabilitas benih atau penurunan daya kecambah. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal, penurunan pemunculan kecambah di lapangan ( field emergence ), terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman (Copeland dan Donald, 2001).
Image of page 10
Image of page 11

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 14 pages?

  • Spring '15

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture