Kesadaran tentang HCVF pada lembaga lembaga kehutanan dan perencanaan Tata

Kesadaran tentang hcvf pada lembaga lembaga kehutanan

This preview shows page 51 - 53 out of 93 pages.

beranggapan bahwa inisiatif ini sama seperti untuk hutan lindung. Kesadaran tentang HCVF pada lembaga-lembaga kehutanan dan perencanaan Tata ruang di tingkat propinsi dan kabupaten masih perlu dikembangkan. Demikian halnya, sebagian besar LSM di Samarinda dan di kabupaten-kabupaten, tidak memahami konsep HCVF. Jika dijelaskan, beberapa akan menolak penggunaan HCVF sebagai alat untuk melegitimasi kegiatan HPH yang, menurut pandangan mereka, harus diperbaiki sama sekali. TNC mengembangkan strategi komunikasi yang meliputi website, buletin bulanan, artikel bulanan pada harian Kaltim Pos, dan kerja sama dengan sebuah stasiun radio di Samarinda. Upaya-upaya ini bisa membangun kesadaran yang lebih besar di propinsi itu mengenai HCVF. Apakah asumsi-asumsi itu berlaku? Berlakunya kebijakan (adopsi kebijakan oleh pemain-pemain utama) dapat membawa pada pengelolaan dan pemeliharaan HCVF. Skenario ini tampaknya valid. Gubernur Kalimantan Timur baru-baru ini mendirikan komisi untuk orangutan di propinsi itu. Bupati Berau diharapkan dapat mengeluarkan instruksi yang melindungi kawasan Lesan sebagai habitat orangutan. Hal ini dan perubahan-perubahan lain dalam rencana tataguna lahan Berau tahun 2003 akan meningkatkan kawasan lindung pada kabupaten itu sebesar 10%. Begitu rencana tataruang kabupaten tahun 2003 disetujui, hal ini akan menjadi contoh pertama di Kalimantan Timur untuk kawasan HCVF yang dipadukan dengan rencana tingkat kabupaten. Tentunya ini akan menjadi berita positif di seluruh propinsi itu. Namun demikian, sebagaimana biasanya, masalah utamanya adalah pelaksanaan praktisnya
Image of page 51
46 Tindakan dan penegakan keputusan ini. Sementara peningkatan 10% kawasan konservasi di kabupaten Berau antara tahun 1997 dan 2000 merupakan prestasi yang bagus, akan terasa sulit dan makan waktu untuk membebankan status konservasi pada kawasan baru yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi. Saat ini sebagian besar kawasan itu masih berada dalam lingkup HPH. Di Riau, tetap dilihat bagaimana APP melaksanakan komitmen yang mereka buat dalam MOU dengan WWF itu. Di Kalimantan Timur, suatu kawasan HCVF seluas 50.000 ha telah ditunjuk dalam kawasan HPH PT Sumalindo Lestari Jaya II. HPH PT Intracawood berada dalam proses pengidentifikasian kawasan HCVF. Kawasan HCVF telah diidentifikasi di kawasan Tesso Nilo (Riau) dan di Kalimantan Timur. Penggunaan toolkit HCVF akan meningkatkan konservasi. PT Sumalindo Lestari Jaya II di Kalimantan Timur, dimana mereka menggunakan toolkit HCVF, memiliki hutan yang terjaga baik di propinsi itu. Kendala utama dalam mengevaluasi asumsi ini adalah bahwa asumsi tersebut di atas didasarkan pada kasus HPH itu sendiri dimana konservasi HCVF sudah diadopsi. Sebagian besar HPH jarang mendengar tentang HCVF, apalagi menyebutkan mereka telah memiliki atau mengadopsi toolkit HCVF ini. Komitmen publik yang eksplisit dari pemerintah daerah untuk pengelolaan HCVF yang baik akan menghasilkan pengelolaan HCVF dengan lebih baik.
Image of page 52
Image of page 53

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 93 pages?

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture