313 123 227 0 0 1 73 250 2007 244 331 482 2 4 4 171

  • No School
  • AA 1
  • 40

This preview shows page 3 - 9 out of 40 pages.

313 123 227 175 22 10 0 0 1 73 250 2007 244 331 482 407 30 193 2 4 4 171 259 259 2008 162 149 284 308 137 31 0 3 30 178 422 392 Rata2 370.7 276.5 352.2 321.2 130.8 88.8 48.3 10.9 30.1 184.3 261.9 315.2
Image of page 3
45 Grafik 4.3 Data Curah Hujan Rata-Rata Kawasan 4.2 Hujan Rancangan 4.2.1 Penentuan Curah Hujan Wilayah Data curah hujan harian maksimum yang didapat dari stasiun-stasiun pengukuran berupa data suatu titik tertentu (point rainfall), sedangkan untuk keperluan analisis, yang diperlukan adalah data curah hujan wilayah aliran (areal rainfall/catchment rainfall). Untuk mendapatkan data curah hujan wilayah adalah dengan mengambil data curah hujan rata-ratanya. Ada tiga cara yang telah banyak digunakan yaitu, cara rata-rata aljabar (Arithmatic Mean Method), Poligon Thiessen (Thiessen Polygon Method) dan Isohiet (Isohyetal Method). Dalam studi ini digunakan metode Rata- Rata Aljabar (Arithmatic Mean Method). 0 50 100 150 200 250 300 350 400 JAN PEB MAR APR MEI JUNI JULI AGS SEP OKT NOV DES Curah Hujan (mm) Bulan CURAH HUJAN RATA-RATA KAWASAN Avg R80% R90%
Image of page 4
46 Tabel 4.4. Data Curah Hujan Harian maksimum TAHUN Stasiun Rata-Rata KAWALI CIAMIS 1999 92.5 22 57.25 2000 130 0 65.00 2001 100 30 65.00 2002 190 150 170.00 2003 120 26 73.00 2004 125 60 92.50 2005 115 10 62.50 2006 100 62 81.00 2007 115 0 57.50 2008 140 64 102.00 4.2.2 Analisis Hujan Rencana Untuk memperkirakan besrnya debit banjir dengan kala ulang tertentu, terlebih dahulu data-data hujan didekatkan dengan suatu sebaran distribusi, agar dalam memperkirakan besarnya debit banjir tidak sampai jauh melenceng dari kenyataan banjir yang terjadi. Dalam analisis ini digunakan beberapa metode untuk memperkirakan curah hujan dengan periode ulang tertentu, yaitu : a) Metode distribusi Normal b) Metode distribusi Log Normal 2 parameter c) Metode distribusi Gumbel d) Metode distribusi Log Pearson Type III Metode yang dipakai nantinya harus ditentukan dengan melihat karakteristik distribusi hujan daerah setempat. Periode ulang yang akan dihitung pada masing-masing metode adalah untuk periode ulang 2, 5, 10, 25, 50, 100, 200 dan 1000 tahun. a) Metode Distribusi Normal Langkah perhitungan distribusi Normal adalah sebagai berikut di bawah ini.
Image of page 5
47 Tabel 4.5.a Perhitungan Metode Normal No X 1 57 2 65 3 65 4 170 5 73 6 93 7 63 8 81 9 58 10 102 R 82.575 S 34.163 Tabel 4.5.b Perhitungan Metode Normal T 2 5 10 25 50 100 200 1000 K T 0 0.840 1.280 1.708 2.050 2.330 2.580 3.090 Tabel 4.5.c Tabel Hasil Hujan Rancangan Metode Normal T (Tahun) K T S K T .S Q (m 3 /dt) 2 82.575 0 34.163 0 82.575 5 82.575 0.840 34.163 28.697 111.272 10 82.575 1.280 34.163 43.729 126.304 25 82.575 1.708 34.163 58.350 140.925 50 82.575 2.050 34.163 70.034 152.609 100 82.575 2.330 34.163 79.600 162.175 200 82.575 2.580 34.163 88.141 170.716 1000 82.575 3.090 34.163 105.564 188.139 Contoh : ̅ Q ̅
Image of page 6
48 Tabel 4.5.d Simpangan Metode Normal No Tahun X X’ Variabel Reduksi (r) Peluang (P) Simpangan (∆) 1 1999 57.25 170.00 9.09 0.52 8.57 2 2000 65.00 102.00 18.18 28.48 10.30 3 2001 65.00 92.50 27.27 38.57 11.30 4 2002 170.00 81.00 36.36 51.84 15.47 5 2003 73.00 73.00 45.45 61.04 15.58 6 2004 92.50 65.00 54.55 69.65 15.11 7 2005 62.50 65.00 63.64 69.65 6.02 8 2006 81.00 62.50 72.73 72.16 0.57 9 2007 57.50 57.50 81.82 76.85 4.97 10 2008 102.00 57.25 90.91 77.07 13.83 Maks 15.58 b) Metode Distribusi Log Normal 2 Parameter Langkah perhitungan distribusi Log Normal adalah sebagai berikut di bawah ini. Tabel 4.6.a Perhitungan Metode Log Normal 2 Parameter No X Log X 1 57 1.758 2 65 1.813 3 65 1.813 4 170 2.230 5 73 1.863 6 93 1.966 7 63 1.796 8 81 1.908 9 58 1.760 10 102 2.009 R 1.892 S 0.146 Tabel IV.6.b Variabel Reduksi Gauss T 2 5 10 25 50 100 200 1000 KT 0 0.84 1.28 1.708 2.05 2.33 2.58 3.09
Image of page 7
49 Tabel 4.6.c Tabel Hasil Hujan Rancangan Metode Log Normal T (Tahun) K T S KT.S Y T Q (m 3 /dt) 2 1.892 0 0.146 0 1.892 77.914