Ayat 2 Untuk memberikan perlakuan pemajakan yang sama antara penghasilan yang

Ayat 2 untuk memberikan perlakuan pemajakan yang sama

This preview shows page 46 - 48 out of 60 pages.

Ayat (2) Untuk memberikan perlakuan pemajakan yang sama antara penghasilan yang diterima atau diperolehdari luar negeri dan penghasilan yang diterima atau diperoleh di Indonesia, maka besarnya pajak yangdibayar atau terutang di luar negeri dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia tetapitidak boleh melebihi besarnya pajak yang dihitung berdasarkan Undang-undang ini. Cara penghitunganbesarnya pajak yang dapat dikreditkan ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan wewenangsebagaimana diatur pada ayat (6). Ayat (3) dan (4) Dalam perhitungan kredit pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapatdikreditkan terhadap pajak yang terutang menurut Undang-Undang ini, penentuan sumber penghasilanmenjadi sangat penting. Selanjutnya, ketentuan ini mengatur tentang penentuan sumber penghasilanuntuk memperhitungkan kredit pajak luar negeri tersebut.
Background image
Mengingat Undang-Undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas, maka sesuai denganketentuan pada ayat (4) penentuan sumber dari penghasilan selain yang tersebut pada ayat (3)dipergunakan prinsip yang sama dengan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tersebut,misalnya A sebagai Wajib Pajak dalam negeri memiliki sebuah rumah di Singapura dan dalam tahun1995 rumah tersebut dijual. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan rumah tersebut merupakanpenghasilan yang bersumber di Singapura karena rumah tersebut terletak di Singapura. Ayat (5) Apabila terjadi pengurangan atau pengembalian pajak atas penghasilan yang dibayar di luar negeri,sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di Indonesia menjadi lebih kecil dari besarnyaperhitungan semula, maka selisihnya ditambahkan pada Pajak Penghasilan yang terutang menurutUndang-undang ini. Misalnya, dalam tahun 1996, Wajib Pajak mendapat pengurangan pajak ataspenghasilan luar negeri tahun pajak 1995 sebesar Rp5.000.000,00 yang semula telah termasuk dalamjumlah pajak yang dikreditkan terhadap pajak yang terutang untuk tahun pajak 1995, maka jumlahsebesar Rp5.000.000,00 tersebut ditambahkan pada Pajak Penghasilan yang terutang dalam tahunpajak 1996. Ayat (6) Cukup jelas.Pasal 25 (UU No. 36 Tahun 2008)(1)Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuksetiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan TahunanPajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan : a.Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta PajakPenghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; danb.Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 24,dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.(2)Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum SuratPemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan sebelum batas waktu penyampaian SuratPemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhirtahun pajak yang lalu.
Background image
Image of page 48

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 60 pages?

  • Summer '16
  • adrian

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture