Kalau ngak tahan saya pernah itu memberi sinyal kalau

This preview shows page 24 - 26 out of 29 pages.

Kalau ngak tahan, saya pernah itu memberi sinyal, kalau ndak tahan udahlah kawin di bawah tangan, kawin sirih, kalau nggak tahan. Tapi rupanya juga nggak mempan. Sampai saya tanya, kenapa gitu itu. Nggak tahu, nggak tahu. Saya sering kalau di Apik itu kalau mendapat kasus itu, mahasiswi, “Mbak hamil nggak?” “Nggak.” “Ya udah lah Mbak.” Seperti istrinya Mandra itu dulu kan ngak diakui, ngapain sih nuntut-nuntut supaya dikawini. “Percaya deh Mbak, kalau maksain diri kawin sama dia, nanti Mbak akan diselingkuhi lagi. Atau Mbak tidak akan dihargai. Udahlah kalau Mbak Perawan, nanti banyak Mbak dapat Duda”,
Image of page 24
gitu. Tapi terhadap anak kandung sendiri saya ndak bisa berbuat apa-apa. Entah terserah pandangan ibu-ibu, apa saya memang ibu yang goblok ndak bisa mendidik anak atau saya gimana, saya sudah ndak bisa ngomong lagi. Itu tanggapan Ibu-Ibu yang rumah tangganya harmonis, alhamdulilah. Tapi bagi ibu- ibu yang rumahtangganya kacau, mungkin dibilang ujian, tolong deh, datang ke Apik aja deh. Kita sekarang lagi ngadakan pendidikan para legal. Gender, kalau tidak salah sudah tiga seksi. Dan tiap minggu pertama diadakan. Jadi ibu-ibu yang berminat, boleh menghubungi ke Pasar Rebo, ke Apik, melalui telpon ke Apik, ikut saja pendidikan paralegal. Saya yang waktu itu mendapat pendidikan pertama jadi saya suka bercanda, saya AVI pertama gitu. Nah, sekarang paralegal kedua. Jadi gitu aja. Mungkin saya memberikan ini kacau balau itu karena sudah otak saya atau apa ini, saya nggak negrti deh. Hanya Tuhan yang memberi kekuatan saya untuk bisa berjalan ke sini. Padahal seandainya saya mau enak untuk dirim sendiri, saya pulang saja sendiri ke Bali. Saya punya keponakan Prof Doktor Gede Winata itu Bupati di Jembrana dan termasuk Milyarder. Kalau saya mau enak sendiri. Tapi yang saya pikirkan anak, anak, dan anak. Hanya itu. Nah saat-saat ini saya juga mengalami . Ini agak galau karena ada rumor di sekitar saya, “Bu Haji suka keluar rumah itu pakai celana pendek.” “Bu haji kalu pergi sering-sering ngak pakai jilbab,” katanya. Itu saya sudah kacau, karena saya ini sakit. Mungkin saya kayak ibu bisa cerita , bisa ini-inio, padahal sakit jiwa saya. Dan mungkin kalau dibilang penyakit itu udah kanker. Bener-bener saya sudah kanker, tapi dengan keyakianan sama yang di atas, saya masih bisa mampu. Saya punya cita-cita itu pengin mendirikan sebuah apa ya, lansia, panti jompo gitu. Nah, kemudian, ibu- ibu bisa istirahat dengan baik, kemudian ibu-ibu yang mampu bisa ini. Itu masih cita-cita. Dan akhir ini kayaknya banyak yang mendukung saya. Nah, karena masalah rumah tangga saya kacau balau seperti ini. Itu saya kesampaingkan dulu. Akhir ini, dua tiga hari ini saya juga dapat masukan, ada dana 600 milyar. Dari mana itu saya juga nggak mau juga tahu. Yang penting kalau ibu punya kenalan bupati atau walikota itu bisa diambil untuk peningkatan dawu atau berapa, minimal 50 M. Nah, itu yang sedang saya urus, dua tiga hari ini ke Sukabumi ke mana yang kira-kira bupati ini belum mengambil, saya anjurkan ambil. Saya tidak minta seperak pun, hanya saya minta ongkos-ongkos transport saya. Saya
Image of page 25
Image of page 26

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 29 pages?

  • Fall '19

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture