Peringkat kemungkinan dan keparahan secara kualitatif

This preview shows page 18 - 20 out of 60 pages.

Peringkat kemungkinan dan keparahan secara kualitatif ini sangat relatif dan bervariasi, misalnya dengan menggunakan 3, 4, atau 5 peringkat. Karena itu model penilaian dapat dikembangkan oleh masing masing perusahaan kontraktor sesuai dengan kebutuhan perusahaan masing masing atau mengacu kepada suatu referensi tertentu, seperti OHSA< Institute of Risk Management, atau AN/ANZS 4350. Langkah berikutnya adalah setelah penilaian risiko ditentukan, dilanjutkan dengan kegiatan evaluasi apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Penilaian risiko tersebut merujuk kepada kriteria risiko yang berlaku atau ditetapkan oleh Manajemen Perusahaan kontraktor. Risiko yang dapat diterima merupakan pengertian dari terjemahan dalam istilah: As Low As Reasonably Practicable – ALARP , yaitu tingkat dimana risiko merupakan tingkat terendah yang rasional dan dapat dijalankan. Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, risiko harus ditekan serendah mungkin, namun dalam pelaksanaannya untuk menekan risiko tersebut memiliki keterbatasan seperti faktor biaya, teknologi, kepraktisan, kebiasaan, dan kemanpuan dalam menjalankannya dengan konsisten. Suatu risiko dapat ditekan sampai pada tingkat yang memungkinkan dengan menggunakan teknologi, seperti dengan sistem pengaman, namun akan berdampak pada tingkat yang tidak dapat diterima pada keekonomian. Proses untuk menentukan batas risiko sampai pada tingkat yang dapat diterima (ALARP), adalah suatu kegiatan yang tidak mudah, sehingga memerlukan kajian mendalam dari berbagai aspke, seperti aspek teknis, sosial, moral, lingkungan atau keekonomian. Batas risiko yang dapat diterima antara unit usaha tertentu dengan unit usaha lainnya akan berbeda beda, tergantung dari posisi kemampuan secara finansial unit usaha tersebut. Kerugian sebesar 10 juta untuk perusahaan kontraktor kecil merupakan suatu kerugian yang besar, dibandingkan kerugian dengan nilai yang sama bagi perusahaan BUMN dengan kualifikasi perusahaan Besar. Dalam bisnis pelaksanaan konstruksi, hubungan antara pengeluaran untuk K3 dengan kelangsungan bisnis merupakan hubungan yang proporsional, dimana jika pengeluaran untuk K3 ditingkatkan sampai pada level tertentu, maka akan berpengaruh baik pada bisnis, tetapi apabila pengelauran tersebut terus ditingkatkan sampai pada level tertentu, maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan usaha konstruksi bagi perusahaan tersebut. Dengan kata lain bahwa apabila tingkat pengeluaran untuk K3 tersebut tidak seimbang dengan tingkat penerimaan perusahaan tersebut, maka perusahaan tersebut akan bangkrut. Materi Pelatihan Manajemen Proyek 15
Berdasarkan pertimbangan, maka tingkat ALARP yang ditetapkan pada suatu perusahaan harus baik untuk K3 dan baik pula untuk bisnis perusahaan, sehingga kelangsungan usaha perusahaan dapat terjamin.

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture