Akhirnya apakah spiritualitas dan laba adalah tujuan yang kompatibel tentu

Akhirnya apakah spiritualitas dan laba adalah tujuan

This preview shows page 13 - 16 out of 31 pages.

Akhirnya,  apakah spiritualitas dan laba adalah tujuan yang kompatibel tenturelevan   bagi   para   manajer   dan   investor   dalam   bisnis.   Buktinya,   meskipun   terbatasmenunjukkan   bahwa   organisasi   yang   memberi   karyawan   mereka   peluang   untukpengembangan   spiritual   telah   mengungguli   mereka   yang   tidak.   Penelitian   lainmelaporkan bahwa spiritualitas dalam organisasi berhubungan positif dengan kreativitas,kepuasan karyawan, keterlibatan pekerjaan, dan komitmen organisasi.13
2.3Culture is a Descriptive TermBudaya organisasi menunjukkan bagaimana karyawan merasakan karakteristikbudaya   organisasi,   bukan   apakah   mereka   menyukainya   tapi   itu   merupakan   istilahdeskriptif. Ini penting karena membedakan budaya dari kepuasan kerja.Penelitian   tentang   budaya   organisasi   telah   berupaya   mengukur   bagaimanakaryawan melihat organisasinya: Apakah itu mendorong kerjasama tim? Apakah itupenghargaan  inovasi? Apakah  itu  menghambat inisiatif?  Sebaliknya,  kepuasan  kerjaberusaha mengukur bagaimana perasaan karyawan tentang harapan organisasi, praktikpenghargaan, dan sejenisnya. Meskipun kedua istilah tersebut memiliki karakteristikyang   tumpang   tindih,   perlu   diingat   bahwa   budaya   organisasi   bersifat   deskriptif,sedangkan kepuasan kerja bersifat evaluatif.2.4Creating and Sustaining CultureA.  How a Culture Begins Kebiasaan, tradisi, dan cara umum organisasi saat ini sebagian besar disebabkanoleh   apa   yang   telah   dilakukan   sebelumnya   dan   seberapa   berhasilnya   dalammelakukannya. Hal ini membawa kita ke sumber utama budaya organisasi yaitu parapendirinya. Bebas dari kebiasaan atau ideologi sebelumnya, pendiri memiliki visi tentangapa organisasi itu seharusnya, dan ukuran perusahaan yang kecil membuatnya mudahuntuk memaksakan visi itu pada semua anggota.14
Penciptaan budaya terbagi dalam tiga cara. Pertama, para pendiri mempekerjakandan hanya mempekerjakan karyawan yang berpikir dan merasakan hal yang sama sepertimereka. Kedua, mereka mengindoktrinasi dan mensosialisasikan karyawan-karyawan inike cara berpikir dan apa yang mereka rasakan. Dan akhirnya, perilaku pendiri sendirimendorong karyawan untuk mengidentifikasi dengan mereka dan menginternalisasikankeyakinan, nilai, dan asumsi mereka. Ketika organisasi berhasil, kepribadian pendirimenjadi tertanam dalam budaya.Gaya yang kuat, kompetitif dan disiplin, sifat otoriter dari Hyundai, konglomeratraksasa   Korea,   menunjukkan   karakteristik   yang   sama   sering   digunakan   untukmenggambarkan   pendiri   Chung   Ju-Yung.   Pendiri   lain   dengan   dampak   tak   dapatditoleransi pada budaya organisasi mereka termasuk Bill Gates di Microsoft, Ingvar

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture