Itu menjadi suatu anu perbedaan perbedaan karena

This preview shows page 40 - 42 out of 44 pages.

dipegang oleh pemerintah yang sekarang sedang berkuasa. Itu menjadi suatu, anu … perbedaan-perbedaan. Karena ketidakmengertian teman-teman itu jadinya ya begini, kita rasakan kelurahan ini betul-betul tidak bisa menentukan sikap. Tidak bisa menentukan jejak. Ini disepakati oleh teman, makanya kalau teman mengeluh, ya inilah kita rasakan sama-sama. Sedangkan maju dan mundurnya desa ini sesungguhnya tergantung kita. Kalau kita itu mem[punyai keinginan ingin maju, ya kita harus berjuang mati-matian, bagaimana Dewan sana memikirkan kita. Nampaknya kalau di antara.., saya yang rajin itu nee… Gedewan [??] itu, tapi karena ndak ada dukungan, ya ndak ada penghasilan. Tetap, ya begini-begini saja. Nanti kalau maju ke depan katanya, “Wah, sok pintar.” Padahal, ndak ini, untuk kepentingan bersama. Saya itu kerja menghadap begitu itu maksudnya itu untuk kebersamaan begitu. Nyatranya setelah teman- teman terbentur-bentur tanpa diperjuangkan, ya betul-betul ndak berhasil. Tapi kenyataannya setelahturun tangan, dibetulin, sampai-sampai pekerjaan itu akhirnya, dibanyangkan tak dibayar akhirnya terbayar. Seperti contohnya, pembuatan Turab ini. Jalan tembus ini, kan ada, Mbak, yang tanahnya di Siring tanahnya sini. Daerah sini itu, kecamatan Semboja menuju ke Buntang itu, jauh, Mbak. Itu tang pemborongnya di sana. Bayangkan! Bangunannya di sinio, pemborangnya di Bontang yang jaraknya 250 kilometer. Saya tempuh dengan sepeda motor itu mencari orangnya. Harus dibayar orang-orang yang kerja ini. Saya dobrak ke sana. Ha, terus Pim-pro-nya di sini, Pimpronya di sini kan wakilnya camat. “Safrudin, ini orang-orang ini selalu cemburu dengan saya. Kalu jalanan itu sudah dibayar. Katanya saya yang punya anu itu. Padahal saya rupanya uang itu ndak ada. Karena jalan itu tanggung jawab saya, itu tolong itu pak Safrudin, orang-orang dibayar.” Itu kurang Rp 3.000.000,-berapa gitu. Kalau Rp 3.000.000,- saya paskan Rp 3.000.000,- waktu itu. “Wah, ndak bisa, Pak.” “Loh, kenapa? Orang itu uangnya, kok, upahnya, kringetnya kok ndak bisa kenapa?” “Ini harus melewati Pak parto ini, pak Parto kan punya tanggung jawab ini yang harus mengeluarkan uang ini.” “Uangnya di mana sekarang?” “Uangnya ada, tapi harus ada tanda tangannya Pak Parto.” Ini bukti-bukti yang saya alami ya. Kalau betul-betul diperjuangkan pasti akan berhasil kesemuanya itu. “Kalau Bapak bisa minta pernyataan surat dari Pak parto, dengan poto kopinya, ini uang bisa keluar.” “Oke besuk saya ke sana.” Saya tempuh itu, Mbak. Jarak 500 km PP itu. Pakai sepeda motor. Akhirnya saya tegasi sama Pak Parto. “Saya telah mengusulkan pekerjaan sampeyan yang ada di sana. Itu uangnya sudah ada, Pak.” “Masak iya?” “Iya. Jadi saya tolong, bikinkan pernyataan dengan fotokopi sampeyan. 40
Image of page 40
Nanti setelah itu uang keluar, sampeyan nyusul ambil uang sampeyan. Kalau ndak begitu, ndak keluar uang sampeyan.” Betul kamu, Li?” “Iya betul.” Nah itu loh. Dibikinkan, kita setor ke Pak Safrudin tadi, wakilnya camat tapi menjadi Pimpro. Ha itu, artinnya menjadi pemegang bangunan di sinilah. “Ini, Pak. Saya belum pulang ini. Baru di Bontang langsung ke sini, ndak pulang-pulang.
Image of page 41
Image of page 42

You've reached the end of your free preview.

Want to read all 44 pages?

  • Fall '19

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

  • Left Quote Icon

    Student Picture

Stuck? We have tutors online 24/7 who can help you get unstuck.
A+ icon
Ask Expert Tutors You can ask You can ask You can ask (will expire )
Answers in as fast as 15 minutes