Chapter III-V.pdf

Yang diwajibkan atau lantaran hal hal yang sama telah

  • No School
  • AA 1
  • 22

This preview shows page 19 - 22 out of 22 pages.

yang diwajibkan, atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang”. Apabila dilihat dari sasaran yang terkena force majeure, maka force majeure sering dibeda-bedakan sebagai berikut : 53 (1) Force majeure yang obyektif Force majeure yang bersifat obyektif ini terjadi atas benda yang merupakan obyek kontrak tersebut. Artinya keadaan benda tersebut sedemikian rupa sehingga tidak mungkin lagi dipenuhi prestasi sesuai kontrak, tanpa adanya unsur kesalahan dari pihak debitur. Misalnya benda tersebut terbakar. Karena itu, pemenuhan prestasi sama sekali tidak mungkin dilakukan karena yang terkena adalah benda yang merupakan obyek dari kontrak, maka force majeure seperti ini disebut juga dengan physical impossibility. (2) Force majeure yang subyektif Sebaliknya, force majeure yang bersifat subyektif terjadi manakala force majeure tersebut terjadi bukan dalam hubungannya dengan obyek (yang merupakan benda) dari kontrak yang bersangkutan, tetapi dalam hubungannya dengan perbuatan atau kemampuan debitur itu sendiri. Misalnya jika si debitur sakit berat sehingga tidak mungkin berprestasi lagi. 53 Ibid ., hal. 115. 61 Universitas Sumatera Utara
Image of page 19

Subscribe to view the full document.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa : 1. Kedudukan M.O.U ada dua macam yaitu : a. Tidak bersifat kontrak ( Gentlement Agreement ) Teori yang mendukung adalah teori Holmes dimana disebutkan bahwa sanksi moral tidak berlaku dalam kontrak. Jadi dalam hal ini M.O.U yang mempunyai sanksi moral bukanlah suatu kontrak. Dan menurut asas dalam kontrak bahwa disebut kontrak apabila sifatnya sudah final. Jadi dalam hal ini M.O.U yang dalam materinya menyebutkan mengenai perlunya perjanjian lanjutan setelah penandatanganan M.O.U ini, maka M.O.U yang semacam ini bukanlah suatu kontrak, karena sifatnya tidak final. b. Bersifat sebagai kontrak ( Agreement is Agreement ) Dalam hal ini teori yang mendukung antara lain : a) Teori hilangnya keuntungan, dimana dianggap ada kontrak jika dalam suatu kesepakatan yang terjadi akan menimbulkan hilangnya keuntungan bagi salah satu pihak jika wanprestasi . b) Teori Kepercayaan Merugi, dimana dalam hal ini dianggap suatu kontrak apabila terjadi suatu kerugian secara materiil jika salah satu pihak wanprestasi. 62 Universitas Sumatera Utara
Image of page 20